Joe melihat penampilan Zoey yang telah siap untuk pergi keluar dari istana. Zoey tersenyum saat menuruni tangga, melihat Joe yang terpesona menatapnya dalam diam. Zoey tersenyum saat menuruni tangga, melihat Joe yang terpesona menatapnya dalam diam.
"Good morning Princess" sapa Joe membungkuk hormat pada Zoey.
"Morning Joe. Kau sudah menghabiskan sarapanmu?" Sahut Zoey melewati samping Joe, menyindirnya yang mendapat sarapan khusus dari Laura.
Joe dapat membaca cemburu yang tersirat dari kalimat Zoey, namun memilih untuk tidak menanggapinya dengan serius.
"Sudah princess. Apakah anda ingin saya siapkan sarapan?" Sahut Joe membalas dengan kalimat godaan.
Zoey tersenyum kecil membelakangi Joe, dia teringat masa lalu mereka saat pagi menjelang setelah malam pertama mereka yang panas, Joe menyiapkan sarapan baginya dan membawanya ke kamar untuk dinikmati Zoey. Joe sungguh sangat memanjakan Zoey saat mereka bersama.
"Maaf princess, apakah anda ingin sarapan atau kita pergi sekarang?" Tegur Joe saat Zoey tak juga menjawab dirinya.
Zoey tersentak, kembali dari lamunannya, jika beberapa waktu lalu semua kenangan itu membuatnya merasa sakit hati, namun kini semua kenangan itu seakan kembali indah dan ingin mengulangnya.
"Saya akan sarapan bersama Prince Leon saja, dia sedang sakit sedangkan orang tuanya sudah harus kembali ke negaranya pagi ini. Kasihan dia sendirian tak ada yang memperhatikan." Sahut Zoey sengaja memancing rasa cemburu Joe.
Joe hanya tersenyum, berjalan agak cepat untuk melewati Zoey, lalu mengacak puncak kepala Zoey saat langkah mereka sejajar.
"Saya akan mengantar anda Princess." Ucap Joe tersenyum dan tetap berjalan ke arah pintu keluar.
Zoey berhenti melangkah seketika terkejut dengan perlakuan Joe yang kembali menunjukkan kasih sayang nya. Sesaat sebelum melewati pintu keluar istana, Joe membalikkan tubuhnya menatap Zoey sambil tersenyum dan bibirnya yang mengirimkan ciuman bagi Zoey. Zoey tersenyum, wajahnya memanas, dia sadar saat ini pasti pipinya sudah merona merah karena tersipu.
Mereka pun berangkat bersama beberapa pengawal lainnya yang bertugas mengikuti perjalanan Princess. Joe yang menyetir mobil dimana Zoey berada, mereka hanya berdua di dalam mobil itu, dan pengawal lainnya mengawal dengan mobil lain di depan dan belakang mobil Princess.
"Haruskah secantik itu hanya untuk menjenguk Prince Leon yang sakit?" Tegur Joe membuka percakapan. Zoey tersenyum karena akhirnya Joe cemburu juga.
"Penampilanku hanya sederhana Joe, tak ada yang mencolok." Sahut Zoey.
"Sederhana sih, tapi saat duduk setengah paha terbuka, belahan d**a yang rendah, terlihat bagai ingin memberikan imun bagi pria yang sakit." Ucap Joe menyindir. Zoey memukul lengan Joe dari belakang dengan handbag nya membuat Joe meringis agak kesakitan.
"Kau ini...!" Ucap Zoey menggeram kesal.
" Aku tidak ingin menggoda Leon, sungguh Joe! Aku... a..aku.. hanya ingin selalu tampil cantik di matamu Joe." Lanjut ucapan Zoey dan kini terlihat menunduk malu. Joe tersenyum lebar melihat Zoey melalui spion tengah.
"Kau selalu cantik dimataku Zoey, meski hanya menggunakan baju Kumal." Sahut Joe semakin tersenyum lebar karena ucapannya semakin membuat Zoey merona malu.
Akhirnya mereka tiba di hotel dimana Leon berada. Joe tetap mengikuti Zoey hingga masuk ke dalam lift. Zoey tak merasa keberatan, dia ingin Joe tetap menjaganya. Joe berdiri di depan Zoey dengan tegap membelakangi Zoey.
"Ehem! Apakah ini merupakan profesionalitas kerja? Atau kau tak ingin aku berduaan saja di kamar bersama Leon?" Tegur Zoey menggoda Joe.
"Boleh dikatakan keduanya, apa kau keberatan?" Sahut Joe namun tetap menghadap ke depan.
"Joe, bisakah kau berdiri disampingku saja?" Tanya Zoey.
"Maaf tidak bisa, ini adalah pengawalan yang siaga karena kau bisa saja tertembak dari arah depan saat pintu lift terbuka, aku tak ingin kelolosan dan membuatmu dalam bahaya." Sahut Joe.
"Ya kau benar, tapi jika aku terus memandang punggung kokohmu dan b****g sexy mu itu dari belakang sini, membuatku membayangkan semua yang ada dibalik pakaian itu Joe, dan kau tahu? Itu juga bisa membunuhku! Jadi berdirilah disampingku sekarang! " Ucap Zoey memberi perintah.
Joe tersenyum lebar, mendengar bahwa Zoey masih menginginkan dirinya. Joe melangkah mundur dan berdiri di samping Zoey.
"Terima kasih Joe." Ucap Zoey dan Joe hanya tersenyum.
"Aku hanya tak ingin menjadi pembunuh princess." Sahut Joe.
Ting.
Lift akhirnya tiba di lantai tempat kamar Leon berada.
Joe berdiri di belakang Zoey dan membiarkan Zoey yang menekan bel pintu kamar itu. Pintu kamar terbuka otomatis dari dalam, karena Leon bisa membukanya dengan menggunakan remote control dari dalam kamarnya.
"Leon??? Dimana kau?" Panggil Zoey masuk ke dalam kamar hotel itu, yang berbentuk bagai apartment mewah.
"Zoey, aku di dalam kamar. Masuklah, maaf aku tak bisa bangun karena terlalu lemah." Sahut Leon dengan suara seraknya.
"Alasan klasik!" Rutuk Joe dan Zoey memberikan tatapan tajam pada Joe, Joe hanya memutar bola matanya jengah.
Zoey melangkahkan kakinya menuju kamar Leon, sedangkan Joe tetap berjaga di ruang tamu. Zoey membuka pintunya dan melihat Leon terbaring di tempat tidurnya dengan tubuh bagian atas yang tidak mengenakan pakaian dibalik selimut tebal yang hanya menutupi setengah tubuhnya kebawah.
"Leon, kenapa kau tak memakai bajumu? Itu bisa membuatmu semakin sakit Leon." Ucap Zoey lalu menuju lemari pakaian Leon dan mengambil pakaian untuk Leon pakai.
Zoey mendekati tempat tidur Leon dan membantunya duduk lalu membantu Leon memakai bajunya. Untung saja Leon mengenakan celana panjang piyama nya, jadi Zoey tidak terlalu merasa risih.
"Ouh Zoey, sudah lama tak ada yang memperhatikan aku seperti ini. Terima kasih." Ucap Leon.
"Aku akan memberitahu pihak restaurant hotel untuk menyiapkan semangkuk sup dan bubur bagimu." Ucap Zoey lalu menelepon dari telepon yang ada di atas nakas samping tempat tidur Leon.
Leon mendadak memeluk pinggang Zoey dari belakang. Zoey segera menatap keluar kamar, karena pintu kamar terbuka sehingga Joe bisa melihat ke dalam kamar. Joe langsung memberikan tatapan tajam dan kesal melihat Leon memeluk Zoey. Zoey menjadi risih dan dengan sopan melepaskan tangan Leon dari pinggangnya.
"Maaf Leon, aku harus berbicara di telepon." Ucap Zoey, namun rupanya Leon tetap tak mau melepaskan tangannya, dia kembali melingkarkan tangannya di pinggang Zoey, bahkan kini kepalanya diletakkan di atas pangkuan Zoey.
Joe semakin jengah dengan sikap Leon yang bergelayut manja pada Zoey, dan juga sikap Zoey yang tidak bisa menolak tegas perlakuan Leon. Joe segera menerobos masuk ke dalam kamar yang terbuka itu.
"Maaf princess, anda harus segera menuju ke pertemuan bilateral dengan perwakilan Scotlandia." Ucap Joe dan langsung membuat Leon terkejut, karena tak menyangka bahwa ada pengawal Zoey di dalam penthouse ini.
"s**t! Bisakah kau sopan dan mengetuk pintu sebelum masuk ke dalam kamarku?!" Kesal Leon pada Joe. Joe membungkuk sedikit memberi hormat pada Leon.
"Maaf Prince, namun sedari tadi pintu kamar ini memang tidak tertutup." Jawab Joe.
Zoey segera menggunakan kesempatan itu untuk berdiri dan menjauh dari tempat tidur Leon.
"Baiklah Leon, aku sudah memesankan makanan untukmu sepanjang hari ini, dan pelayan hotel akan mengantarkannya setiap jam makan tiba, juga dokter kerajaan akan datang untuk memeriksamu dan memberikanmu obat. Maaf, aku sangat sibuk hari ini jadi tidak bisa menemanimu. Semoga kau lekas sembuh Leon. Aku pergi dulu." Ucap Zoey segera melangkah keluar sebelum Leon merespon apapun.
Joe tersenyum lebar dengan keputusan Zoey segera meninggalkan tempat Leon itu.
"Terima kasih." Ucap Joe saat mereka sudah berada di dalam lift lagi.
"Aku yang berterima kasih, kau selalu bisa menyelamatkan aku dari situasi yang tidak mengenakkan. Entahlah kapan dia akan kembali ke negaranya, padahal dia tak ada kegiatan apapun disini." Ucap Zoey dengan keluhannya.
"Kegiatannya disini adalah mendekatimu dan mendapatkan hatimu Zoey, jadi dia tak akan pulang sebelum mendapatkan dirimu." Sahut Joe.
"Kalau begitu brarti selamanya dia tidak akan kembali ke negaranya, karena kau tahu sendiri siapa pemilik hatiku ini." Ucap Zoey sambil menoleh ke samping menatap Joe.
Joe juga menoleh ke arah Zoey dan tersenyum lebar.
"Kalau begitu sebaiknya ada rencana untuk melakukan pengusiran terhadapnya." Sahut Joe dan Zoey tersenyum lebar juga mendengar ucapan Joe.
"Kau terlalu protective padaku Joe. Aku tak akan pernah mencintainya meski dia berlama-lama disini." Ucap Zoey.
"Aku jadi ingin memelukmu saat ini Zoey." Ucap Joe.
Ting.
Pintu lift terbuka saat sudah di lantai lobby.
"Kau belum beruntung saat ini Joe." Ucap Zoey sebelum melangkah keluar dari lift sambil mengerlingkan sebelah matanya menggoda Joe.
Mereka berjalan sambil tersenyum lebar, meski tidak melangkah sejajar, Zoey berada di depan dan Joe berada di belakangnya. Pengawal yang lain telah bersiap di depan Zoey dan beberapa segera menyusul di belakang Joe.
Saat di dalam mobil menuju ke istana.
"Joe, aku ingin mengunjungi kediaman Uncle Zordan, aku ingin bertemu Thomas dan menanyakan kabar Zara, semalam dia sudah berhasil ditemukan oleh Thomas.." Ucap Zoey.
"Baiklah, aku akan mengantarmu kesana. Berbicara tentang Zara, sebenarnya aku ingin memberi sebuah ide." Ucap Joe sambil tetap fokus pada setirnya.
"Ide apa itu Joe? Katakan siapa tahu aku bisa mengusulkannya pada keluarga." Sahut Zoey.
"Aku memiliki sebuah tempat yang tenang dan nyaman, di dalam sebuah desa diatas pegunungan. Di rumah itu sudah seringkali di pakai oleh orang-orang untuk menyembuhkan keluarga mereka yang kecanduan maupun mengalami trauma yang dalam. Anak pamanku yang menempati rumah itu memiliki suatu kelebihan bisa merawat mereka." Ucap Joe.
"Kau tak pernah menceritakan hal ini padaku sebelumnya Joe." Ucap Zoey.
"Bukan tidak pernah, tapi belum Zoey. Kau bahkan mengenal orang itu. Cleo. Apa kau ingat?" Sahut Joe.
"Cleo si gadis berkacamata mirip dengan si Betty yang culun dalam cerita drama itu?!" Tanya Zoey. Joe mengangguk membenarkan tebakan Zoey.
"Ya, dia adalah anak pamanku, maka dari itu sejak sekolah dulu aku selalu melindunginya. Dia menyadari kemampuannya itu sekitar 10 tahun yang lalu, jadi aku belum menceritakannya padamu." Sahut Joe.
"Bagaimana jika aku mengajak Thomas dan Zara untuk melihat tempat itu dulu? Apakah tempatnya sangat jauh?" Tanya Zoey.
"Sekitar 18jam perjalanan darat, tapi kita bisa menggunakan pesawat kecil untuk kesana dan hanya butuh waktu sekitar 5 jam." Jawab Joe.
"Baiklah, aku akan memberitahu Thomas saat tiba di rumahnya nanti. Terima kasih Joe, kau sudah ikut memikirkan keluargaku." Ucap Zoey dan Joe tersenyum lebar melalui spion tengah melihat ke belakang.
"Joe..." Panggil Zoey namun tidak melanjutkan kalimatnya. Joe melihat ke belakang lewat spion tengah.
"Kenapa diam Zoey? Ada apa?" Tanya Joe. Zoey menundukkan kepalanya tak berani menatap Joe.
"Kemana kau menghilang selama 15 tahun ini Joe? Apa yang kau lakukan?" Tanya Zoey menunduk sambil memainkan jari jemarinya tak berani menatap Joe. Joe membuang napas panjang.
"Percaya atau tidak, setiap yang kulakukan selama ini langkahku selalu menuju padamu Zoey." Jawab Joe.
"Apa kau pernah memiliki kekasih selama 15 tahun ini Joe?" Tanya Zoey lagi.
Joe menghentikan mobilnya di tepi jalan, lalu menoleh ke belakang. Zoey mengangkat kepalanya bingung karena mobilnya berhenti, lalu melihat ke arah Joe.
"Aku tak pernah mampu berpaling dari kenangan kita Zoey, menurutmu apakah aku mampu menjalin hubungan dengan wanita lain?" Sahut Joe balik bertanya.
"Lalu bagaimana dengan kebutuhanmu akan s*x?" Tanya Zoey lagi.
"Bagaimana dengan kebutuhan s*x mu Zoey? Kau jelas beberapa kali menjalin hubungan dengan pria lain meski dalam hitungan hari." Joe balik bertanya.