Kendra merasa pikirannya berkecamuk setelah mendengar kabar dari Kasandra. Tanpa berpikir panjang, ia segera berjalan keluar dari apartemen dengan langkah cepat, sementara Kasandra tergesa-gesa mengikutinya dari belakang. "Kendra, kamu mau kemana?" tanya Kasandra, suaranya penuh kekhawatiran saat dia berlari kecil untuk menyusul adiknya.
Kendra tidak menghentikan langkahnya. Dengan perasaan marah yang semakin membara, dia menjawab, "Aku akan membuat perhitungan dengan Farhan. Aku tidak terima kalau kakakku harus dibuat menderita seperti ini!"
Kasandra, yang merasa situasinya semakin tidak terkendali, mencoba menghentikan Kendra. "Itu sia-sia, Kendra. Farhan adalah pria yang teguh pendirian. Dia tidak akan mengubah keputusannya hanya karena kamu marah."
Kendra akhirnya berhenti, berbalik untuk menatap kakaknya. Matanya penuh dengan kemarahan dan rasa sakit. "Dia tidak boleh menikahi Alea, apalagi menduakanmu," katanya dengan tegas.
Kasandra menatap Kendra dengan kebingungan. "Kenapa kamu begitu tidak terima, Kendra? Kamu sendiri yang menolak bertanggung jawab atas Alea, dan sekarang Farhan mengambil alih tanggung jawab itu."
Kendra menjawab dengan nada yang penuh emosi, "Aku tidak terima kalau kamu harus diduakan. Farhan tidak boleh melukaimu seperti ini."
Kasandra menarik napas dalam-dalam sebelum menjawab dengan tenang, meskipun hatinya juga terluka. "Lalu bagaimana dengan Alea, Kendra? Gadis yang tidak bersalah dan yang kamu... perkosa, harus menanggung semuanya sendirian? Kamu tidak mau bertanggung jawab, dan sekarang Farhan yang menggantikanmu."
Kendra menatap tajam pada Kasandra, matanya memancarkan kemarahan yang belum mereda. "Dia bukan anakku!" teriaknya, seolah mencoba meyakinkan dirinya sendiri lebih dari siapa pun.
Kasandra tetap tenang, menatap Kendra dengan tatapan penuh penilaian. "Kenapa kamu begitu yakin?"
Kendra merespon dengan nada sarkastis, "Karena dia bisa saja menjual dirinya pada pria lain, Kak. Dia mungkin saja menipu kita semua."
Kasandra menatap adiknya dengan tatapan tajam, tidak percaya dengan apa yang baru saja didengarnya. "Apa Alea sudah tidak perawan saat kamu... melakukannya? Kamu memberinya uang satu miliar karena dia masih perawan, bukan?"
Mendengar kata-kata Kasandra, Kendra tiba-tiba terdiam. Ia tidak bisa menjawab apa-apa. Kata-kata Kasandra itu seperti tombak yang menusuk langsung ke hatinya, menghancurkan semua alasan yang telah ia bangun untuk menyangkal kenyataan.
Kasandra melanjutkan, menekan lebih jauh, "Kenapa kamu tidak bisa menerima fakta bahwa Alea pasti hamil anakmu? Kami mengenal Alea dengan sangat baik, Kendra. Dia bukan tipe wanita yang melakukan hal-hal hina seperti yang kamu tuduhkan. Kenapa kamu begitu keras kepala untuk tidak melihat kebenaran?"
Kendra hanya bisa diam, tidak menjawab ucapan dari Kasandra. Di dalam hatinya, ia merasa terguncang oleh kebenaran yang diungkapkan kakaknya. Ia merasa terpojok, tidak bisa menyangkal kenyataan yang kini mulai terlihat jelas di hadapannya.
Dengan wajah yang merah padam karena marah dan frustrasi, Kendra melangkah masuk ke dalam lift, tidak lagi berkata apa-apa. Kasandra bergegas mengikutinya, masih belum mau menyerah. "Kendra, apa yang kamu pikirkan sekarang?" tanyanya, berharap Kendra akan mengatakan sesuatu yang masuk akal.
Kendra, yang masih merasa terluka oleh apa yang terjadi, akhirnya menjawab, "Aku akan membuat perhitungan dengan Alea dan Farhan. Mereka berniat menyakitimu, dan aku tidak akan membiarkan itu terjadi."
***
Kendra mengendarai mobilnya dengan ugal-ugalan, menuju rumah Farhan dengan perasaan marah yang membara. Di dalam hatinya, ia merasa dikhianati, tidak hanya oleh Farhan tetapi oleh keadaan yang terasa semakin memburuk saja setiap harinya.
Sesampainya di rumah Farhan, Kendra melihat beberapa orang sedang sibuk menata dekorasi untuk acara yang akan diadakan. Pemandangan itu membuat emosi Kendra semakin tersulut.
"Farhan sialan itu sudah menyiapkan semuanya!" gumam Kendra dengan marah, mengepalkan tangannya.
Kasandra, yang duduk di sampingnya, mencoba menenangkan adiknya. "Kendra, jangan membuat keributan. Kita bisa bicarakan ini baik-baik."
Namun, Kendra yang sudah terlanjur dikuasai emosi langsung membentak Kasandra. "Diam, Kak!" teriaknya, membuat Kasandra terkejut dan terdiam. Kendra kemudian keluar dari mobilnya dengan langkah cepat menuju rumah, penuh dengan kemarahan yang siap meledak kapan saja.
Kendra masuk ke dalam rumah dan langsung berteriak memanggil nama kakak iparnya. "Kak Farhan! Keluar!" serunya dengan suara penuh amarah. Ia segera bertanya pada salah seorang asisten rumah tangga, memerintahkannya dengan nada kasar, "Cepat panggil Farhan!"
Tidak lama kemudian, Farhan muncul dari ruang kerja di lantai atas, turun melalui tangga bersama Alea. Melihat mereka berdua, kemarahan Kendra mencapai puncaknya. Tanpa banyak bicara, Kendra langsung melayangkan pukulan ke wajah Farhan, membuatnya terhuyung ke belakang.
"Kurang ajar kamu, Kak! Bisa-bisanya kamu melakukan ini pada Kakakku!" teriak Kendra, matanya penuh dengan kemarahan.
Farhan mengusap bibirnya yang berdarah akibat pukulan itu, lalu menatap Kendra dengan bingung. "Ada apa sebenarnya, Kendra?" tanyanya, meskipun jelas ia sudah tahu alasan di balik kemarahan adiknya.
Kendra tidak meredakan amarahnya. "Jangan pura-pura bodoh, Kak! Kamu tahu apa yang membuatku sangat marah!"
Kasandra, segera berjalan dan berdiri di samping Kendra, mencoba menenangkan adiknya yang sedang murka. "Kendra, kita bisa bicarakan ini baik-baik," katanya dengan nada lembut.
Namun, Kendra kembali membentak Kasandra. "Tidak semua masalah bisa diselesaikan dengan bicara, Kak!" ujarnya, jelas tidak mau mendengarkan.
Kasandra tetap mencoba membujuk adiknya. "Tidak semua harus diselesaikan dengan kemarahan, Kendra. Ada hal-hal yang bisa kita selesaikan dengan kepala dingin."
Tapi Kendra tidak mau tahu. "Aku tidak terima kalau Kak Farhan harus menikahi Alea!" serunya, suaranya penuh dengan kebencian dan frustrasi.
Mendengar kata-kata itu, Alea terkejut. "Ada apa sebenarnya?" tanyanya, tetapi sebelum ia sempat berkata lebih banyak, Kasandra menatapnya dengan mata melotot dan memberikan isyarat tegas agar Alea diam.
Farhan akhirnya angkat bicara, menatap Kendra dengan tegas. "Kendra, jika kamu tidak mau bertanggung jawab, kenapa kamu juga marah kalau aku yang menikahinya?"
Kendra terdiam sejenak, tidak tahu harus berkata apa. Namun, sebelum ia sempat menjawab, Farhan melanjutkan, "Kamu tidak percaya dengan Alea, kamu pikir anak itu bukan anakmu. Tapi kami percaya bahwa kamu yang menghamilinya. Kami tidak akan memaksamu menikahinya, Kendra, karena itulah aku yang akan bertanggung jawab."
Kendra mendengar kata-kata Farhan dengan hati yang semakin panas. "Kamu tidak boleh melakukan itu, Kak!" teriaknya, menolak keras.
Farhan menatap Kendra dengan tatapan penuh kebingungan. "Kenapa tidak? Apa alasanmu?"
Kendra menarik napas dalam-dalam, lalu dengan suara yang lebih tenang namun penuh tekad, ia berkata, "Karena... karena aku yang akan menikahinya."
Ruangan itu langsung dipenuhi keheningan yang mencekam. Kasandra, Farhan, dan Alea menatap Kendra dengan berbagai macam emosi yang bercampur—kebingungan, keterkejutan, dan bahkan sedikit keraguan. Kendra, yang biasanya begitu yakin dan arogan, kini tampak benar-benar serius dengan keputusannya.
Alea yang masih terkejut, hanya bisa berdiri terpaku, tidak tahu harus merespons bagaimana. Farhan, di sisi lain, menatap adiknya dengan tatapan yang sulit diartikan. "Kendra, apa kamu benar-benar yakin dengan apa yang baru saja kamu katakan?" tanyanya pelan, berusaha memastikan bahwa Kendra tidak sedang berbicara dalam kemarahan.
Kendra mengangguk dengan tegas, meskipun dalam hatinya, ia merasa ketakutan dan tidak yakin dengan apa yang akan terjadi selanjutnya. "Ya, aku yakin. Aku yang akan menikahi Alea, dan aku akan bertanggung jawab atas semuanya."
"Bagus! Ayo menikah sekarang!" kata Kasandra dengan berteriak senang.