Bab 20. Talenta Yang Tersisa

1115 Kata

"Akhirnya mama sayang datang juga," ujar Jisan tertawa sumbringah dari jendela mobil. Ternyata Jisan terlalu capek hingga jendela kamarnya beberapa kali digedor baru dia rasa. "Selamat pagi dokter muda sayang," jawabku juga tertawa sumbringah. Aku dibopong ke kursi oleh Jose, Dio, bantal dibawa oleh Yeti, Jisan membawa tas. Ruang tamu kini mulai terisi barang-barang milik kami. "Agnes mana, San?. Kok dari tadi mama nggak lihat," "Dia masih tidur. Dia lama baru bobo, kerja tugas katanya, Ma," Aku memindai rumah yang dicicil anakku secara patungan. Mada, Tamar, dan Berdi secara rutin membayar cicilannya tiap bulan. Hasil keringat mereka sudah dinikmati Jisan dan Agnes. Perumahan yang dibangun dengan gaya minimalis. Terasnya ditanami rumput halus. "Weeh, Ma ... mana dodol dan bajeknya."

Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN