Lembar Ke-sembilan

2587 Kata

Plaak. Kean hanya bisa memejam, menikmati ngilu yang menjalar setelah tangan dingin oma kembali menamparnya untuk yang ke sekian. Kedua tangannya terkepal kuat namun bibirnya sengaja ia kunci rapat-rapat. Tak ada kata yang ia keluarkan, bahkan saat tangan wanita itu berkali-kali menghantamnya, lalu kalimat makian dari mulut oma terlontar. Dia tidak menghindar saat telunjuk oma mendorong keningnya hingga tubuhnya terhuyung ke belakang, tidak menyangkal saat wanita itu menuding dirinya sebagai penyebab utama kekacauan yang terjadi sekarang. Kean sama sekali tidak bersuara bahkan setelah berkali-kali pekikan oma membelah sunyinya malam. Dia hanya diam dan membiarkan oma menumpahkan amarahnya, mati-matian menahan laju air mata saat melihat wanita itu menangis seolah dia telah kehilangan sesu

Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN