Ais menarik napas dalam-dalam. Tatapannya mengarah ke atas, menatap kosong langit-langit ruangannya yang berwarna putih bersih.
Alasan dia akhirnya berubah pikiran dan mau menikah dengan Sheril adalah;
Abati menjanjikan memberikan jabatannya kepadanya. Itu artinya dia memiliki uang untuk mensejahterakan kehidupan Dara.
Alasan yang kedua, Umi sangat menyayangi Sheril. Anggap saja menikah dengan Sheril adalah salah satu bentuk baktinya kepada Umi.
Lalu alasan ketiga, Ais tidak mau mengecewakan banyak hati. Biarlah dia berkorban asal keluarganya bahagia, asal Om Sean dan Tante April bahagia. Bahkan untuk saat ini Ais masih belum tahu apakah esok dia bisa jatuh cinta kepada Sheril seperti kata kebanyakan orang tentang cinta datang karena terbiasa.
Ais merubah posisinya ke samping. Ia menyentuh rambut hitam Sheril yang sudah tertidur pulas. Merabanya secara perlahan. Merasakan gesekan satu per satu sulur rambutnya dengan kulit jarinya.
“Sebenernya lo lagi dalam posisi bingung Bang sama perasaan diri lo sendiri.”
“Maaf, ya, Sheril. Maaf karena tadi sore kamu harus dengar kata-kata yang menyakitkan dari aku. Aku memang belum cinta sama kamu, aku juga nggak pernah berniat buat nyakitin hati kamu. Jadi, aku mohon tolong beri aku waktu.”
Kali ini Ais sadar bahwa dia harus tegas dengan perasaannya.
Maka besok dia akan datang menemui Dara untuk menarik kembali ucapannya waktu itu.
Memutuskan segala hal tentangnya.
Namun pertanyaannya... apakah dia bisa melakukan itu semua?
***
Sudah hari ke lima Sheril resmi menjadi seorang istri. Meskipun begitu keadaannya tetap sama. Tidak ada kemesraan, tidak ada perhatian yang suaminya curahkan untuknya.
Kalau dipikir-pikir lagi, hubungan mereka malahan terasa seperti teman yang tinggal di bawah atap yang sama.
Parahnya lagi, sampai sekarang mereka belum melakukan hubungan suami istri!
Sheril tersenyum getir. Sebenarnya apa yang dia harapkan? Tidak mungkin juga, kan, suaminya yang sedingin es itu tiba-tiba berubah menjadi romantis padahal ia tahu kalau diam-diam Mas Ais memiliki wanita lain selain dirinya.
Suasana hati Sheril semakin buruk. Ia memotong daging di atas piring dengan geram, denting pisau yang bergesekan dengan piring menyita perhatian Ais yang juga sedang makan di depannya.
“Kenapa?” tanya Ais melihat keanehan Sheril barusan.
“Nggak pa-pa!”
“Oh.” Begitulah respon Ais. Acuh tak acuh. Tentu saja Sheril sudah menduganya.
“Mas....”
“Hmm?”
Sheril mencoba mengumpulkan keberaniannya untuk bertanya.
“Kamu ngerasa nggak, sih, Mas kalau ada yang salah sama hubungan kita?”
Tiba-tiba Mas Ais menghentikan gerakan mengunyahnya.
“Maksudnya?”
Menghela napas. Sheril tahu kalau suaminya pasti mengerti maksud dari ucapannya barusan, hanya saja dia berpura-pura tidak tahu.
“Jujur aja, Mas. Kamu punya cewek lain, kan, selain aku?”
Sheril mendengus. Tidak mungkin juga, kan, dia harus blak-blakan mengatakan hal itu kepada suaminya?!
“Udah lupain. Mungkin cuma perasaanku aja.”
“Oke.”
Setelah itu suasana kembali lengang. Sheril semakin kesal, ia menahan diri supaya tidak meledak-ledak.
“Kamu kalau ada yang mau diomongin tinggal ngomong aja. Aku bukan dukun yang bisa nebak-nebak isi kepala kamu, Sherl,” ucap Ais saksama. Tangannya terulur mengambil lauk lain yang tersaji di meja makan.
Dasar manusia tidak peka di dunia!
“Kenapa sampai sekarang kita belum ngelakuin malam pertama?! Apa aku sama sekali nggak menarik di mata kamu?!”
Sheril sudah hilang akal. Dia ingin mendengar jawaban apa yang suaminya akan berikan kepadanya.
“Maksudnya?”
“Atau mungkin kamu ada cewek lain Mas, selain aku?!” tambah Sheril lagi, semakin menyudutkan Ais.
Ais meletakkan sendok dan garpunya di sisi kanan kiri piring.
“Kamu kenapa, sih, pagi-pagi udah ngajak berantem?”
“Kenapa? Apa saat ini kamu lagi ngehindarin pertanyaan aku? Kalau kamu nggak salah pasti kamu bisa jelasin semuanya ke aku, kan?”
Sheril harus mengakui bahwa pria di depannya ini pandai sekali menyembunyikan ekspresinya. Tapi insting wanita sangat tajam, tadi Sheril dapat melihat wajah cemas suaminya meski sekelebat.
“Alasan soal kenapa kita belum ngelakuin malam pertama karena aku belum siap dengan ini semua. Kita menikah karena dijodohkan. Dan juga, sebelumnya kita nggak pernah deket kecuali waktu kita masih kecil.”
Tentu saja Sheril tahu itu semua hanya omong kosong belaka! Ingin rasanya Sheril mengungkit tentang hubungan Dara dengan suaminya tapi sebisa mungkin Sheril menahannya karena dia tidak ingin memperkeruh suasana.
“Sheril... Tolong kasih aku waktu buat menyesuaikan diri dengan ini semua, ya?”
Sheril membuang muka. Bahkan bisa-bisanya Mas Ais sampai memohon seperti itu untuk menenangkannya.
Sheril mencoba bersabar. Batinnya berbisik lirih, ‘Pikirkan soal orang tua kamu, Sheril.”
“Iya.” Sheril mengangguk, hari ini belum saatnya untuk mengakhiri ini semuanya.
“Oh, iya. Kalau nggak salah kata Umi Minggu depan kita Honeymoon, kan?”
“Kenapa emangnya?”
Mereka memang mengambil libur pernikahan sekitar dua minggu.
“Em... kalau seumpama honeymoon-nya kita tunda dulu gimana?”
Sheril terkejut. Apa maksud Mas Ais barusan? Kenapa tiba-tiba honeymoon mereka ditunda?
“Ya, nggak bisa kayak gitu, dong, Mas!”
Jelas saja Sheril marah. Dia sangat senang saat mengetahui mereka akan menghabiskan honeymoon mereka di Pulau Dewata Bali. Bahkan Sheril sudah membeli topi pantai, bikini beberapa pasang, tiket penerbangan mereka pun juga sudah dibeli tapi suaminya malahan memintanya untuk membatalkan secara dadakan seperti ini!
Kalau Mas Ais tidak suka dengannya. Setidaknya jangan rampas kebahagiaan kecilnya, bukan?
“Please, Sheril. Sebenernya minggu depan aku udah mulai masuk kerja. Aku tahu, Abati memang ngebolehin aku buat ambil libur sesukaku. Tapi, ini pertama kalinya aku bekerja di bagian penting yang Abati amanahi sama aku. Aku pengin ngelakuin yang terbaik buat Abati dan perusahaan.”
Sheril masih terdiam, bibir bagian bawahnya gemetar.
“Tapi, kan, kita udah pesen tiket!”
Ah, Ais melupakan bagian itu.
“Gimana kalau nggak kamu liburan aja sama temenmu?”
Sheril semakin kesal dengan jawaban suaminya barusan. Tapi dia tidak bisa berbuat apa-apa.
“Hei...” Ais memegang tangan Sheril. Lalu mengusapnya perlahan.
“Aku tahu kamu marah. Tapi tolong, ya, ngertiin suamimu.”
Semarah-marahnya Sheril. Dia tidak akan tega jika suaminya sudah memohon seperti itu.
“Iya,” jawab Sheril sekenanya.
Ais tersenyum. “Makasih.”
Rasanya Sheril ingin menarik ucapannya dahulu. Ternyata memiliki pasangan cuek itu tidak ada enak-enaknya sama sekali.
“Oh, iya. Habis ini aku mau pergi bentar.”
“Ke mana?”
“Ada hal yang harus aku selesaiin. Kalau ada apa-apa, telepon aku aja. Atau kalau nggak suruh Bibi ke sini.”
Memang sebulan menikah Mamanya menyuruh pembantu mereka untuk lebih banyak menghabiskan waktu di belakang. Katanya, sih, supaya tidak menganggu pengantin baru bermesraan. Padahal kenyataannya mereka tidak ada mesra-mesranya sama sekali.
“Oke, hati-hati di jalan.”
Ais mengangguk. Untuk satu hal Ais tidak menjawab pertanyaan Sheril barusan karena dia hendak pergi ke rumah Dara.
Ais rasa, semakin cepat dia memutuskan Dara maka semakin bagus.
***
Sesampainya di tempat tujuan, Ais menepikan mobilnya di salah satu rumah berpagar hijau limau.
Ia berjalan pelan, tangannya menggenggam erat kantung plastik dengan logo salah satu apotek dua puluh empat jam dekat sini dan satu lagi plastik berukuran sedang.
Samar-samar, Ais mendengar suara batuk dari dalam rumah, jadi ia mempercepat langkah kakinya untuk segera memeriksa apa yang terjadi.
Mungkin saking seringnya Ais datang ke mari sampai-sampai ia tidak perlu lagi berbasa-basi mengucap salam. Ia langsung menerobos masuk ke dalam.
Di ruang tengah, Dara terlihat sedang duduk di karpet. Tangan kanannya menutup mulutnya sendiri menahan batuk.
“Dara, kamu nggak pa-pa?!” Ais menghampiri mantan kekasihnya itu. Ia panik harus berbuat apa karena Dara masih saja terbatuk dan terlihat sangat kesakitan.
“Hei... kamu nggak pa-pa, kan?” ulang Ais lagi.
Ais berinisiatif mengambilkan air putih supaya batuk Dara reda.
Setelah kondisinya agak membaik, Ais membantu Dara untuk bersandar di sova.
Dara mengatakan ia baik-baik saja dan tidak perlu khawatir, itu hanya batuk seperti biasanya namun tetap saja Ais tidak percaya. Bahkan saat ini Dara masih memegangi dadanya, seperti sedang sesak napas.
“Aku pikir kamu nggak bakal dateng.”
“Aku dateng, kok. Kan, aku udah janji. Ya... meskipun agak telat, sih,” ucap Ais canggung. Padahal waktu itu Ais mengatakan dia akan datang ke rumah Dara setelah hari pernikahan tapi ternyata dia baru bisa datang seminggu setelahnya.
Dalam hati Dara merasa senang, Ais sudah menikah tetapi ia masih menyempatkan diri untuk datang ke rumahnya. Bukankah itu artinya Ais belum bisa melupakannya?
“Kamu bawa apa?” tanya Dara mengedikkan dagunya ke arah dua kantung plastik yang tadi dibawa oleh Ais.
“Ini obat.” Ais mengeluarkan isi kantung plastik yang berukuran kecil, lalu memberikanya kepada Dara. “Aku tahu salah satu kebiasaan burukmu itu nggak pernah nyetok obat di rumah. Jadi waktu perjalanan ke sini aku sengaja mampir sebentar ke apotek.”
“Makasih.”
“Terus aku juga beli buah buat kamu.” Diulurkannya plastik ke dua yang berukuran sedang berisi buah-buahan segar.
Dara menautkan jemarinya pada tangan Ais. Bagaimana bisa ia melepaskan pria penuh perhatian ini kepada wanita lain?
Dara tidak akan rela. Tidak peduli apa kata orang, Dara tidak mau mengakhiri hubungannya dengan Ais.
Meskipun ia tahu... kini kekasihnya adalah suami orang lain.
Ais mengedarkan pandangannya ke sekitar. Rumah kontrakan yang sudah Dara tempati sejak masih kuliah tidak berubah sama sekali. Jauh dari kemewahan, ukurannya sendiri tidak terlalu luas. Beberapa bagian dindingnya keropos, lapuk termakan usia. Lantainya pun juga tidak seputih lantai di rumah Ais.
“Nggak bocor, kan?” gumam Ais.
“Nggak, kok.”
Ais mengerjab dalam diam. Sejak dulu dia ingin memberikan yang terbaik untuk Dara. Misalnya memberikannya tempat tinggal yang layak serta membiayai pengobatan Dara.
Dara tinggal sendirian di rumah ini tanpa keluarga. Sebenarnya ia perantau dari kota seberang dan memutuskan menetap di kota ini—atau lebih tepatnya Dara tidak mau kembali ke kota asalnya meskipun dia sudah lulus kuliah.
Dulu Dara pernah bercerita kepadanya kalau dia benci kehidupan di tempat asalnya. Sama sekali tidak ada kenangan baik di sana.
Orang tua Dara bercerai sejak dia masih SMA. Papanya masuk ke penjara atas kasus pengedaran narkoba. Lalu ibunya sendiri hidup carut marut dan menjadi wanita malam.
Terakhir kali Dara mendengar kabar bahwa ibunya menikah lagi dengan duda kaya raya dan menyuruh Dara pulang untuk tinggal bersama tapi Dara tidak mau. Lebih baik dia mati sendirian di sini.
Dara menyandarkan kepalanya di bahu Ais. menikmati kebersamaan mereka sebanyak mungkin karena dia tahu kalau kini mereka tidak bisa leluasa bermesraan lagi seperti sebelumnya.
“Menurut kamu... Salah nggak, sih, kalau aku benci banget sama cewek itu?”
Ais mengernyitkan dahi. “Maksud kamu?”
Dara menarik garis senyum. Jenis senyuman getir. “Dibanding benci. Mungkin aku lebih ngerasa iri ke dia.”
“Kenapa kamu bisa mikir kayak gitu?”
“Dia cantik, dia kaya, dia juga punya keluarga yang sayang sama dia. Sedangkan aku? Aku nggak punya apa-apa, penyakitan, terus nggak punya orang tua yang sayang ak—”
“Kamu ngomong apa, sih!” potong Ais. Dia tidak suka mendengar Dara berbicara seperti itu.
“Aku cuma punya kamu. Tapi tiba-tiba dia ngambil kamu dari aku. Apa itu nggak serakah?”
Ais hanya menghela napas. Lelah. Ia tahu pasti selama ini Dara mengalami kesulitan. Jadi daripada mendebat ucapan Dara, maka Ais lebih memilih mengalihkan topik pembicaraan mereka.
“Mulai besok aku kerja dan mimpin perusahaan Abati.”
Dara mendongak, ikut tersenyum melihat kekasihnya tersenyum. “Selamat! Aku ikut seneng dengernya.”
“Dara... Gimana kalau kamu pindah dari sini? Ke tempat yang nyaman?”
Dara mengernyit. Ia menegakkan tubuhnya yang semula bersandar pada Ais.
Ais melanjutkan kembali ucapannya, “Aku beliin apartment, ya, buat kamu?”
Sontak mata Dara membola. Ia terkejut dengan apa yang barusan Ais ucapkan.
Ais pasti sedang bercanda bukan?
“A-apartment?”
Ais mengangguk. “Iya. Gimana menurut kamu?”
Dibanding senang, perasaan Dara saat ini lebih ke merasa bingung.
“Emang kamu punya uang buat beli apartment?” tanyanya polos.
“Kan, aku sekarang udah jadi CEO. Jadi aku punya banyak uang.
Dara terkekeh, tangannya memukul pelan lengan Ais yang terlihat sok keren.
“Terus nanti kita kemoterapi, ya? Kamu mau, kan?”
Ais mengusap pipi Dara. Sejak dulu memang Ais ingin membawa Dara ke rumah sakit yang paling bagus dengan peralatan medis yang memadahi. Tapi kendala utamanya adalah satu hal, yaitu keterbatasan dana.
Sekarang Ais sudah memiliki semuanya. Jadi dia akan memberikan yang terbaik untuk Dara.
Tetapi Dara menggeleng. “Nggak, ah. Bagi aku rumah ini udah cukup. Terus... kalau kamu ada di sisiku pasti aku bakalan cepet sembuh, kok. Jadi kamu jangan khawatir.”
Ais terdiam. Hatinya bergemuruh.
‘Kalau kamu ada di sisiku pasti aku bakalan cepet sembuh, kok.’
Jelas saja Ais tidak dapat menyanggupi hal terakhir itu. Bahkan bukannya tujuan awal dia datang ke sini adalah untuk memutuskan Dara?
“Da-Dara... ada hal yang harus aku bicarakan ke kamu.”
Ais menatap Dara—wanita yang dicintainya selama lima tahun belakangan ini lamat-lamat agar kelak ketika mereka berpisah Ais dapat menyimpan raut Dara di dalam kenangannya.
“Apa?” Mata Dara sayu, bibirnya pucat, tulang lehernya terlihat menonjol karena terlalu kurus.
Mana tega Ais memutuskan Dara yang sedang sakit seperti ini?
“Dara, sebenernya aku....”
Feeling Dara merasa tidak enak. Dia seperti dapat menebak apa yang hendak Ais ucapkan kepadanya.
Pasti kata perpisahan.
“Em... aku tadi lupa nggak ngambilin kamu minuman.” Dara mencoba mengalihkan perhatian supaya Ais tidak mengucapkan ‘hal itu’ kepadanya. Ia berdiri meskipun agak sempoyongan. Lalu Dara berjalan menuju kulkas mini yang berada di dapur.
Tentu hal itu menyulitkan Ais.
“Dara....”
“Kamu mau minum apa?” Dara mengabaikan ucapan Ais.
Tanpa Ais ketahui, tangan Dara mengepal erat ketika hendak mengambil buah jeruk di depannya.
Tidak! Dia tidak mau putus dengan Ais!
“Aku nggak mau minum.” Ais menghampiri Dara, lalu ia menarik lengan Dara sehingga kini posisi mereka berhadapan.
Ais mengumpulkan segenap niatnya yang tadi hampir memudar. “Dan mungkin aku nggak bakal ke sini lagi.”
Ya, inilah yang seharusnya ia lakukan. Semoga Dara dapat mengerti keputusannya.
“Maksud kamu?” Mata Dara memanas. Bibirnya gemetar menahan tangis.
“Maaf aku nggak bisa nepatin ucapanku waktu itu. Aku... aku nggak tega nyakitin dia.”
“Nggak! Aku nggak mau putus sama kamu!” Dara menggeleng kuat. “Gimana kalau kita pacaran diem-diem di belakang dia? Dia nggak bakalan tahu, kok.”
Ais mengernyitkan dahi. Pacaran diem-diem?
Hah, mana mungkin dia bisa melakukan hal itu. Sepandai-pandainya Ais menyembunyikan kebohongan, pasti suatu saat Sheril akan mengetahuinya juga. Itu semua hanya tentang bom waktu yang bisa meledak kapan saja.
Secinta-cintanya dia dengan Dara, Ais tahu hubungan gelap adalah sesuatu yang salah.
“Aku nggak peduli kamu udah nikah atau enggak. Aku tetep nggak mau putus!” Dara mulai terisak.
Dan inilah yang Ais tidak sukai, yakni melihat Dara menangis.
Ais memegang erat pundak Dara. Mencoba menguatkan padahal dia sama hancurnya seperti Dara. “Aku yakin meskipun awalnya sulit. Kamu bakalan terbiasa dengan ini semua.”
“Aku nggak mau! Jangan tinggalin aku!”
Dara memeluk erat Ais. Ia menangis, menumpahkan semua kesedihannya di sana.
Tangan Ais bergerak ragu, mengusap perlahan punggung Dara.
“Kenapa kamu ngelakuin ini ke aku, hiks.”
“Dara....”
Baiklah, mungkin ini adalah pelukan terakhir mereka jadi Ais membiarkan Dara menangis sepuasnya dipelukannya.
***
“Aku nggak mau kita putus.” Suara Dara terdengar serak, bercampur dengan sesenggukan. Kini dia sudah agak tenang.
“Tolong jangan tinggalin aku, Ais. Aku mohon....” Mata Dara berkaca-kaca. Mencoba membuat Ais simpati kepadanya.
“Aku nggak ninggalin kamu.” Ais mengusap air mata Dara.
“Kamu janji? Janji?” tanya Dara penuh harap.
Ais tidak mau menjawab karena dia tahu dia tidak akan bisa menyanggupi.
“Kita masih bisa berteman. Tapi kita nggak bisa deket lagi kayak dulu karena sekarang ada hati yang harus aku jaga.”
Dara menggigit bibir bawahnya. Mana bisa seperti itu!
“Tolong ngertiin keputusanku. Ini demi kebaikan kita semua,” tambah Ais lagi.
“Oke. Aku ngerti kalau itu emang keputusan kamu.”
Baiklah. Dara tidak dapat berbuat apa-apa lagi. Tapi dia juga tidak mau menyerah. Ia mengusap kasar air matanya.
“Tapi, untuk terakhir kalinya boleh nggak aku minta satu hal sama kamu?” Dara menggenggam erat baju Ais.
“Please....”
Baiklah. Ais mengangguk. Sesuai ucapan Dara. Ini yang terakhir kalinya Ais menuruti keinginannya.
“Apa?”
“Aku boleh nggak kerja di tempat kamu dan jadi sekretaris pribadi kamu?”
Karena Dara tahu. Meskipun Ais sudah menjadi suami orang lain tapi Ais menghabiskan waktu lebih banyak di tempat kerja. Tidak mungkin Ais tidak jatuh cinta kepadanya jika mereka bertemu setiap hari.
Dari raut wajahnya Ais terlihat ragu. Inilah kesempatan Dara, jadi Dara menambahkan kalimat dilebihkan supaya Ais tidak tega menolak keinginannya.
“Nggak pa-pa, kok, kalau nanti di tempat kerja kamu bersikap pura-pura nggak kenal sama aku. Tapi setidaknya aku juga butuh pekerjaan, buat makan, kan?”
Selama Dara tahu kelemahan Ais. Ini semua akan mudah baginya.
“Hmm.” Ais mengangguk. Baginya itu bukan permintaan besar, padahal di baliknya ada maksud sangat mematikan.
Karena kenyataannya tidak ada yang namanya hubungan PERTEMANAN di antara lelaki dan perempuan. Pasti salah satunya menyimpan perasaan.
“Makasih.” Dara menyandarkan keningnya di d**a Ais. Seutas sunggingan senyum tipis terukir di bibirnya. Dan tentu saja hanya Dara yang tahu itu semua.