Terselamatkan

1072 Kata
Earth Jeslyn Marioline’s POV Aku menengok kearah raja Aresh yang ternyata ia sudah terpental ke arah dinding dengan keras. Suatu sihir api mengenai tubuhnya. Seorang pria telah menolongku, tetapi bahkan aku tidak mengenali siapa dia. Barack yang melihat raja Aresh diserang, tidak tinggal diam dan mengeluarkan sihirnya. Kali ini pertempuran sengit tidak bisa dihentikan. Aku masih mencoba melepaskan rantai yang mencengkram tanganku. Dengan perlahan aku berkonsentrasi dan aku berusaha melemahkan besi rantai tersebut dengan elemen apiku. Raja Ares kembali bangun dan berusaha membantu Barack melawan pria itu. Ketika aku melihat raja Aresh mulai mengeluarkan kekuatannya, dengan sigap aku mencegahnya. Aku menggunakan elemen angin dan berusaha untuk menerpanya. Aku melihat pria yang menolongku tadi mulai melemah, ketika aku berusaha untuk menolongnya, raja Aresh mengeluarkan bola api dan mengenai dadaku yang serasa terbakar. Ketika raja Aresh dan Barack mulai menyerang pria itu, datang ketiga wanita yaitu, Balerina, Yakira, dan Evelyn membantu pria itu. Mereka bertiga dan pria tersebut bermain sangat cerdik dan mulailah pertempuran yang sangat dahsyat. Tubuhku saat ini mulai kembali pulih dan ikut bertarung. Ketika kami berlima sudah benar-benar menyatukan kekuatan kami, dengan cepat raja Aresh dan Barack melarikan diri entah kemana. Yang terlihat hanya sebuah kalung yang tidak kami ketahui asal muasalnya, yang kami ketahui adalah kalung itu milik raja Aresh atau Barack. Ketika kami berempat menoleh kebelakang, bermaksud untuk berterima kasih kepada pria tadi, ternyata pria tadi telah hilang begitu saja. "Kemana pria tadi?" Tanyaku pada ketiga sahabatku. "Entahlah, sudahlah Jeslyn yang penting sekarang kau selamat." Balas Balerina. "Ya Balerina benar, lagi pula apa kau mengenali pria tadi?" Tanya Evelyn. "Aku tidak mengenalinya, tetapi aku seperti pernah melihat wajahnya. Tetapi, entah kapan dan dimana." Jelasku. "Ya baiklah, lebih baik kita kembali kesekolah, langit mulai gelap." Seru Yakira yang menyadarkan kami kalau ternyata hari mulai malam. Seperti biasa, aku, Balerina, dan Yakira kembali kesekolah. Sedangkan Evelyn, pulang kerumah pohonnya. Ketika kami sampai kesekolah, kami melihat Ny. Daiva Analise sudah berada didepan gerbang sekolah. Terpintas dipikiranku kalau ia akan memanggil orang tua kami, akan tetapi... "Hai para Nona, kemarilah." Ucapnya. "Hai Ny. Daiva, ada apa?" Sahutku. "Ah tidak ada, aku hanya ingin bertemu dengan orang tuamu Jeslyn." "Apa? Tapi ada apa?" Tanyaku. "Ada hal yang harus kubicarakan pada mereka." "Baiklah kau boleh memanggil mereka." Ny. Daiva hanya mengangguk dan pergi meninggalkan kami. "Apa mungkin dia mengetahui perbuatan kita?" Tanya Yakira cemas. "Sepertinya tidak mungkin, kalau dia mengetahui perbuatan kita, kenapa hanya orang tua Jeslyn yang dipanggil." Jelas Balerina yang membuat Yakira sedikit tenang. Kami bertiga berjalan masuk kedalam sekolah. Ketika kami sudah selesai makan malam, kami tidak segera kembali kekamar masing-masing. Kami bertiga masuk keperpustakaan untuk menyelidiki ada masalah apa yang terjadi antara kerajaan kami dengan kerajaan raja Aresh. Tetapi langkah kami ini digagalkan oleh seorang penjaga perpustakaan, dia melarang kami untuk masuk karena perpustakaan akan ditutup. Jadi, kami memutuskan untuk menyelidikinya besok pagi. *** Sang surya mulai menampakan cahayanya, aku segera bersiap-siap untuk memulai kelas. Kali ini aku akan belajar untuk menguasai keadaan, karena hal ini dianggap penting. Tidak peduli sekuat apapun seseorang bertarung, tetapi jika dia tidak bisa menguasai keadaan maka tidak akan ada gunanya pertarungan itu. "Jes, apa kau sudah siap?" Tanya Balerina dari luar kamar. "Tentu saja, aku akan keluar." "Baiklah." Sahutnya. Kami berdua berjalan dan berniat untuk menghampiri Yakira, tetapi ternyata Yakira sudah tidak ada dikamarnya. Jam besar yang ada di jantung sekolahpun kini telah berbunyi menandakan jam 9 tepat, mau tidak mau kami menuju kelas tanpa Yakira. Ketika pelajaran dikelas baru akan dimulai, Yakira datang dengan sedikit terengah-engah. "Hei, dari mana saja kau?" Tanyaku ketika Yakira baru saja duduk. "Jeslyn, ada sesuatu hal yang sangat penting. Ini menyangkut masalah kerajaan ini." Ucap Yakira. "Apa? Tapi apa?" Tanyaku padanya. "Jadi sebenarnya kerajaan kita dan kerajaan raja Aresh itu mul.." Belum sempat Yakira melanjutkan perkataannya itu, guru bimbing kami telah memanggil kami karena kami mengobrol di jam kelas yang sangat penting. "Yakira, bisa kau maju!" Tegas guru kami. "Tentu." Jawab Yakira tenang. Guru bimbing kami ini bernama Abey yang berarti daun, namanya ini berbanding jauh dengan elemennya, yaitu elemen tanah. Ketika Yakira sudah berada didepan kelas, Ny. Abey mengajaknya bertanding dan Yakira menyetujuinya. "Kau harus menyerangku terlebih dahulu. Mengerti?" Kata Ny. Abey. "Baiklah." Jawab Yakira. Serangan bola-bola api terus meluncur dari tangan Yakira. Sementara Ny. Abey menghadapi Yakira dengan sangat santai. "Apa kemampuanmu hanya seperti ini Nona?" Tanya Ny. Abey membuat suasana panas. Yakira dengan secepat kilat mengeluarkan bola api biru yang sangat besar dan melemparkannya ke Ny. Abey. Dengan sangat mudah Ny. Abey membuat dinding dari tanah yang dapat melindunginya. "Sudah cukup, kau tidak tahu cara menyerang. Kau memang hebat dalam pertempuran tapi kau tidak menggunakan pemikiranmu dalam bertarung." Jelas Ny. Abey panjang lebar. Ketika Yakira membalikkan badan, seketika luncuran tanah yang berbentuk seperti pecahan kaca yang sangat tajam dan banyak menghujamnya dari belakang. Untung saja Yakira mempunyai insting yang kuat, sehingga ia dapat menghindar secepat kilat. Tanah-tanah itu terus meluncur. Yakira membuat sebuah api yang berbentuk bola sangat besar dan melindungi tubuhnya. Tanah-tanah yang meluncur kearah api itu hangus terbakar menjadi abu yang berhamburan. "Bagus! Sekarang kau boleh duduk." Ucap Ny. Abey. Ketika Yakira duduk, Ny. Abey membahas taktik menyerang dengan masing-masing elemen. *** Teng, teng, teng Bel sudah berbunyi, kami segera meninggalkan kelas dan menuju perpustakaan. Ketika diperpustakaan dengan sigap Yakira menyuruhku duduk dan menunggunya. Ketika ia kembali ia sudah membawa sebuah buku tebal bersampul hitam dan bertuliskan 'about kingdom' berwarna emas. Ketika kami membacanya, banyak tertuliskan kisah-kisah kerajaan dunia. Salah satunya adalah kerajaan kami. Dituliskan dalam sejarah bahwa kerajaan kami sudah mengalami banyak peperangan dan banyak pula mengalami kemenangan dan kekalahan. Salah satunya pada saat menghadapi kerajaan yang amat ditakuti oleh seluruh dunia, kerajaan yang dihuni oleh beribu-ribu penduduk penyihir hitam yang menguasai banyak mantra mematikan. Kami mengalami kemenangan, sejak pada saat itu kerajaan tersebut merasa dendam pada seorang panglima perang wanita yang bernama Razita Marioline yang menghabisi hampir semua pasukan dan yang terakhir ditumpasnya adalah panglima perang kerajaan tersebut. Kerajaan itu dipimpin oleh seorang raja yang bernama Aresh Collucio. Ketika kami baru akan membalik halaman selanjutnya ternyata halaman itu telah hilang. Kami terus berfikir kemana halaman tersebut hilang? Kami juga berfikir bahwa, buku itu ada kaitan erat dengan keluargaku. Karena seorang panglima perempuan yang disebut tadi adalah ibuku, Razita Marioline. Kami akan terus menyelidiki tentang apa yang terjadi sebenarnya antara kerajaan kami dengan kerajaan raja Aresh. Dan apa yang menyebabkan kedua kerajaan ini berperang. Kami akan menemukan halaman buku yang hilang.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN