Sebuah ruangan cukup luas bergaya kolonial menjadi ruang kerja seorang Rendra Respati di kediaman miliknya. Amara memasuki ruang kerja ayahnya tersebut bersama pria itu. Dalam hati wanita berparas cantik selalu berdoa agar hati ayahnya terbuka. Ingin mengupayakan usaha terakhir sebelum kenyataan pahit yang mengharuskan dirinya harus berpisah dengan Bara Gandawasa. “Duduklah,” perintah Rendra yang meminta anak perempuannya yang dalam kondisi gelisah itu untuk duduk. Amara mengambil posisi duduk di kursi yang berada pada meja kerja sang ayah. Mencoba mengatur napas terlebih dahulu sebelum memulai pembicaraan bersama Rendra Respati. “Apa yang membuatmu hingga sampai datang ke sini? Jelaskan!” tanya Rendra sambil menatap serius ke wajah putrinya. “Mau meminta bantuan Papa,” jawab Amara

