Kamar Sarah terlihat seperti medan perang kecil. Berbagai pakaian berserakan di atas tempat tidur, sepatu-sepatu tertata rapi di lantai, dan aroma parfum lembut memenuhi udara. Sarah berdiri di depan cermin panjang di balik pintu lemari, menatapi dirinya dengan tatapan kritis.
Ia memilih gaun sleeveless berwarna burgundy yang simpel tapi elegan, dengan potongan yang menampilkan lekuk tubuhnya dengan sopan. Rambutnya yang biasanya diikat rapi kini tergerai lembut di bahu, hanya disisir dengan sedikit produk agar tak terlalu mengembang. Makeup-nya natural, cukup untuk menyembunyikan lingkaran hitam di bawah matanya akibat kurang tidur memikirkan malam ini.
"Untuk apa semua ini?" gumamnya pada bayangannya sendiri. Apakah untuk Agam? Atau untuk membuktikan pada dirinya bahwa ia masih bisa tampil menarik, bahwa kepergiannya dulu tidak membuatnya lusuh dan tak terawat?
Dengan gelisah, ia meraih ponselnya. Sebelum keraguan menyergap, ia mengetik pesan cepat pada Agam.
[Mas Agam, aku berangkat sendiri ya. Tidak usah jemput. Langsung ketemu di resto aja.]
Ia tak ingin suasana romantis atau tuntutan yang muncul jika Agam menjemputnya ke rumah. Ini hanya makan malam. Hanya untuk merayakan ulang tahun suaminya. Bukan kencan. Bukan rekonsiliasi. Setidaknya, itu yang ia coba yakinkan pada dirinya sendiri.
Satu tarikan napas dalam, dan ia berjalan keluar kamar. Alvin yang sedang duduk di ruang tamu hanya mengangguk pelan, matanya berbinar penuh arti, tapi tak berkata apapun. Hanya doa dan harap yang tersembunyi dalam senyum kecilnya.
Sementara itu di restoran. Agam sudah duduk di meja reservasinya selama dua puluh menit. Jarinya tak henti-henti memutar-mutar gelas air mineralnya. Matanya sesekali mencuri pandang ke arah pintu masuk.
'Bersikap biasa saja. Jangan terlalu memperhatikannya. Main tarik ulur. Biar dia yang merindukanmu.'
Saran Bayu terus bergema di kepalanya. Nasihat itu masuk akal secara strategi, tapi terasa sangat tidak wajar di hatinya. Bagaimana mungkin ia bersikap biasa pada wanita yang ia cintai sepenuh jiwa? Bagaimana ia menahan diri untuk tidak memandanginya dengan kekaguman, atau menanyakan detail kehidupannya yang ia lewatkan?
Tapi ia tak mau mengulangi kesalahan. Dulu mungkin ia terlalu memaksakan kehadirannya, terlalu intens. Mungkin Sarah butuh ruang, butuh melihat bahwa ia bukan lagi pria posesif yang dulu. Maka, dengan tekad bulat meski ditentang seluruh nalurinya, ia akan mencoba bersikap netral.
Pintu restoran terbuka. Sarah akhirnya muncul.
Agam hampir saja tercekak air minumnya. Sarah tampak … memesona. Tenang, anggun, dan cahaya lampu restoran yang temaram seolah menyoroti setiap langkahnya. Jantung Agam berdetak kencang. Ia ingin berdiri, menyambutnya, mungkin bahkan memeluknya. Tapi ia ingat nasihat Bayu.
Dengan upaya super manusia, ia hanya melambaikan tangan kecil dan menyunggingkan senyum ramah, bukan senyum lebar yang biasa ia berikan. "Sarah," sapanya saat Sarah mendekat, suaranya ia kendalikan agar terdatar mungkin.
Sarah membalas senyum, sedikit kaku. "Maaf, macet. Selamat ulang tahun, Mas Agam." Ia duduk di seberangnya, meletakkan tas kecilnya. Suasana canggung langsung terasa, lebih pekat dari aroma makanan di restoran itu.
"Terima kasih," jawab Agam. "Gaunmu … bagus." Pujian itu meluncur sebelum ia bisa menahannya. 'Biasa saja, Agam!' bentak hatinya.
"Oh, ini yang lama," sahut Sarah cepat, merapikan serbet di pangkuannya. "Menu apa yang enak di sini? Aku belum pernah kesini."
Percakapan pun bergulir dengan aman dan … biasa-biasa saja. Mereka membicarakan menu, lalu tentang cuaca, lalu tentang pekerjaan Sarah yang baru launching. Agam berusaha keras untuk tidak memonopoli pembicaraan, memberi Sarah ruang, bertanya secukupnya. Sarah pun menjawab dengan ringkas, sopan, matanya sering menghindari kontak mata langsung.
'Dia terlihat lelah. Apakah Julian menyusahkan pekerjaannya? Aku ingin tanya. Tapi nanti dia anggap aku ikut campur. Dia bilang perusahaannya dapat proyek pertama, tapi ekspresinya tidak senang. Ah, ingin sekali kupegang tangannya, katakan padanya bahwa aku bangga. Tapi tidak. Tidak sekarang,' ucap Agam di dalam hati.
Sementara itu di pikiran Sarah. 'Dia sopan sekali. Terlalu sopan. Seperti dua kenalan lama yang sedang mencoba mengisi keheningan. Apakah karena Sofi? Apakah pikirannya ada di tempat lain? Dia memujiku tadi, tapi terasa seperti formalitas. Dulu, matanya akan berbinar. Sekarang … datar saja. Mungkinkah dia sudah move on, hanya ingin berteman. Atau memang dia sudah memilih Sofi dan anaknya. Apa setelah makan malam ini nanti, dia akan minta cerai?'
Makanan datang. Mereka makan dengan ritme pelan, sela-sela diisi dengan obrolan ringan tentang film yang sedang tayang atau berita politik yang tidak penting. Tertawa yang muncul pun pendek, tidak sampai ke mata.
"Kue, untuk Tuan dan Nyonya," kata pelayan yang membawa petit fours kecil dengan lilin tunggal menyala.
Mereka berdua tersenyum. Agam meniup lilin itu setelah sejenak diam. Sarah ikut bertepuk tangan pelan.
"Apa harapannya?" tanya Sarah, iseng, iseng yang tiba-tiba membuat jantungnya berdebar cepat.
Agam menatapnya langsung. Di matanya, untuk sepersekian detik, terbakar kejujuran yang dalam. "Kebahagiaan," katanya, suaranya rendah. "Untuk orang-orang yang kucintai."
Sarah menahan napas. Kalimat itu menusuk. Apakah dia termasuk dalam orang-orang itu? Atau yang dimaksud adalah Sofi dan Talia? Ia hanya bisa mengangguk, mulutnya terkunci.
"Terima kasih sudah datang, Sarah," ucap Agam kemudian, memecah kesunyian. "Berarti banyak bagiku."
"Iya. Selamat ulang tahun sekali lagi," balas Sarah. Wanita itu mengeluarkan sesuatu dari dalam tasnya. "Ini, hanya kado kecil."
Agam mengernyit. "Apa ini?" Pria itu membukanya. Ada sebuah pena di sana. "Terima kasih. Aku akan pakai ini untuk tanda tangan setiap proyek kerjaku."
"Hm, aku harap kamu semakin sukses, Mas."
Setelah makan malam, mereka membayar dengan sedikit perdebatan halus yang akhirnya dimenangkan Agam, lalu berjalan keluar restoran. Udara malam terasa sejuk.
"Aku antar," ujar Agam, hampir tanpa pikir.
"Tidak usah. Aku pakai taksi aja. Aman," tolak Sarah lembut. Ia butuh ruang sendiri sekarang. Butuh memproses malam yang terasa seperti pertunjukan sandiwara dengan naskah yang salah ini.
"Tidak, please hanya antar saja!" ujar Agam dengan tegas.
Sarah terdiam, sejujurnya ia sedikit takut Agam meminta lebih dari sekedar makan malam. Bagaimanapun juga, ini malam ulang tahun Agam. Ragu-ragu, akhirnya Sarah mengagguk.
Di dalam mobil Agam yang nyaman, suasana berubah. Keheningan yang lebih intim menggantikan keramaian restoran. Lampu jalan menerangi interior secara bergantian.
"Restorannya bagus. Terima kasih sudah meluangkan waktu," ucap Agam, memecah kesunyian.
"Iya. Aku juga jarang keluar makan yang agak formal gitu," jawab Sarah, menatap keluar jendela. "Kadang … lebih suka masak sendiri. Tapi masak untuk satu orang itu kadang aneh, jadi sering pesan."
"Aku ingat kamu suka bikin pasta carbonara yang selalu kelebihan keju," kenang Agam dengan senyum kecil. "Aku yang akhirnya menghabiskannya, meski harus olahraga ekstra seminggu."
Sarah tersenyum juga, kenangan itu hangat. "Kamu dulu suka protes, tapi selalu habis, Mas."
"Karena buatanmu," ujar Agam, suaranya rendah. "Hal-hal yang dibuat dengan perhatian … rasanya selalu berbeda." Ada jeda. "Aku sering ingat hal-hal kecil seperti itu."
Agam teringat bagaimana hubungan mereka dulu sebelum ada pernikahan. Saat Sarah masih hanya menganggapnya sahabat yang selalu setia ada kala hati wanita itu terluka oleh mantan kekasihnya.
Sarah menoleh, memandang wajah Agam yang diterangi lampu jalan. Hatinya berdesir. Ini bukan percakapan biasa lagi. Ini mulai menyentuh area yang personal.
"Kenangan itu memang aneh, ya?" ucap Sarah pelan. "Beberapa terasa sakit, tapi beberapa … tetap hangat, meski kita berusaha melupakannya."
Agam menarik napas dalam. "Aku tidak ingin melupakan yang hangat-hangat itu, Sarah. Aku … aku belajar menerima bahwa masa lalu kita adalah bagian dari kita. Yang pahit, yang manis. Tapi yang kupelajari, hal-hal yang berharga itu pantas untuk diperjuangkan kembali, meski butuh waktu yang lebih lama dari yang diharapkan."
Kalimat itu menggantung di udara. Tidak langsung, tidak vulgar, tetapi jelas menyiratkan harapan. Ia tidak menyebut nama pernikahan atau cinta, tapi hal-hal yang berharga.
Sarah tidak langsung menjawab. Ia memandang jalan di depan. "Aku juga belajar bahwa … tidak semua yang rusak bisa diperbaiki dengan cara yang sama seperti dulu."
"Setuju," sahut Agam cepat. "Mungkin perlu cara baru. Pola yang baru. Tapi … fondasinya bisa sama. Jika fondasinya tulus."
Getar ponsel Agam di atas dasbor menarik perhatian keduanya. Namun, Agam mengabaikannya.
"Ada yang telepon itu," kata Sarah.
"Hm, biarkan saja."
Sarah mengernyit. "Mungkin penting."
Agam menggeleng kecil. "Tidak ada yang lebih penting dari saat ini." Pria itu kemudian melakukan sesuatu pada ponselnya hingga getar di benda itu menghilang.
Sarah hanya diam, mengamati bagaimana dahi Agam tadi sempat berkerut saat melihat ponselnya. Hal itu membuatnya penasaran, telepon dari siapa?
Akhirnya, mobil memasuki kompleks perumahan Sarah. Agam memperlambat laju.
"Kamu baik-baik saja pulang sendirian?” tanya Sarah, suaranya lembut.
"Aku laki-laki Sarah, tidak perlu khawatir," jawab Agam. Mobil berhenti di depan rumahnya. "Terima kasih untuk makan malamnya, Sarah. Dan … untuk kadonya."
"Hanya kado kecil, Mas," ucap Sarah.
Agam diam, menatap istrinya. 'Kamu kado terindah selama ulang tahunku, Sarah.'
"Terima kasih sudah diantar, Mas," ucap Sarah, wanita itu pun melepas sabuk pengamannya.
"Hm, istirahatlah," ucap Agam, pria itu menatap sendu pada istrinya, rasanya ingin sekali memeluk dan mengecup kening wanitanya itu, tapi ia tak mau membuat Sarah menjaga jarak lagi dengannya, Agam tahu, dia harus sabar.
Sarah mengangguk, ia masih memperhatikan Agam yang kembali memeriksa ponselnya. Entah kenapa hatinya penasaran. Apalagi, ia teringat dengan wanita bernama Sofi. Ah, ia tak tahan lagi.
"Mas, kenapa gak diangkat aja?"
"Apa?" Agam terlihat gugup bagi Sarah.
"Mas kok gugup, emangnya siapa yang telepon?"