Bercerai

827 Kata
"Sudah 2 tahun Gam, kau gak mau nikah lagi?" Agam, pria yang tengah duduk di meja kerjanya sambil memegang berkas hanya menoleh sekilas saat Bayu, sahabatnya bertanya hal yang sama untuk kesekian kalinya. Namun, untuk kesekian kalinya juga Agam memberi jawaban yang konsisten. "Untuk apa?" tanya Agam, pria itu terus berpura-pura fokus pada berkas di tangannya meski saat ini jantungnya berdebar cepat, bertarung antara keyakinan dan keraguan yang sama perbandingannya. "Ya untuk teman hidup lah, itu Sofi, dia masih berharap padamu," kata Bayu. "Dia wanita yang baik Gam." Agam tersenyum tipis. "Aku sudah bilang padanya, aku hanya anggap dia sahabat, tidak lebih. Dan kau tau, yang aku lakukan untuknya hanya sekedar untuk membantunya." Bayu menggeleng. "Ya ya ya, dan kau masih terus mengharapkan Sarah? Sarah yang sama sekali tak pernah melihat ketulusanmu." Agam terdiam, pria itu bahkan berhenti membuka halaman berkas di tangannya kala nama Sarah disebut. Sarah, wanita yang ia cintai sejak masa kuliah, sampai pada akhirnya ia nikahi meski karena sebuah keterpaksaan, wanita itu pergi tiga hari setelah akad nikah mereka. Agam tahu, waktu itu Sarah terpaksa memenuhi permintaan ayahnya. Padahal, saat itu ada peluang besar untuk Sarah kembali pada Sultan, mantan kekasih yang masih Sarah cintai. Namun, Ayah Sarah, tidak setuju, tidak memberi restu untuk putrinya kembali pada Sultan yang pernah mengkhianati Sarah dengan sahabat Sarah sendiri. Waktu itu, dua tahun lalu, Rumaisyah, istri Sultan yang pernah menjadi sahabat Sarah, melahirkan, tetapi terjadi komplikasi, Rumaisyah pendarahan dan koma, saat sebelum koma, Rumaisyah membuat permintaan agar Sarah mau kembali dengan Sultan dan menikah dengan Sultan. Saat itu Sarah setuju, tetapi tidak dengan ayahnya. Alvin, ayah Sarah itu tiba-tiba memaksa Sarah menikah dengannya, bahkan pria paruh baya itu mengancam putrinya dengan sakitnya. Alhasil, Sarah setuju. "Kami belum bercerai, makanya aku gak mau membina hubungan baru sebelum hubunganku dengan Sarah jelas," kata Agam. Bayu menggeleng. "Cerai itu sih perkara gampang, kau tinggal ucapkan talak untuknya, laki-laki bro, bebas, apalagi kau dan Sarah hanya nikah bawah tangan." Agam menutup bukunya. "Setidaknya, kami harus bicara dulu, kalau memang harus berakhir, maka harus jelas dan berakhir dengan baik." Bayu bangkit. "Halah, akui saja kau cinta mati sama Sarah, udahlah, aku balik ruanganku dulu!" Setelah kepergian Bayu, Agam duduk di kursi kerjanya. Pria itu memikirkan Sarah, istri sirinya yang tak pernah ada kabar langsung padanya. Agam membuka ponselnya, ia buka sosial media milik Sarah, wanita itu masih betah di luar negeri. Sering update foto cafe yang disinggahinya, Sarah adalah seorang penikmat kopi. Agam bisa saja mendatangi Sarah, tetapi tidak ia lakukan lagi setelah kedatangannya ditolak waktu itu. "Aku butuh waktu, bisa gak sih sabar?" Begitu kata Sarah waktu itu. Sabar? Harus sampai kapan ia sabar dalam ketidakpastian? Dirinya memang bodoh, mencintai wanita yang jelas tak pernah membalas cintanya. Namun, untuk melepaspun ia belum sanggup. Menurutnya, ia dan Sarah harus mencobanya, setidaknya beberapa waktu, dan itu belum ia dan Sarah lakukan. Satu pesan masuk ke ponsel Agam. Itu dari Alvin, ayah mertuanya alias ayah Sarah. [Datanglah ke rumah sepulang kerja, Papa mau bicara.] Akhirnya, sepulang bekerja, Agam pergi ke rumah mertuanya. Alvin, ayah Sarah yang sudah 65 tahun itu tinggal dengan asisten rumah tangga bersama suaminya yang menjadi tukang kebun di rumah itu, sesekali adik ayah mertuanya datang berkunjung, kadang menginap jika Alvin kurang sehat. "Papa sehat, kan?" tanya Agam. "Ya, beginilah, kau sudah makan?" tanya Alvin. "Sudah Pa," jawab Agam. Alvin menghela napasnya. "Papa mau bicara, soal Sarah." "Apa ada kabar Pa, apa Sarah mau kembali?" tanya Agam tak sabar. Alvin mengangguk. "Ya, dia pulang, katanya minggu depan, katanya mau buka usaha bersama temannya di sini." Agam tersenyum lebar, ia baru saja mendapat secercah harapan. Sarah, wanita yang ia nanti akan segera kembali. Ia harap, akan ada waktu dan kebersamaan di antara mereka agar ia bisa berusaha membuat Sarah jatuh cinta padanya agar pernikahan mereka bisa dipertahankan. Ah, Agam tak sabar untuk hari itu tiba. Dulu, sebelum mereka menikah, dia dan Sarah sering menghabiskan waktu berdua karena dulu ia harus menghibur Sarah yang tengah patah hati setelah pengkhianatan kekasihnya. Komunikasi di antara mereka juga tak ada masalah, Agam yakin bisa menaklukkan hati Sarah nanti. "Kapan tepatnya dia pulang, Pa?" tanya Agam tak sabar. "Biar Agam jemput!" Alvin terdiam, menatap betapa antusiasmenya sang menantu mendengar kabar Sarah akan kembali. "Ke-kenapa Papa diam dan natap Agam seperti itu?" tanya Agam, ia mulai berdebar-debar karena ekspresi wajah ayah mertuanya seperti menyimpan iba padanya. Alvin menghela napasnya perlahan, ada sesal, rasa bersalah yang besar pada orang baik di depannya. Agam adalah laki-laki yang amat baik, sebagai teman, anak, menantu, Agam adalah sosok yang baik, sebagai seorang suami, ia juga mungkin adalah suami idaman setiap wanita. Namun sayang, putrinya tak melihat itu. "Kenapa Pa?" tanya Agam yang semakin cemas. "Kau mau tau apa yang membuat Sarah bersedia kembali?" tanya Alvin. Agam mengernyit dahinya. "Apa itu, Pa?" Sekali lagi, Alvin menarik napasnya dalam dan menghembuskan perlahan. Ia tak tega menyampaikan alasan Sarah mau kembali, "Pa?" Agam semakin cemas. "Sarah memberi syarat agar Papa izinkan dia bercerai denganmu!"
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN