Kepada Yth.
Direktur Cahaya Kreatif
Dengan hormat,
Kami dari PT ABJaya Group bermaksud mengundang Cahaya Kreatif untuk berpartisipasi dalam tender penyedia jasa creative & event management untuk launching serangkaian properti hotel dan resort baru di bawah grup kami. Portofolio dan proposal dapat dikirimkan paling lambat dua minggu ke depan. Detail lengkap dan terms of reference terlampir.
Hormat kami,
Tim Pengadaan PT ABJaya Group
Sarah membacanya sekali, dua kali. Jantungnya berdebar kencang, bukan karena cemas, melainkan karena sebuah lonjakan semangat. Ini dia. Proyek besar yang selama ini mereka tunggu-tunggu. Dan datang dari ABJaya, perusahaan Agam. Tapi, undangannya sangat formal, datang ke agensinya langsung, bukan permintaan pribadi. Mungkinkah ini kebetulan? Atau ...?
Pikiran itu ia kesampingkan. Lagipula, undangan itu resmi masuk email perusahaan yang diteruskan oleh nomor salah satu stafnya. Ini kesempatan. Tidak peduli bagaimana awalnya, ini adalah kesempatan untuk membuktikan diri di panggung yang lebih besar, dengan cara yang profesional.
"JULIAN!" teriak Sarah, melompat dari kursinya. Suaranya penuh energi yang sebelumnya hilang.
Julian, yang masih berdiri di luar ruangan dengan wajah murung, langsung menyambar masuk. "Apa? Apa yang terjadi?"
"Lihat ini!" Sarah menyodorkan ponselnya, wajahnya bersinar. "Undangan tender dari ABJaya! Proyek hotel dan resort mereka!"
Julian mengambil ponsel itu, matanya membesar. "ABJaya? Agam? Kamu hubungi dia?"
"Tidak! Ini datang sendiri. Resmi. Ke perusahaan kita," kata Sarah, suaranya bergetar karena antusiasme. "Ini bisa jadi titik balik, Julian! Kita harus menang tender ini."
Julian melihat ekspresi sahabatnya, lalu kembali pada undangan itu. Sejenak, kecurigaan muncul di benaknya. Tapi melihat cahaya di mata Sarah yang sudah lama tidak ia lihat, ia memilih untuk ikut bersemangat. "Kamu benar. Ini besar. Kita harus kerja keras buat proposal yang wow. Aku hubungi tim desain dan konsep sekarang!"
Kantor yang tadi penuh dengan ketegangan dan keputusasaan, tiba-tiba diisi dengan gelombang energi baru. Sarah dan Julian serta beberapa staf lainnya langsung berdiskusi, membuka dokumen lampiran, dan mulai membagi tugas. Sarah merasa seperti menemukan kembali tujuannya. Ini bukan tentang Agam, bukan tentang dirinya yang galau. Ini tentang Cahaya Kreatif, tentang mimpi yang ia rajut dengan susah payah.
Sementara itu di tempat lain. Agam menyandarkan stik golfnya, matanya tak lepas dari ponsel di tangannya. Tidak ada kabar dari Sarah. Bayu, di sampingnya, sedang dengan santainya mengayunkan stik dan mengamati bola putih yang meluncur jauh.
"Sudah dua minggu lebih, Bay," gumam Agam, tak lagi mampu menahan kerinduannya. "Aku ikuti sarannu. Tidak muncul, hanya pesan singkat. Tapi sekarang ... setelah rencanamu, Operasi Jembatan itu berjalan, kapan aku bisa menemuinya? Aku gak tahan. Aku ingin lihat dia, mendengar suaranya langsung, bukan cuma dari laporanmu bahwa undangan sudah dikirim."
Bayu menghela napas, mengusap keringat di dahinya. "Sabarlah, bro. Baru tahap awal. Undangan tender resmi sudah keluar ke beberapa agency, termasuk Cahaya Kreatif. Itu untuk menciptakan situasi yang alami. Sarah pasti sedang sibuk menyusun proposal."
"Tapi dia tidak menghubungiku sama sekali," keluh Agam. "Dia menerima undangan itu, dan ... diam. Seharusnya dia setidaknya bertanya, atau mengonfirmasi, atau ... sesuatu."
"Itu justru bagus," kata Bayu, duduk di sebelah Agam. "Artinya dia melihat ini sebagai murni urusan bisnis. Dia ingin bersikap profesional. Kalau dia langsung meneleponmu dan bertanya ini ulahmu, ya?, malah gagal. Sekarang, kamu harus terus bermain dengan tarik-ulur."
"Tarik-ulur lagi?" Agam merengut.
"Iya. Dia belum siap untuk pendekatan emosional langsung. Tapi melalui konteks bisnis ini, kalian bisa berinteraksi dengan cara baru. Nanti, saat presentasi proposal atau meeting lanjutan, kamu bisa kebetulan hadir. Tapi jangan sebagai Agam yang merindukan istri, tapi sebagai Direktur ABJaya yang menilai kinerja calon vendor. Sopan, profesional, tapi ... sisipkan perhatian kecil. Tanyakan soal mobil, atau bagaimana dia menjalankan bisnisnya. Bangun kembali komunikasi dari nol, dengan fondasi yang berbeda."
Agam memandang jauh ke lapangan hijau. "Aku lelah dengan permainan ini, Bay. Aku hanya ingin jujur padanya."
"Dan kamu akan dapat kesempatan untuk itu. Tapi bukan sekarang. Sekarang, biarkan dia merasakan kekuatan dirinya sendiri. Biarkan dia sibuk dengan proposal, biarkan dia merasa bahwa dia mendapatkan ini karena usaha agensinya, bukan karena belas kasihan mantan suaminya. Itu akan membangun kepercayaan dirinya. Dan ketika kepercayaan dirinya kembali, dia akan lebih terbuka untuk bicara dari hati ke hati denganmu, sebagai partner yang sejajar."
Kata-kata Bayu masuk akal, tapi terasa seperti siksaan bagi Agam. "Jadi, aku harus menunggu lagi?"
"Ya, tapi sambil bersiap. Pelajari jadwal tender. Pastikan kamu tahu kapan presentasi. Dan ... bersiaplah untuk kemungkinan," Bayu menatap Agam dalam-dalam, "bahwa proposalnya mungkin tidak yang terbaik. Atau, keputusan tim tender mungkin tidak memilihnya."
"Tapi itu kan rencanamu, kita bisa—"
"Tidak," potong Bayu tegas. "Jika kita memanipulasi hasilnya agar dia menang, itu sama saja menginjak-injak usahanya. Kita hanya memberi kesempatan, jalan. Hasilnya harus murni dari kualitas kerja mereka. Kalau mereka menang, itu kemenangan Sarah. Kalau kalah ... ya, itu pelajaran. Tapi setidaknya dia sudah dapat eksposur dan pengalaman."
Agam mengangguk pelan, mengerti meski berat. "Baik. Aku akan mencoba bersabar."
"Dan ingat," tambah Bayu, "ujian sebenarnya adalah ketika kalian bertemu di ruang meeting nanti. Bisa tidak kamu menahan diri? Bisa tidak kamu memperlakukannya seperti vendor lainnya? Itu yang akan menentukan apakah jembatan ini kokoh atau runtuh."
Agam mengepalkan tangannya. Tantangan itu lebih menegangkan daripada negosiasi bisnis mana pun. Tapi untuk Sarah, untuk kemungkinan masa depan mereka, ia harus bisa.
***
Lima hari telah berlalu sejak undangan diterima. Kantor Cahaya Kreatif berantakan dengan kertas konsep, storyboard, mock-up desain, dan sisa kopi di banyak gelas. Sarah, Julian, dan tim mereka hampir tidak tidur untuk menyiapkan proposal dan materi presentasi yang sempurna.
Sarah berdiri di depan cermin di ruang kecilnya, berlatih untuk presentasi besok. Matanya berkantung, tapi sorot matanya tajam dan penuh keyakinan.
"Kamu yakin tentang angka di budget kita ini?" tanya Julian, masih memegang laporan keuangan.
"Yakin. Kita hitung mati-matian. Kita kasih harga yang kompetitif tapi tidak murahan, menunjukkan kualitas," jawab Sarah tanpa menoleh. "Ini bukan sekadar proyek, Jul. Ini bukti."
"Bukti apa?"
Sarah menoleh pada Julian. "Bukti bahwa aku bisa. Tanpa bantuan siapa-siapa. Undangan ini ... mungkin ada campur tangan Agam, mungkin tidak. Tapi proposal ini, presentasi besok, semua adalah jerih payah kita. Kalau kita menang, itu kemenangan kita sendiri."
Julian tersenyum, bangga. "Aku dukung kamu, Sar. Aku ... maaf tentang perkataanku yang kemarin."
"Lupakan. Kita semua sedang tertekan," ucap Sarah, lalu kembali berkonsentrasi pada notasinya. Di benaknya, bayangan Agam muncul. Besok, mungkinkah dia hadir? Jika ya, bagaimana sikapnya? Haruskah ia menyapanya lebih dulu?
Ia menghela napas. Profesional, ingatnya pada diri sendiri. Kamu adalah Direktur Cahaya Kreatif. Dia adalah Direktur ABJaya. Itu saja.
Tapi di sudut hati yang paling dalam, ada sebuah harapan kecil dan gemetar. Bahwa di balik kesempatan bisnis ini, ada seberkas cahaya lain, cahaya untuk menyembuhkan luka, dan mungkin, untuk membangun kembali sesuatu yang telah patah.
Besok akan menjadi hari yang menentukan, bukan hanya untuk masa depan Cahaya Kreatif, tapi juga untuk jalan berliku yang sedang ditempuh oleh Agam dan Sarah.
"Ya sudah, aku pulang dulu Julian, Papaku minta aku pulang cepat malam ini, mau ada yang dibahas soal kesehatannya."
Julian mengangguk. "Ya, tenang saja, kerjaan ini biar aku yang selesaikan, besok kamu tinggal cek. Istirahatlah malam ini."
"Thank you Julian."
Sarah pun pulang ke rumahnya. Dan ketika tiba di depan rumah, wanita yang masih berada di balik kemudi mobilnya mengernyit dahinya melihat keberadaan mobil yang tak asing baginya.
"Mas Agam, dia datang."
Sudut bibirnya melengkung ke atas, tanpa sadar ia tersenyum, jantungnya berdebar-debar, rasanya ingin sekali melihat pemilik mobil itu berada di rumahnya setelah 2 minggu mereka tak bertemu.