Sambil Malika menunggui mobil Aris menjauh ia teringat kata-kata kakeknya dulu ; jangan bilang rencana besarmu kepada siapapun. Sepertinya itu yang harus Malika lakukan sekarang. Ia sudah tak mungkin lagi bertekuk lutut kepada Aris, tetapi harus berlakon begitu nantinya. Malika harus bergerak, jika Aris tak mau melepasnya, maka Malika yang harus mendepak lelaki parasit itu jauh dari hidup yang baru Malika tata. Malika terkejut saat akan berbalik badan. “Bukan Almas yang mengantarmu, Malika?!” tanya dingin menyentaknya. Air wajah Malika cemberut mendapat introgasi sang ayah. Pikirnya berkelana jelas, jangan-jangan Almas mengadu lagi. “Bukan.” “Aris?!” Malika diam. Daripada menjawab, Malika malah memulai langkah masuk ke halaman rumah. “Malika …!” seru Arta kepada putrinya yang berla

