*** “Tisha semangat!” Tania mengepalkan tangannya sembari tersenyum hangat kepada Natisha begitu mereka sampai di kantor. Tisha membalasnya dengan lambaian tangan juga senyuman. Ia masuk ke ruang kerjanya setelah itu. “Loh Bapak belum makan siang juga?” tanya Tisha saat melihat Arka masih duduk di kursinya seperti terakhir kali ia tinggalkan. Bahkan sekarang Arka mengenakan kaca matanya yang menandakan lelaki itu semakin serius menangani pekerjaannya. “Hem.” Hanya itu yang Arka katakan. Kembali lelaki sedingin es itu tenggelam dalam lembaran kertas di atas meja. “Makan siang dulu, Pak Arka. Nanti Bapak sakit,” tegur Tisha. Bagaimanapun juga ia khawatir pada kesehatan Arka. Namun, Arka tidak mengatakan apa-apa. Lelaki itu tidak menyahuti Tisha sama sekali. Melihat itu, membuat Tis

