charming 3

389 Kata
Arjuna POV Ternyata tamu istimewa di rumahku adalah om Yusuf dan Tante Diana sahabat papa mama yang sudah lama tidak bertemu. Aku jadi ingat anak mereka yang seumuran denganku. Gadis cilik yang selalu membawa bakpao di pipinya.hahaha... Dulu kami sering bertengkar karena hal sepele. Aku suka banget ngejahilin dia. Seperti apa ya dia sekarang?. masih gendut kayak bakpao apa udah secantik Emma Watson??. Aduh jadi traveling deh otakku.. Tiba-tiba cubitan mama mendarat mulus di lenganku. ~sakit...~batinku "Juna...!! yang sopan." tegas mama " Nggak apa-apa jeng....tapi sekarang El sudah berubah. pokoknya mangklingi." jelas Tante Diana "maaf Tante,,, keceplosan." ucapku. Aku dan Ryan pun duduk di kursi sigle sebelah kiri papa mamaku. Aku selalu mengajak Ryan dipertemuan keluarga. Alasan simple...kali aja ada yang tanya 'kapan kawin?' 'mana calonnya?' 'kapan nih undangannya disebar?' dalam hati cuma 1 jawaban. " may" ........'may be yes, may be no' .wkwkwk Ryan selalu punya alasan yang tepat untuk menjawab semua pertanyaan itu. Daripada susah susah copy paste,mending aku bawa aja orangnya,lebih praktis. "oh ya pah. Tadi papa suruh Juna pulang cepat ada apa?" tanya ku penasaran "Begini Juna.. kamu satu satunya anak papa. papa ingin sebelum papa masuk usia pensiun,kamu menikah." ujar papa "deg" Nah bener kan tuh.. baru aja dibuatin,eh Dejavu. "aduh pa.. Juna masih ingin memajukan perusahaan. Lagian,Juna jomblo pah. Juna masih 28 tahun, belum tua banget" kalimat panjang ku yang di sambut tertawa renyah para orang tua. "papa sama om Yusuf dulu sudah saling berjanji akan menikahkan kalian. yah... calon istrimu El,putri om Yusuf." lanjut papa "tapi pa_" "papa tidak menerima penolakan. jika kamu bersikeras menggagalkan perjodohan ini,kamu bisa pergi keluar negeri tanpa melihat kami untuk yang terakhir."ancam papa. sebenarnya aku tidak masalah keluar negeri,tapi aku tidak bisa jika tanpa seharipun dapat pelukan dari mama. Seperti dahulu waktu aku SMA. Karena dulu nenek tinggal sendirian di Bandung dan tidak ada yang merawat, akulah yang ada di sana. Tiga tahun hidup tanpa pelukan mama,bagai sayur tanpa garam kurang enak kurang sedaap... Aku jadi anak urakan dan playboy di sekolah kare satu tujuanku, ingin mendapat perhatian. Mulut ku terkunci tidak menolak perkataan papa. "kamu setuju kan Ryan kalau bos mu ini menikah." tanya papa ke Ryan "setuju buangeet papa boss. sembilan, sepuluh, sebelas malahan," jawab Ryan ku berikan lirikan tajam,tapi dia tidak peduli. Dia malah tertawa sambil memberi tatapan meledek. "duh Gusti... gimana ini?" batinku
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN