- 16 -

1587 Kata
Mungkin suatu hari aku harus menjodohkan Devon dengan salah satu temanku, entah Chaca atau Lila, seperti Devon akan merasa kena mental jika berhubungan dengan salah satu di antara mereka lantaran merasa bahwa teman temanku aneh. Aku akan tertawa paling keras jika hal itu menjadi kenyataan, maksudnya Devon berpacaran dengan Lila atau pun Chaca. Pasti sangat seru sekali. “Sok tau lo! Lo gak paham huru hara di antara kami ya!” Chaca menyanggah ucapan Devon, dan tetap mengeluarkan ponselnya untuk mengetikan pesan pada Lila. Tak tanggung, Chaca bahkan mengambil gambar sosok Rendi yang ada di mejanya untuk sebuah bukti bahan pergosipannya pada Lila. “Udah yuk, Cha! Cepetan ah. Lo kayak gak pernah ketemu Rendi aja,” ucapku seraya berdiri dari duduk ku, lalu berjalan ke arah Chaca dan menarik tangannya untuk segera pergi dari sini, agar tidak semakin heboh karena pertemuannya dengan Rendi yang mengejutkan. Chaca pun menyudahi aksinya pada Rendi, dan bergegas pergi karena di seret olehku. Namun, cewek itu tetap berusaha untuk berpamitan dengan orang orang yang ada di ruanganku meski sebenarnya tidak ada yang peduli juga dengan kepergiannya. Chaca melambaikan tangan seraya dadah dan berpamitan kepada mereka. “Bye semua, gue balik dulu ya.” Sungguh Chaca yang kelewat ramah, aku tidak percaya bisa memiliki teman seperti ini. Bisa bisanya ia semudah itu akrab dengan teman teman kantorku. Di tambah lagi sekarang Rendi juga menjadi teman kantorku, yang mana memang sudah di kenalnya - sangat akrab malah - Chaca yaa semakin jadi untuk dekat dengan teman teman kantorku. Aku mendengus pelan menyadari keakraban Chaca dan Lila bersama Rendi. Sama halnya seperti keakrabanku dulu, juga seperti pada Sandi, Azril, atau pun Rehan. Aku pernah seakrab itu dengan Rendi, tentu saja, kami berteman kan. Hingga tragedi itu menghancurkan segalanya. Aku dan Rendi tidak bisa lagi bersikap biasa, karena keadaan kami sudah tidak seperti biasa. Sepanjang jalan untuk keluar kantor, aku berkali kali tersenyum dan berpamitan untuk pulang pada siapa pun yang aku temui untuk sampai ke depan lift bersama Chaca. Chaca juga ikut menyapa mereka semua layaknya karyawan sini juga. Beruntung bos besar jarang datang, jadi peraturan kantor ini memang agak bebas. Dan jika pun datang, mereka tak melarang orang luar masuk ke dalam jika sudah di luar jam kerja. Chaca berusaha menahan dirinya untuk tidak membahas Rendi di sepanjang jalan saat kami menuju lift, yang mana masih merupakan area kantorku. Tidak enak juga jika sampai di dengar karyawan lain, ini kan masalah internal pertemanan kami. Benar, konflik aku dan Rendi bagaikan masalah internal yang terjadi pada pertemanan kami. Memang saat itu nyaris seluruhnya terlibat. Bahkan Lila yang jutek sekali pun. Di dalam lift pun, Chaca masih berusaha menahan dirinya karena tidak enak banyak orang dari lantai lain. Suasana lift juga cukup padat karena memang ini waktunya pulang kerja, berbincang di lift jelas akan mengganggu kenyamanan pengguna lainnya. Chaca sudah cukup dewasa untuk memahami hal itu, mungkin beberapa tahun yang lalu memang bisa saja Chcaca mengoceh di lift tanpa peduli orang lain terganggu atau tidak. Hingga akhirnya kami sampai di parkiran, lalu memasuki mobil Chaca. Tak sampai menyalakan mesin mobil, Chaca sudah berseru heboh lagi, menyampaikan pendapatnya perihal keterkejutan dirinya saat melihat Rendi tadi. “Gila! Sumpah, Ra! Ini gila banget!” Komentarnya antusias, aku tidak akan mengomentari komentar Chaca itu berlebihan. Sebab aku setuju, ini memang gila! Samgat gila! Aku sampai nyaris menjadi gila karena fakta mengejutkan tersebut. “Gue nyaris izin sakit lagi tadi karena langsung pusing pas liat Rendi.” Ucapku berlebihan. Tapi memang kepalaku rasanya nyaris berputar saat melihat Rendi tadi, seharian ini rasanya lama sekali, padahal aku hanya ingin cepat cepat jam pulang untuk menghindari cowok itu. “Kok bisa sih Rendi santai aja pas tau kalian satu kantor? Gak langsung bertindak atau apa gitu,” kata Chaca yang juga tidak mengerti dengan jalan pikiran Rendi saat itu. Aku juga tidak paham. Maksudnya, meski semua orang menganggap Rendi pindah ke luar kota demi menghindariku dan memberiku ruang tanpa kehadirannya, sedang aku yang lebih percaya bahwa ia menyusul pacarnya. Jika Rendi memang pernah bersikap sejauh itu, mengapa kini ia tidak bertindak apa pun saat mengetahui di sana ada aku. Apakah ia menganggap permasalahan kami sudah selesai? Makanya ia bisa bersantai untuk menunjukan batang hidungnya di hadapanku lagi? “Gue bakal tanya Rendi deh nanti. Mungkin dia mikirnya lo juga udah nikah, Ra. Jadi ya gak masalah kan. You’re totally move on gitu loh, Rendi yang ngumbar pacaran dari dulu malah masih gitu gitu aja. Kayaknya Rendi kena karma gara gara dulu jahat sama lo, Ra!” Chaca berkata dengan antusias dan menggebu gebu, membicarakan masa lalu yang diketahui seluruh teman teman kami yang memang saat itu berada di sana. Aku terkekeh pelan mengingat soal karma yang disebutkan Chaca. Hubungan Rendi seolah tidak memiliki perkembangan hingga saat ini. Hubungan yang pernah ia banggakan dan agung agungkan di depan semua orang. Aku berdecak geli jika mengingat masa masa itu. Rendi terlalu bodoh sampai menutup matanya selama ini, dan enggan terbuka juga. “Kita bobo bobo santuy di rumah gue atau ngapain ya?” Tanya Chaca yang meminta pendapat untuk agenda sore ini yang memang tak memiliki rencana. “Nyalon aja yuk, Cha. Pusing deh kepala gue, enak nih di creambath.” Kataku memberi usul, yang memang sedang membutuhkan treatment tersebut. Chaca berdecak pelan. “Gila ya gue maen sama istri bos, pusing dikit nyalon. Padahal kemaren baru abis dari Bajo. Uang bulanan lo berapa sih, Ra jadi istri Alex?” “Lebih gede dari gaji lo sebulan sih. Gaji Alex sebulah nyaris lima kali lipat dari gaji lo!” Aku hanya meladeni Chaca dengan mendorong cewek itu semakin ke dasar jurang karena membahas masalah Alex. “Sialan!” Umpatnya saat menyadari betapa kecil gaji bulanannya selama bekerja. “Gue mau nyari yang sekaya Alex, Ra. Gimana yaa.” “Lo gak secantik gue sih.” Aku menyahut dengan percaya diri. “Aura gue tuh bisa memikat anak bos dengan luar biasa.” Aku mengibaskan rambutku demi menyombong pada Chaca, yang segera di balas dengan cibiran. Chaca enggan menyahut lagi dan memilih untuk menyalakan mesin mobilnya, karena nada pongahku semakin menjadi. Memang nikmat sekali menyombongkan Alex, pasti tak ada yang bisa membantah karena memang Alex sudah kaya raya dari sononya. Sebab circle ku memang bukan orang orang kaya juga, kami ya sama sama karyawan, yang gaji bulanannya sebatas cukup menbayar cicilan dan jalan jalan. Keluarga kami juga biasa biasa saja, meski tidak miskin miskin amat, tapi ya jelas beda kasta jika dibandingkan keluarga Alex, Yeah, kalian bisa menyebut aku beruntung tapi kurang bersyukur. Sialahkan! Tapi bahagia kan tak melulu soal materi. Ini lah yang aku rasakan saat ini, hidup serba berkecukupan, tapi hatiku rasanya hampa. Padahal Alex sudah berusaha sekuat tenaga untuk selalu mengikuti kemauanku. Rumah tanggaku dengan Alex, biarkan saja terus berjalan seperti ini. Toh jalan yang begini saja kami tetap bisa bertahan hingga sekian tahun, bahkan sampai menikah. Sangat banyak pihak yang meragukan hubungan kami lantaran menilai sikapku yang tidak baik terhadap Alex, padahal yang menjalani hubungan ini adalah aku dan Alex. Bahkan jika memang Alex merasa keberatan dan menentang sikapku, seharusnya sudah sejak lama kami berpisah, atau Alex sebaiknya meninggalkanku saja. Jangan tanya mengapa tidak aku saja yang meninggalkannya, jangan di pikir aku tetap bertahan dengan Alex hanya karena dia kaya raya. Enak saja. Aku tidak sematre itu. Gaji bulananku dari bekerja cukup besar, meski tidak sampai dua digit, tapi bagiku itu sudah cukup untuk memenuhi kebutuhanku. Aku merasa sangat cukup sekali, jadi tidak ada alasan untuk aku memoroti lelaki. Aku sudah berkali kali mencoba meninggalkan Alex, meminta putus darinya. Bahkan sebelum memutuskan hubungan, dalam fase awal Alex menyatakan perasaannya padaku pun, aku sudah menolaknya berkali kali. Hingga akhirnya aku lelah sendiri karena usaha Alex yang tak gentar, dan aku pun berpikir yasudah di terima saja, toh tidak terlalu merugikan diriku juga. Jadi lah kami bersama. Untuk permintaan putus, Alex tidak menyetujuinya. Dia lebih memilih minta maaf tiada akhir setiap kali habis melakukan kesalahan dan aku sudah muak untuk menghadapinya, Alex terus kembali padaku dan memohon agar kami tidak berpisah. Bukan kah aku sudah sangat baik, bertahan hingga detik ini bersama Alex? Mengapa aku terus yang di salahkan sebagai cewek yang jahat terhadap pasangannya? Aku yakin, sebenarnya mereka yang mengatakan seperti itu jelas hanya iri. Sebab mereka tak mampu bertemu lelaki seperti Alex, yang mencintaimu sampai seperti orang gila. Sayang sekali aku tidak bisa mencintainya seperti itu juga, aku masih sangat waras. Atau mungkin aku hanya kapok untuk mencinta seseorang sepenuh hati, sebab berakhir pada patah hati. Aku hanya takut, dan tidak mengizinkan, untuk sakit hati lagi. Aku tidak mau merasakan hal itu lagi, karena itu lah aku menutup segala akses yang membuat aku bisa merasakan hal itu. Aku enggan membuka hati untuk siapa pun, dengan alasan untuk melindungi diriku sendiri. Bahkan pada Alex yang sudah bersamaku selama ini. Menurutku, hubungan kami tetap baik baik saja tanpa perlu adanya perasaan bodoh yang mengikatku. Yang hanya akan berujung menjadi patah hati tak berkesudahan. Aku sudah selesai dengan perasaan menyakitkan, yang hingga kini masih bisa aku rasakan. Sialnya lagi, Rendi, sumber patah hati pertamaku justru harus kembali. Membuat luka lama itu terbuka kembali, padahal luka tersebut tidak pernah disembuhkan. Sedikit pun, aku tidak pernah mampu menerima atau berdamai dengan rasa sakit itu, hingga membuat pertemuanku dengan Rendi kembali terasa sesakit ini. * * * * * * * * * * * * K I S A H   Y A N G   T E R L A M B A T * * * * * * * * * * * * 
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN