- 28 -

1720 Kata
Aku berusaha membasahi tenggorokanku dengan menelan ludahku sendiri, demi menyahuti ucapan Rendi. “Memperjelas apa sih? Gue gak ngerti, lo ngomong apaan?” Suaraku pasti terdengar seperti sebuah cicitan, karena berupaya keras untuk keluar. “Gue tau, lo suka sama gue.” Tubuhku mematung seketika, dengan mata yang semakin membola beriringan dengan ucapan Rendi yang begitu lantang. “It’s the reason why, gue minta lo buat jangan suka sama gue.” Ini … apa? Semacam bentuk penolakan? Bahkan ketika aku tak pernah mengungkapkan perasaanku sama sekali? Rendi memperjelas segalanya, membeberkan padaku bahwa ia mengetahui perasaanku selama ini, dan mengucapkannya dengan lantang bahwa ia keberatan dengan perasaanku? “Kata siapa sih, gue suka sama lo? Gue gak pernah bilang begitu!” aku masih berusaha membela diri, dengan suara yang sangat serak. Ucapan dan ekspresiku saat ini pasti sangat bertolak belakang. Harusnya Rendi bisa menyadari, betapa aku tidak nyaman dengan pembahasan ini, betapa aku tak sanggup untuk melanjutkan percakapan ini. Aku sungguh berharap Rendi segera mengakhirinya. “Semua orang juga tau kali, Ra. Meski lo gak pernah bilang, tapi ya keliatan jelas banget sampe anak anak sadar semua.” Kepalaku mendadak pening, mataku semakin berlinang saat Rendi mengatakan hal tersebut tanpa memikirkan bagaimana perasaanku sama sekali. Bahkan saat aku terlihat begitu jelas menahan air mataku yang sudah menggenang. Aku gemetar ketakutan. Hatiku sakit sekali, mendengar pernyataan tersebut. Perasaan yang ku pendam sendiri selama ini, ternyata begitu jelas hingga semua orang menyadarinya. Begitu pun dengan sosok yang aku sukai, yang kini tampak tidak suka dengan fakta tersebut, bahkan saat aku belum mengonfirmasi kebenarannya sama sekali. “Oke.” Aku masih berusaha bersuara, meski suaraku terdengar serak. Tenggorokanku benar benar sakit setiap kali berusaha untuk menjawab ucapan Rendi. Aku bahkan tak mampu melakukan pembelaan macam apa pun, karena mendadak pikiranku buntu. Upayaku dalam menjawab hal tersebut, diiringi raut wajahku yang mengenaskan dan berusaha mati matian untuk tidak menangis di hadapan Rendi, rupanya belum membuat cowok itu gentar dan berhenti melanjutkan setiap ucapannya yang semakin menyakiti hatiku. “Tau gak, Ra? Gara gara lo, anak anak jadi ikut campur sama urusan gue. Mereka ngerasa, sebaiknya gue sama lo aja, karena cewek gue katanya gak baik.” “Gara gara gue?” aku mengulangi pernyataannya, kini aku sudah mulai bisa bersuara, karena tidak terima dengan ucapannya itu. “Sesalah itu gue di mata lo ya, Ren? Gue bahkan gak ngelakuin apa pun, gue gak pernah ganggu hubungan lo sama sekali.” “Harusnya, lo gak suka sama gue, Ra!” “Harusnya, lo salahin cewek lo yang berengsek itu! Dia yang bermasalah, sampe bikin semua orang gak suka, liat lo sama dia!” emosiku mulai tersulut karena ucapan Rendi yang semakin menyudutkanku. “Lo gak berhak ngejugde Nadin kayak gitu!” Aku mengembuskan napas yang kini terasa berat, lalu tertawa sendiri seperti orang gila. Air mataku sudah terasa membasahi pipiku. Dadaku terasa sakit sekali, saat melihat Rendi menuturkan setiap katanya yang secara konsisten menyalahkanku atas kekacauan hubungannya itu. Rendi, cowok yang selama ini aku puja, yang selama ini aku kagumi, yang selama ini aku cintai dalam diam, kini tampak menentang keras perasaanku yang bahkan tak pernah menuntut untuk di balas. Mengetahui bahwa cowok yang aku suka secara diam diam, ternyata mengetahui perasaanku saja sudah cukup menyakitkan. Mendengar setiap perkataan Rendi yang melarangku dengan keras untuk menyukainya, diiringi dengan kalimat kalimat menyalahkanku yang terasa menyakitkan, membuatku tak sanggup untuk terus berdiri tegak. Perasaanku sepenuhnya hancur malam itu. Segala harapku selesai malam itu. Aku tak kuasa menahan tangisku yang pecah, saat Rimat wajah Rendi yang beberapa menit lalu masih aku puja. Aku dapat menangkap Rendi yang khawatir saat melihatku histeris hingga berjongkok sambil menangis sejadi jadinya, aku bahkan tak mampu menahan tangisanku yang memaksa untuk keluar. “Pergi lo! Gue gak mau liat lo lagi!” Aku berteriak sejadi jadinya, saat merasakan Rendi hendak mendekat. Beruntung suasana malam itu di area mini market tidak terlalu ramai, hanya ada tukang parkir yang tampak kebingungan melihatku histeris. Atau dia sudah biasa melihat drama anak muda semacam ini. Aku tidak begitu memedulikan hal tersebut, sebab yang kini aku rasakan sudah cukup menyita perasaanku. Rendi tak mengindahkan ucapanku, cowok itu malah ikut berjongkok di hadapanku. Dadaku semakin merasa sesak. “Sori, Ra ...” ucap Rendi pelan, nada suaranya kini mulai melunak, tidak lagi seperti tadi. “Gue gak mau lo suka sama gue, karena gue gak mau lo buang buang energi lo buat hal yang sia sia. Karena gue gak mau, lo bakal ngerasa kesel setiap kali gue keliatan g****k demi sama Nadin. Mulai malem ini, lo bisa benci sama gue.” Aku semakin menangis mendengar ucapannya, yang sarat dengan penolakan begitu telak, betapa aku tidak diizinkan untuk sekadar menyukainya dalam keheningan sekali pun. Aku bahkan benci saat Rendi malah playing victim, mengatakan bahwa sikapnya malam itu demi perasaanku. Padahal, semua ini jelas jelas demi kepentingan hubungannya. Demi Tuhan, aku tidak pernah melakukan hal apa pun yang mengusik hubungannya. Sikap teman temanku jelas di luar kuasaku, meski mereka juga bersalah, tapi hal tersebut tidak akan terjadi jika hubungan Rendi dan kekasihnya baik baik saja. Aku masih menangis sekeras mungkin, karena tak kuasa menahan rasa sakit yang menderaku malam itu. Sementara Rendi, akhirnya mengikuti ucapanku dengan pergi menjauh dari sana. Cowok itu bergerak menuju motornya, meninggalkanku sendirian di sini. Memang apa yang aku harapkan? Aku bahkan enggan, harus duduk di boncengan motor Rendi meski tak sampai memakan waktu sepuluh menit. Aku mungkin tak akan sanggup, harus melewati waktu sesingkat itu bersama sosok yang telah menghancurkan perasaanku. Sekitar lima belas menit setelah Rendi pergi, Azril datang untuk menjemputku. Cowok itu sepertinya sudah mengetahui kondisiku dari Rendi, sehingga ia tak banyak bertanya apa apa saat melihat wajahku sembab, masih dengan sisa air mata yang memenuhi wajahku. Belum lagi rambutku yang kini juga berantakan. Azril hanya mengajakku untuk kembali ke vila dengan lembut. Sesampainya di vila, aku melihat semua orang tampak tegang saat aku datang. Mereka semua menatapku khawatir, terlebih saat melihat wajahku yang kini pasti sangat kacau. Lalu pandanganku menyapu pada seluruh sudut di ruang tamu vila ini, dan mendapati wajah Rendi yang bonyok. Aku tidak memiliki energi untuk kasihan terhadapnya, sebab yang aku rasakan saat melihatnya lagi, justru perasaan sesak yang kembali melanda hingga membuat tangisku kembali pecah. Aku buru buru berlari ke kamar, mengunci pintu kamar yang seharusnya menjadi kamar kami bertiga – aku, Chaca, dan Lila – tapi aku benar benar sedang tak ingin di ganggu saat ini. Sambil menangis, aku bergerak untuk meraih tas yang aku taruh di dalam lemari yang tersedia. Aku buru buru merapikan seluruh barang barangku. Aku sudah tidak menikmati liburan malam itu. Aku hanya ingin pergi dari sini, agar tidak perlu melihat Rendi lagi. Aku tidak ingin melihatnya lagi, karena rasanya sangat menyikatkan. Ucapan ucapan Rendi yang menyakitkan itu terus berputar di kepalaku, membuatku semakin merasa sesak tak tertahankan jika terus terusan melihat wajahnya. Perasaan pertama yang aku miliki, yang sedang tumbuh dan bersemi meski tidak pernah tersampaikan, justru di patahkan tanpa ampun oleh sosok yang selama ini aku cintai tanpa mengharapkan apa pun darinya. “Tiara, lo mau ke mana?” tanya Chaca saat melihat aku keluar kamar dengan menenteng tas ranselku. “Gue mau pulang.” Aku menyahut singkat, sambil terus berjalan untuk keluar dari bangunan vila. Dapat aku rasakan teman temanku turut mengekor di belakang. “Ra, ini udah malem. Besok pagi aja gue anter lo balik.” Rehan berusaha untuk mengurungkan niatku malam itu. “Gue mau balik sekarang.” “Rendi aja yang pulang.” Lila tiba tiba bersuara, membuat semua orang menoleh terhadapnya. “Lo gak ada inisiatif buat pergi, setelah bikin kekacauan?” Suara cewek itu yang terkenal dingin, kini semakin menyeramkan saat berbicara pada Rendi, dengan ucapannya yang luar biasa tajam. Tak ada yang menimpali ucapan Lila, hingga akhirnya terdengar suara Rendi. “Oke, gue aja yang balik duluan.” Suasana hangat dan suka cita malam itu berubah menjadi kacau. Sampai pagi hari, perasaanku tidak baik baik saja. Acara santai pun sudah tidak seluwes sebelumnya. Rendi yang pulang lebih dulu, sementara aku tetap memutuskan untuk berdiam diri di kamar, bahkan hingga menangis semalaman. Chaca dan Lila berkali kali berusaha menenangkanku, menyuruhku untuk menumpahkan segala sesak yang terasa menyiksa. Namun, aku bahkan tak sanggup menceritakan betapa perihnya yang aku rasakan saat itu. Hari demi hari berlalu, hingga berganti bulan, aku memilih untuk menghindari Rendi. Aku nyaris tidak pernah ikut lagi jika teman temanku berkumpul. Jika tidak sengaja berpapasan dengan Rendi, aku memilih untuk bersikap seolah kami tidak saling mengenal. Sejak hari itu, aku tidak tahu lagi cara untuk menyukai orang lain. Rendi membuatku merasa bahwa menyukai seseorang meski dalam diam sekali pun adalah kesalahan. Aku masih tidak baik baik saja, bahkan mungkin hingga saat ini. Melihat Rendi memaksaku untuk bersikap normal dan melupakan kejadian itu karena sudah berlalu, membuatku semakin tidak terima. Ia pikir aku menikmati perasaan ini? Ia pikir aku nyaman dengan rasa sesak yang masih terasa hingga detik ini? Seandainya waktu bisa terulang, mungkin aku akan memilih untuk menghindari Rendi sejak awal. Mungkin perasaanku tidak akan sesakit ini. Terlebih, saat melihat Rendi masih melangsungkan hubungan tololnya itu dengan pacarnya. Membayangkan cowok itu terus terusan melakukan aksi aneh dan berjuang mati matian untuk sosok yang bahkan tidak ingin diperjuangkan, membuatku semakin marah. Atau memang itu adalah balasan yang diperoleh Rendi akibat menghancurkan perasaanku dulu? Seumur hidup, Rendi tidak pernah bahagia dengan pilihannya. Ada harapan buruk dari aku yang pernah begitu tersakiti karena ulah Rendi, hingga membuat hubungan Rendi tak memiliki perkembangan sama sekali. Aku ingin menunjukan betapa aku sudah bahagia dengan hidupku saat ini. Betapa hidupku begitu lengkap, tanpa cacat. Tidak seperti Rendi yang masih berjuang tanpa tahu kapan berakhir. Aku ingin menunjukan pada Rendi, bahwa hanya aku yang bisa bahagia setelah kejadian malam itu. Namun, nyatanya aku juga tidak sebahagia itu. Menerima Alex saja terkadang sesulit itu. Harapku yang pernah hancur, membuatku merasa tidak ingin berharap apa pun lagi. Hingga membuat perasaanku menggelap, dan melihat segala sesuatu yang dilakukan orang lain menjadi salah. Rasa marahku yang tak kunjung surut, karena ketidakmampuan untuk bersama sosok yang pernah aku cintai sepenuh hati untuk pertama dan terakhir kalinya. * * * * * * * * * * * * K I S A H   Y A N G   T E R L A M B A T * * * * * * * * * * * *  
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN