- 20 -

1651 Kata
Nadin mengembuskan napasnya, terlihat ia mencoba untuk tenang. Lalu wanita itu memasuki rumahnya dan duduk di sofa yang berada di samping kananku. “Aku belum bilang ya?” tanya Nadin, berusaha berkelit. “Chat aku belum kamu bales tiga hari yang lalu, kemarin aku telpon juga gak di angkat. Aku pikir kamu lagi ada di Sumatera dan sinyalnya susah banget.” Aku mengatakan yang selama ini aku pikirkan tentangnya, terkait aku yang berusaha untuk memahaminya yang enggan menerima panggilanku saat bekerja. Namun, mengetahui bahwa Nadin seolah menyembunyikan dirinya yang sedang berada di Jakarta, yang mana sedang berada di kota yang sama denganku, serta tidak mengabariku sama sekali, rasanya aku ingin sekali marah. “Sori, aku lupa.” Hanya itu yang di ucapkannya. Lupa. Aku nyaris tertawa keras saat mendengar ucapan Nadin. Namun, sebisa mungkin aku menahan emosiku sendiri. “Aku besok udah pergi lagi kok, ada liputan lagi di daerah Nusa Tenggara Barat. Ini Cuma ngurus laporan aja ke kantor kayak biasa, dan emang gak sempet ngapa ngapain juga.” Nadin menjelaskan perihal jadwalnya. Aku mengembuskan napas keras untuk ke sekian kalinya. “Aku juga gak minta kamu buat ngapa-ngapain, Nadin. Tapi seenggaknya kamu ngasih tau aku, kalo kamu lagi di sini. Kalo aku gak ketemu kamu di sini, mungkin aku gak pernah tau kamu sempet ke Jakarta.” “Yaa, emang buat apa sih kalo kamu tau juga?” Nada suara Nadin kini mulai meninggi, seolah tidak merasa bersalah lagi. Wanita itu tampak mulai kesal menatapku. Hell, lihatlah siapa yang akhirnya kesal, padahal di sini aku yang di bohongi oleh Nadin. Bukan, padahal di sini jelas Nadin yang bersalah. “Ren, ini-“ suara Azrial terdengar keluar dari kamar, yang segera terputus saat melihat keributan antara aku dan Nadin di ruang tengah. Lelaki itu tak lagi melanjutkan ucapannya, yang ku dengar Azrial akhirnya berkata, “Yah, ribut lagi.” Aku tak mengindahkan ucapan Azril, dan memilih fokus untuk menatap Nadin yang kini malah menatap kesal ke arahku. “Nadin, kita pacaran loh udah lama loh-“ “Yaa justru karena kita pacaran udah lama, Ren! Masa setiap detik aku harus ngabarin kamu sih.” Nadin memotong omonganku dengan cepat, berusaha untuk melemparkan kesalahan kembali ke arahku. Aku tertawa mendengar ucapannya, entah perdebatan seperti ini sudah terjadi berapa kali, tapi tak pernah menemukan titik temu atau mempelajari dari kesalahan sebelumnya. “Kapan aku minta dikabarin kamu setiap detik? Kamu gak bales chat tiga hari aja, atau pernah juga sebulan, aku gak marah.” “Yaa, sekarang buktinya kamu marah.” Nadin kembali menyahut dengan wajah malas. Aku mengembuskan napas keras entah sudah ke berapa kali, seolah tak kuat menghadapi Nadin yang terus membalas ucapanku sekali pun sudah jelas dia yang bersalah. “Ini karena kamu gak bilang sama aku ada di Jakarta. Ya ampun, apa susahnya sih, Din? Segitu susahnya yaa buat kamu ngabarin aku. Just typing I’m in Jakarta now. Segitu aja cukup kok.” “Yaudah lah, sekarang kamu bisa lihat sendiri kan. Nih, aku lagi di Jakarta, aku di rumah, besok aku terbang lagi ke Nusa Tenggara.” Nadin membalasnya dengan tak kalah keras, kali ini ia segera beranjak berdiri, seolah enggan memperpanjang keributan denganku. Wanita itu segera berlalu untuk memasuki kamarnya, meninggalkanku yang bahkan belum selesai berbicara dengannya. Tak akan pernah ada penyelesaian untuk masalah seperti ini, tak pernah ada permintaan maaf meski Nadinjelas bersalah, yang ada hanya balas marah denganku saat aku yang seharusnya marah dengannya. Maka, yang terjadi adalah aku yang di paksa untuk memahaminya. Sejak dulu memang sudah begitu, hanya saja aku selalu merasa sanggup melewati semua ini, dengan setitik harapan terkecil bahwa Nadin akan sadar suatu hari nanti. Azril yang melihat Nadin sudah pergi dari ruang tamu, baru berjalan menghampiriku. Lelaki itu kini duduk di tempat yang tadi di duduki Nadin. Azril tampak menatapku prihatin atas perilaku kakaknya itu. Aku sudah sering melihat tatapan seperti ini, seolah Azril ingin sekali mengatakan. “I told you, Bro.” perihal menjalin hubungan dengan Nadin yang harus ekstra sabar karena sikapnya yang menyebalkan. “Sori, gue juga gak bilang Nadin lagi pulang.” Azril mulai bersuara, membahas perihal akar keributanku dengan Nadin hari ini. “Gue pikir lo tau, soalnya.” Lanjutnya yang menganggap bahwa aku mengetahui hal ini. Aku menggeleng pelan. “Emang Nadin yang gak mau ngasih tau kok. Berarti dia emang lagi gak mau ketemu gue kali.” Azril semakin menatapku prihatin, yang kini wajahku pasti sudah seperti sad boy yang membuat hatinya ikut teriris saat melihatnya. Dan penyebab kemalanganku adalah kakaknya sendiri. Aku paham Azril juga tidak begitu menyukai kakaknya, bahkan sejak awal Azril sudah memperingatkanku untuk tidak perlu berhubungan dengan kakaknya. Tapi aku yang dengan penuh keyakinan, memaksakan diri untuk tetap maju dan berjuang. Begini lah akhirnya, sebelas tahun hubungan kami seolah tak ada artinya di mata Nadin. Atau bahkan, nomor ponselku tidak di save juga di ponselnya karena sempat berganti nomor dan Nadin malas menyimpan ulang. Sebab aku sudah tak pernah melihat w******p story wanita itu. “Gue no komen deh.” Azril mengangkat tangannya, seraya menunjukan bahwa dia enggan ikut campur untuk masalah ini. Aku paham apa yang Azril pikirkan, bahkan jika ia berkomentar sekali pun aku tidak akan mendengarkan. Dulu sekali, Azril masih sering menyuruhku untuk putus saja dengan Nadin, sebab Nadin tidak sebaik itu untuk di perjuangkan. Sikap Nadin yang semaunya juga sering kali membuat Azril kesal setengah mati. Maka dari itu, mendengar aku justru memacari Nadin dan melihat Nadin bersikap semaunya, tapi aku tetap bertahan, Azril sudah enggan untuk mengomentarinya lagi. “Iya, Zril. Iyaa. Sini deh kameranya, gue langsung balik ya.” Aku menunjuk kamera yang tengah di pegang Azril, yang mana untuk aku pinjam itu. Azril menyerahkan kamera tersebut padaku, agar aku bisa segera menetuskan keperluan malam ini yang memang berkunjung ke rumah Azril hanya untuk meminjam kamera. Yang sayangnya justru mendapat sebuah kejutan tak terduga, melihat kehadiran Nadin yang tiba tiba muncul tanpa pemberitahuan sama sekali. Di tambah lagi, aku yang tidak tahu menahu perihal kehadirannya itu dan justru malah menjadi sasaran omelannya. Bukan kah sejak dulu Nadin memang seperti itu? Memang apa yang aku harapkan? Setiap detiknya aku tak pernah berhenti memanjatkan harap agar Nadin bersikap lebih baik lagi terhadapku, tidak mengabaikan ku seperti ini. Usia hubungan kami sudah cukup jauh, dan sudah sepantasnya untuk membahas perihal masa depan kami ke depannya. Tapi, boro boro untuk membahas masa depan, waktu luang untuk menemui Nadin aja nyaris tidak ada. Yang aku ketahui saat ini adalah, jadwalnya yang terlalu sibuk, Nadin yang selalu pergi ke luar kota, serta satu satunya alat komunikasi yaitu telepon juga tidak begitu berguna untuk hubunganku dengan Nadin. Kecendrungan Nadin yang enggan memeriksa ponselnya, atau emmang meriksa tapi tidak begitu di perhatikan dan tidak peduli juga jika pesan itu berasal dariku. Wah, aku semakin tidak paham ke mana arah hubungan ini jika setiap tahunnya umur hubungan ini semakin bertambah, tapi sikap Nadin tak kunjung berubah. Aku pun berdiri untuk beranjak dari sofa di ruangan ini, di ikuti Azril yang berniat mengantarku hingga ke depan rumahnya. Nadin bahkan tak repot repot untuk keluar dan mengatakan apa pun lagi padaku, meski besok ia sudah berangkat kembali ke luar kota demi mengurus pekerjaannya. Jika dulu aku mengatakan cewek ambis itu menggemaskan, maka kini aku akan mengatakan jika keterlaluan, itu jelas tidak baik. Seperti kasus Nadin, yang begitu ambis dengan pekerjaannya. Setelah menempuh pendidikan dengan serius dan aktif di segala bidang orginasasi, aku pikir saat ia lulus, kami bisa menikmati hubungan selayaknya orang pacaran lain. Aku tahu memang akan ada kesibukan pekerjaan yang akan menanti, tapi bukan kah hal itu seharusnya bisa teratasi? Banyak sekali pasangan lain yang juga sama sama bekerja, sesibuk apa pun itu masih bisa saling bertukar kabar. Masa bekerja yang ku pikir akan lebih baik dari masa kuliah dulu, yang bahkan sampai Nadin lulus S2, hubungan kami justru tak memiliki perkembangan apa pun. Baik dalam segi komunikasi, atau pun cara kami berhubungan. Semuanya terasa … semakin runyam. “Besok lo anter Nadin ke Bandara?” tanyaku pada Azril, demi memperoleh informasi lainnya dari adik Nadin itu. Lantaran sang kakak enggan untuk memberikan informasi apa pun kepadaku. Azril menggeleng. “Enggak. Besok gue kerja, dia bisa pesen taksi sendiri kan.” Jelas Azril yang memang besok adalah masih hari kerja, dan Azril juga enggan mengorbankan apa pun demi sang kakak yang juga tidak akan mengorbankan apa apa demi dirinya Aku mengangguk mendengar ucapan Azril. “Pesawat yang jam berapa?” tanyaku lagi. Aku pasti semakin terlihat menyedihkan, karena tidak tahu apa apa perihal Nadin meski wanita itu kini tengah berada di bawah atap yang sama dengannya. Alih alih bertanya langsung, aku justru malah harus menggali informasi dari Azril. “Katanya sih pagi, jam enam pagi. Paling sebelum subuh udah berangkat.” Aku mengangguk lagi, berikutnya aku benar benar berpamitan pada Azril untuk pulang. Aku melangkah memasuki mobilku yang terparkir di depan rumahnya. Tak lupa juga berterima kasih untuk pinjaman kameranya. Aku lihat pintu rumah Azril sudah kembali menutup, mobil ku pun segera melesat dari sana, untuk pulang ke rumah keluargaku terlebih dahulu demi memberikan kamera yang di butuhkan sepupu ku ini. Berikutnya, aku akan kembali ke apartemen yang sudah aku sewa untuk tinggal di Jakarta lagi ini. Akhirnya aku memutuskan untuk pisah tempat tinggal dengan rumah keluargaku yang ramai sekali itu, karena sudah terbiasa tinggal sendiri juga di Surabaya, jadi Mama atau Papa tidak melarang aku untuk pindah ke apartemen mengingat semakin dewasa memang aku membutuhkan privasi. Aku masih tidak terbayang jika harus kembali tinggal dengan suasana yang ramai itu, rasanya sulit untuk melakukan apa pun. Mengingat ucapan Azril yang mengatakan kepergian Nadin ke Bandara besok pagi, aku sampai terpikir untuk mengantarnya ke Bandara dan bangun pagi pagi buta. * * * * * * * * * * * * K I S A H   Y A N G   T E R L A M B A T * * * * * * * * * * * * 
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN