= = = = = Rendi = = = = = Di depan ruangan Pak Santos ada sebuah meja yang merupakan milik asistennya, yang kerap kali menjadi pengumpul dokumen untuk di tanda tangani oleh lelaki itu. Aku pun menaruhnya di sana, seraya menitipkannya pada Azizah, sekertaris Pak Santos itu. Lalu aku pun melanjutkan langkahku untuk ke pantry dan membuat kopi seperti tujuan awalku keluar dari ruangan, meski sesungguhnya aku hanya berusaha menyegarkan diri saja, yang terasa begitu canggung saat melihat Tiara berada di hadapanku. Belum lagi kejadian tadi saat kami saling terpergok menatap satu sama lain. Rasanya ... aneh, tapi mendebarkan. Pikiranku sudah kembali tidak baik baik saja. Mungkin aku memang butuh istirahat lebih. Sepulang kerja nanti, aku harus segera tidur untuk mengistirahatkan isi kepalaku

