Kedatangan seseorang

2404 Kata
Al membuka pintu kamar Manda. Wanita itu kaget melihatnya. “Aku disuruh tidur di sini sama mamah, kamu gak usah kesenangan gitu,” ucap Al. “Aku kaget, bukan kesenangan,” balas Manda sambil mendudukkan dirinya. Ia menyadarkan punggungnya di kepala ranjang. Al menutup pintu. Ia menghampiri wanita itu. “Minta bantal dan selimut. Aku akan tidur di bawah.” “Gak tidur di sini?” tanya Manda sambil menunjuk sampingnya. “Gak akan.” “Tapi malam kemarin kamu-“ “Itu ketika aku gak waras.” Manda cemberut. “Gak usah masang muka kaya gitu, aku gak akan berubah pikiran walaupun melihat wajah jelek kamu.” “Kapan kamu akan menerima aku sebagai istri kamu?” “Gak akan pernah! Istri aku hanya Lisa. Sekarang berikan aku bantal dan selimut. Aku mau tidur.” Manda melempar bantal ke arah Al. Pria itu menangkapnya. “Selimutnya?” tanya Al. “Terus aku pakai apa?” tanya Manda. “Aku gak peduli!” Al menarik selimut Manda. Manda tidak mau memberikannya. Mereka pun saling berebutan selimut seperti anak kecil yang berebutan mainan. Sampai akhirnya Al menarik selimut itu dengan tenaga yang begitu kuat sampai-sampai Manda ikut tertarik dan akhirnya Al jatuh dan Manda ikut jatuh dengan menindih tubuhnya dan apesnya lagi wanita itu malah kecium bibirnya. Mereka terdiam beberapa detik sebelum Al mendorong wanita itu dan cepat berdiri. Ia mengusap bibirnya membersihkan bekas ciuman Manda. Manda berdiri sambil mengukir senyum senang karena secara tidak sengaja ia berciuman dengan suaminya itu. Momen yang sangat menguntungkan untuknya. “Ngapain kamu senyum-senyum?” tanya Al ketus. “Terserah aku. Aku yang punya bibir.” Al memandang sinis wanita itu. Ia duduk, ia menepuk-nepuk bantalnya lalu berbaring. Ia pun menyelimuti tubuhnya dan memiringkan posisinya membelakangi wanita yang menyebalkan itu. Manda naik kembali ke ranjang. Ia berbaring. Ia kedinginan. Ia memeluk dirinya dan berusaha menidurkan matanya. Al memeriksa ponselnya. “Lisa udah tidur apa belum ya? Dia kenapa gak nelfon aku? Apa dia benar-benar tidak merindukan, aku? Benarkah? Ah, menyebalkan sekali, apa hanya aku yang mencintai dia dan dia tidak mencintai aku?” ucapnya dalam hati. *** Lisa melihat langit-langit kamar. “Mas Al lagi apa ya? Apa dia sedang bersenang-senang dengan Manda?” Ia menarik selimutnya. Suhu terasa sangat dingin. Biasanya jika di rumah ia akan mendapatkan pelukan yang menghangatkan tubuhnya. Di sini suaminya tidak ada. Ia sangat merindukan pria itu namun ia belum siap untuk pulang. “Mas, aku kangen kamu. Sangat-sangat kangen. Apa kamu kangen aku juga?” Ia memurung. “Apa aku terlfon aja. Tapi… tapi dia bakalan ngejek nanti. Gak ah, gengsi dong.” Ia mengambil ponselnya. Ia melihat foto-foti suaminya yang tersimpan di galeri. “Mas, aku sangat gak nyaka kamu menikah lagi. Kamu pernah bilang kamu akan setia, kamu hanya akan hidup dengan satu wanita. Kamu bohong! Buktinya kamu menikah lagi! kamu bohongi aku, mas! Laki-laki memang gak bisa dipegang omongannya!” Tidak terasa air mata Lisa menetes jatuh dari kedua matanya. Ia mengusapnya. “Kamu pombohong, mas! Hiks…” Ia menghapus air matanya lagi sampai benar-benar kering. *** Al memejamkan matanya. Baru terlelap beberapa detik ia dibangunkan oleh suara ponselnya. Ia melek kembali dan melihat pesan masuk. Ketika tahu pesan itu dari Lisa tiba-tiba rasa kantuknya menghilang. Ia langsung merugas mendudukan dirinya dan membaca pesan dari Lisa dengan suara yang kencang. [Kamu udah tidur?] Ia cepat membalas. {Aku belum tidur. Aku nungguin kabar dari kamu ?.} {Kamu lagi apa sekarang?} {Udah makan belum?} [Aku lagi gak bisa tidur.] {Aku udah makan. Kamu?} “Dia gak bisa tidur, apa karena… pasti karena itu. Maafin aku ya, sayang.” {Kamu kenapa gak bisa tidur? Aku udah makan kok. Aku telfon ya} Tidak ada balasan lagi dari Lisa. Al segera menelepon istrinya itu dan Lisa mengangkat telfon darinya. “Sayang, kamu kenapa gak bisa tidur? Cerita sama aku.” Lisa menghela napas. “Sayang, kamu mikirin apa? Kamu baik-baik aja, kan? Aku khawatir sama kamu. Kalau ada apa-apa cerita sama aku. Atau aku jemput kamu aja ya, besok.” Lisa meneteskan air matanya. “Aku gapapa, Mas. Aku kecapean aja.” Mendengar nada bicara Lisa yang tidak terdengar seperti biasanya, ia tahu istrinya itu sedang tidak baik-baik saja. “Maafin aku ya, Sayang. Pasti karena aku. Aku buat kamu kecewa.” Lisa terdiam. Mereka sama-sama terdiam. Manda yang belum tidur dan mendengar percakapan Al dan Lisa, ia merasa bersalah. Namun ia tidak menyesali apa yang telah ia lakukan. Ia juga merasa iri pada Lisa karena sangat terlihat Al sangat-sangat mencintai wanita itu. Ia jadi menyesali perbuatannya di masa lalu karena telah menghianati pria itu sehingga kini pria itu membencinya. Andai ia tidak melakukan kesalahan di masa lalu, pasti posisi Lisa sekarang adalah dirinya. Ia pasti sangat menjadi wanita beruntung karena dicintai oleh Aldevaro. Ia mengenal Al begitu lama. Ia tahu sebaik apa pria itu. Al adalah pria yang setia. Meski banyak wanita yang mengejar-ngejarnya bahkan wanita-wanita itu lebih cantik darinya namun pada masa itu, Al tetap memilihnya untuk menjadi kekasihnya. Pria itu begitu baik dan sayang padanya. Masa dimana mereka masih sama-sama. Al sangat mencintainya. Pria itu banyak berkorban untuknya. Pria itu setiap pagi membelikannya coklat dan bunga dan setiap minggu selalu memberikannya hadiah. Al juga sering mengajaknya liburan bahkan mereka pernah liburan ke luar negeri berdua, padahal saat itu mereka masih duduk di kelas 12. Al tidak tanggung-tanggung dalam mencintainya. Pria itu bahkan ingin menikahinya karena mengira ia hamil meski saat itu mereka masih berstatus pelajar. Waktu itu mereka memang siswa nakal. Mereka kadang suka bolos berdua dan sudah sering tidur bersama. Masa SMA adalah masa yang paling menyenangkan dalam percintaan mereka. Dimana mereka berdua saling jatuh cinta, benar-benar saling mencintai satu sama lain. Dan Al benar-benar janji akan menikahinya. Namun keadaan berubah ketika masa perkuliahan. Dimana ia mulai merasa bosan pada hubungan mereka. Ia bosan dengan pria itu karena di matanya Al terlalu baik. Bahkan pria itu tidak pernah memarahinya padahal jelas ia melakukan kesalahan. Pria itu selalu mengalah padanya. Hal itulah membuatnya muak dan pada akhirnya ia menemukan orang baru dan jatuh cinta pada pria lain. Sempat Al tetap ingin berhubungan dengannya, saking cintainya pria itu padanya. Tetapi pada akhirnya mereka putus karena ia lebih memilih pria lain dan meninggalkan Aldevaro. Itulah akhir dari percintaan mereka dan Al pun membencinya sampai detik ini. Lantas bagaimana dengan hubungannya dengan pria lain itu? Tentu saja berakhir. Jika tidak, tentu ia tidak mungkin menjadi istri kedua Al saat ini. Ia putus dengan pria lain itu karena pria itu ternyata hanya mempermainkannya, dan pria itu kini sudah menikah dan bahagia dengan istrinya. Manda menghela napas penyesalan. “Sayang, aku gak akan pernah berubah. Aku akan tetap mencintai kamu sama seperti sebelumnya. Cinta aku ke kamu gak akan berkurang sedikitpun. Kamu jangan khawatir lagi ya, aku gak mau kamu sedih.” Al meneteskan air matanya. Manda yang mendengar perkataan pria itupun tersentuh. Ia pun meneteskan air matanya. Ia jadi teringat momen ketika memutuskan pria itu dan saat itu Al sangat-sangat sedih. Sampai-sampai menangis di hadapannya dan bertekuk lutut, memohon untuk tidak ditinggalkan olehnya. Namun ia tetap meninggalkan pria itu. Ia begitu tega pada saat itu. Manda menutup mulutnya. Hampir saja tangisan keluar dari mututnya. Lisa juga menangis. Al mendengar isak tangis istrinya itu. Ia merasa sangat-sangat bersalah. Ia ingin menghapus air mata wanita itu dan menghiburnya, namun saat ini jarak memisahkan mereka. “Mas, aku… aku gak siap Mas… aku… aku belum bisa nemerima jika kamu punya istri lain selain aku… hiks…” Akhirnya perkataan itu keluar dari mulut Lisa setelah terlalu lama dipendam olehnya. Al mengepal tangannya. Ia sangat merasa gagal menjadi suami yang baik untuk wanita yang sangat ia cintai itu. Lisa tidak bisa menahan tangisnnya lagi. Ia pun mengakhiri percakapannya. Ia lalu menangis sejadi-jadinya. Al juga menangis. Bedannya tangisnya tanpa suara. Pria itu begitu sangat merasa bersalah pada istrinya. Ia tidak ingin menduakan wanita itu. Namun apa yang mau dikata, ketika kedua orang tuanya memaksanya menikah lagi. *** Jam dinding menujukkan pukul 2 pagi. Al terbangun karena merasa ingin buang air kecil. Ia beranjak ingin ke toilet. Namun matanya tidak sengaja menoleh dan melihat Manda yang sepertinya kedinginan. Wanita itu tidur tanpa selimut karena selimutnya ia yang memakainya. Ia jadi kasihan melihat wanita menyebalkan itu. Ia pun mematikan AC. Namun suhu ruangan tetap terasa dingin, mungkin karena cuaca di subuh hari lebih dingin. Dengan terpaksa ia memberikan selimutnya. Ia perlahan menyelimuti tubuh wanita itu. Tiba-tiba ia jadi ingat pada masa lalunya dengan wanita itu. “Dulu aku sangat mencintai wanita ini. Sekarang aku sangat membencinya. Tapi kenapa dia malah jadi istriku?” “Ohh Tuhan, apa kau menakdirkan aku memiliki dua istri? Tapi kenapa harus aku? Aku tidak pernah ingin berpoligami. Aku gak mau punya dua istri. Aku hanya mau satu tapi kenapa kau kasih dua? Aku maunya punya anak tapi kenapa kau malah memberiku istri lagi? Kenapa? Ah, menyebalkan sekali!” “Kenapa aku malah bicara sendiri? Dan kenapa rasa ingin kecingku menghilang? Aarrgghh.” Ia mengacak rambutnya. Karena rasa ingin pipisnya tiba-tiba hilang, ia pun kembali tidur. Namun ia tidak mengantuk lagi. Matanya melek dan sekarang bingung mau melakukan apa. Ia duduk. Ia mengambil ponselnya dan menghubungi seseorang. “Apa kau tau ini jam berapa?” tanya Leo yang kesal karena Aldevaro meneleponnya di jam 2 pagi. “Temani aku begadang.” “Sial.” “Jangan ngebantah. Nanti kau ku pecat.” “Teman laknat.” “Kenapa kau belum tidur jam segini?” “Kau juga kenapa belum tidur, hah?” “Aku udah tidur cuma kebangun aja. Kalau kau?” “Aku belum tidur sama sekali. Masih banyak kerjaan. Makanya beri aku cuti.” “Tidak akan. Kau tidak boleh libur. Nanti siapa temanku di kantor.” “Sialan.” Al tertawa. “Besok ke ruanganku. Ada yang ingin aku bicarakan.” “Besok aku gak masuk kerja. Aku ada urusan. Aku izin.” “Gak, gak boleh!” “Terserah!” Leo memutuskan panggilan. “Sialan,” umpat Al. Manajernya itu benar-benar tidak sopan. Berani-beraninya tidak mendengarkannya padahal ia ini bosnya. *** Manda membuka matanya. Wanita itu akhirnya bangun. Ia mendudukan dirinya dan terkejut saat melihat selimut yang ia pakai. “Bukankah tadi malam aku gak berselimut, apa Al yang memberikannya untukku? Benarkah, ah… manisnya.” Ia senyum-senyum kesenangan. Ia melihat ke bawah ternyata Al sudah tidak ada. Ia turun dari ranajang dan merapikan tempat tidur. Setelah itu ia mandi dan siap-siap sarapan. Ia ke dapur, ke maja makan. Namun di sana ia hanya mendapati mamah Aldevaro. Ia duduk. “Mah, Al mana?” “Udah berangkat kerja.” “Udah berangkat? Bukannya ini baru jam 7?” “Dia berangkat lebih pagi. Katanya ada yang harus dia urus.” “Emm gitu. Terus papah mana kok gak sarapan bareng kita?” “Papah juga gak ada di rumah. Papah berangkat pagi sekali soalnya mau ke luar kota. Dapat tiket pagi.” “Emm gitu.” “Tidur kamu gimana, nyenyak?” Manda mengangguk. “Gimana, Al ada kemajuan?” Manda senyum sambil mengangguk. “Ceritain ke Mamah, Mamah pengen tau.” “Jadi tadi malam itu aku sama Al rebutan selimut. Terus aku kalah jadi aku tidur gak pakek selimut tapi waktu aku bangun-“ “Tunggu dulu. Kalian gak tidur bareng?” Potong Resi. Manda menggeleng. “Kok bisa?” “Al milih tidur di bawah. Tapi waktu aku bangun aku diselimuti sama Al, Mah. Aku seneng banget. Ternyata Al masih perhatian sama aku.” “Dasar anak itu. Kalau kalian gak tidur bareng kapan dong mamah dapat cucunya.” “Maaf ya, Mah. Al kayanya masih marah sama aku. Dan aku juga gak bisa maksa dia. Tapi aku akan berusaha kok. Mamah tenang aja.” “Mamah juga akan bantu kamu. Mamah akan berusaha agar kamu dan Al bisa akur lagi kaya dulu.” “Makasih ya, Mah.” “Iya, sama-sama.” *** “Kak Lisa, ada tamu yang nyariin Kak Lisa,” ucap anak kecil laki-laki pada Lisa. Lisa menyimpan bukunya yang ia baca di atas nakas. “Siapa?” “Ayo liat dulu.” Anak kecil itu menarik tangan Lisa untuk ikut dengannya. Lisa mengikuti anak kecil itu. Sampai di ruang tamu Lisa kaget karena yang datang ternyata Leo. Tadinya ia kira yang datang itu suaminya ternyata yang datang malah teman masa kecilnya yang juga bagian dari panti ini. Leo berdiri sambil senyum-senyum malu pada Lisa. Ia sangat gerogi di depan orang yang sukai itu. “Kamu apa kabar?” Lisa melempar senyuman pada pria itu. “Aku baik.” “Kak Lisa, aku pamit ya. Aku mau main,” pamit anak kecil itu. Lisa memberikan anggukan. Anak kecil itupun melenggang pergi. Leo duduk kembali ketika Lisa duduk. “Tumben kamu main ke sini.” “Aku mendengar Bu Astri sakit jadi aku sempatkan waktu ke sini.” “Emm gitu.” “Iya.” Lisa menundukkan pandangannya. Leo memperhatikan Lisa. Ia melihat wanita itu tampak murung. Di bawah mata wanita itu juga menghitam seperti kurang tidur dan terlihat sangat kelelahan. “Lis,” panggilnya. Lisa mengangkat pandangannya. “Maafin Al, ya.” Lisa bingung. “Kamu ngapain minta maaf atas nama Al?” Leo menunduk. “Harusnya Al tidak menikah lagi. Aku tau pasti berat jadi kamu. Sebagai teman baik Al dan sebagai manajernya aku merasa bersalah karena membiarkan dia menduakan kamu.” Lisa mengangkat kedua sudut bibirnya. Tersenyum palsu. “Gak apa Leo. Kamu gak perlu merasa bersalah. Aku ikhlas kok Al menikah lagi. Lagipula memang salah aku karena aku belum bisa kasih dia anak. Jadi wajar orang tuanya memaksa dia menikah lagi. Sebagai anak yang baik tentu Al harus menyetuinya. Aku gapapa.” “Aku hanya khawatir sama keadaan kamu, Lis. Kamu teman aku jadi aku gak mau kamu sedih.” “Aku baik-baik aja. Kamu gak perlu cemas. Makasih loh Leo, kamu udah perhatian sama aku. Dari dulu kamu selalu peduli sama aku. Aku benar-benar makasih sama kamu.” “Dari dulu kamu gak pernah sadar ya Lis, aku itu suka sama kamu makanya aku selalu peduli dan cemas sama kamu,” ucap Leo dalam hati. “Oh ya, kamu mau minum apa? Kopi atau teh?” “Kopi aja.” “Kalau gitu aku kebelakang dulu.” Leo mengangguk. Lisa beranjak pergi. “Aku relain datang ke sini demi kamu, Lis. Semoga aja kamu baik-baik aja, Lis. Al benar-benar bodoh, harusnya dia bisa memperjuangkan kamu daripada harus menikah lagi,” ujar Leo berbicara sendiri.” ***
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN