Subuh Yang Pilu

1860 Kata

DUA BULAN KEMUDIAN. ***** “Yeay… Ril sudah TK..” Dhara bertepuk tangan. Kemudian dia menunduk untuk menyeimbangi tinggi tubuh Aeril. Habis pipi Aeril di cubit-cubitnya. “Belajar yang rajin. Jangan asyik bermain!” “Ok, Ma. Understand, understand. Mommy dan Om Raf sudah habis bebel Ril jauh-jauh hari. Ril sudah simpan satu-persatu di sini.” Dadanya di tepuk-tepuk. “Excuse me? Ril bilang itu bebelan?” Rafka menyela. Dia menyipitkan mata memandang Aeril. “Hehe..” Aeril sekedar cengingisan. Marya menggeleng perlahan. Dia berjongkok dan memegang kedua pipi putra kesayangannya itu. “Sayang.. Mommy, Mama dan Om Rafka tidak bermaksud membebel aau memarahi Ril. Cuma mau mengingatkan dan memberi petuah, Aeril harus berprilaku baik dan hormat. Baik pada teman, hormat pada guru. Supaya apa y

Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN