Lastly, Before He Left!

1526 Kata

NANA mondar-mandir di depan sofa. Dia tidak senang duduk, hatinya sedang bimbang. Dia menatap wajah Aeril yang sudah nyenyak tidur di atas sofa. Nana menghela napas berat. Dia bahagia melihat Aeril bahagia. Oleh karena itu dia mengizinkan pria yang bernama Haris itu untuk terus menemui Aeril ketika pulang sekolah. Namun, dalam waktu yang sama dia merasa bersalah pada Marya. “Apakah aku ini terlalu lancang membuat keputusan seperti ini? tapi aku harus bagaimana lagi? aku bimbang. Jika aku tidak izinkan, Aeril pasti sedih. Jika aku izinkan, aku yang risau. Bagaiamana kalau kak Yaya tahu? bisa habis aku.” wajahnya di usap kasar sehingga hijabnya jadi sedikit berantakan. “Kak Yaya.. maafkan Nana.” gumamnya. Nana tersentak ketika mendengar suara pintu di ketuk. Kak Yaya! Cepat dia membuka p

Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN