Marya, Rafka dan Aeril keluar dari mobil yang sama. Tiga orang itu tampak mesra tidak ubahnya seperti keluarga yang sangat harmonis. Rahang tegas Haris mengeras sehingga menampakkan dengan jelas urat-uratnya. Dia menahan dadanya yang kian berombak menahan sesak. Dadanya bagai ditikam, apalagi mengingat pengakuan Rafka tempo lalu. Apakah benar adanya? Haris meletakkan kembali box mainan di tangannya. Mobil kembali di nyalakan, dia beranjak dari situ. Dari pada dadanya hangus terbakar melihat kemesraan tiga orang itu lebih baik dia pergi. Dalam waktu yang sama Marya menoleh ke arah mobil Haris yang sudah menjauh. Mata Marya menyipit, dia merasa pernah lihat mobil itu, tapi tidak terlalu ingat. “Kenapa aku merasa tidak asing? Ah sudahlah!” Marya menggeleng untuk menepis rasa penasaran y

