Happy reading Typo koreksi **** 'Rindu seorang ayah, tidak bisa di nilai dengan apapun' ... author ... **** Rumah berlantai dua baru saja di masuki oleh seorang pemuda yang masih mengenakan seragam sekolah berbalut jaket, pemandangan pertama yang ia lihat ketika berhasil berada di dalam rumah tersebut adalah figur Fahmi ayahnya yang tengah duduk sendiran di sofa ruang tengah dengan sebuah macbook di tangannya. Fathur Arta Putra, tampak berhenti sejenak. Kembali, ucapan om Yudha menganggunya. Jika, di lihat sekilas ayahnya tampak baik-baik saja. Lalu, apakah om Yudha berbohong kepadanya. Tapi, melihat sikap om Yudha meski dirinya baru mengenal sosok pria paruh baya itu. Fathur tampak yakin dengan ucapan beliau. "Mau sampai kapan kamu berdiri di sana, Fathur." Suara tegas dan bera

