WANITA CANTIK DI DALAM HUTAN

1075 Kata
"Ahh...sampe juga akhirnya" Wongso bermonolog sambil menyandarkan sepedanya di sisi gubuk. Tangan kiri dan kanannya penuh barang dari warung Bude Imah. Melihat pintu gubuknya terbuka wongso berjalan masuk dengan terlebih dulu melepas sandal gambar burung walet miliknya. "Assalamualaikum" "Waalaikumsalam" Melihat Wongso yang membawa bungkusan plastik hitam membuat Kakek sastro menjadi penasaran. "Kamu beli apa, Le ?" tanyanya. Wongso tadinya hendak berjalan ke dapur untuk meletakkan barang bawaannya dan merapikannya. Tapi urung dilakukan karena kakeknya bertanya, lalu membawa bungkusan itu kepada kakeknya. Sejujurnya Ia pun tak tau apa isinya. Tak sopan rasanya jika membuka pemberian orang lain di depan si pemberi. "Kakek coba buka saja ! Itu tadi Bude Imah yang kasih, wongso tidak buka" Ucap wongso. "Ya sudah, kita lihat sama-sama" ajak sang kakek Ternyata bungkusan hitam itu berisi Kopi, Teh, s**u, Gula, Beberapa Mie instan juga Rokok. Sebuah pemberian kecil seperti ini sangat berarti bagi Wongso dan Kakeknya, Bukan karena nilai barang tetapi karena ketulusan yang memberi. "Eh, kok repot-repot sih itu si Imah" Sambil memegang Rokok kesukaannya 'Gudang Walet'. "Wongso juga heran, tadi katanya sih buat syukuran. karena si Asti ulang tahun, padahal Asti ulang tahunya masih agak lama !" Ucap wongso panjang lebar. Kemudian meminta sebatang rokok kepada kakeknya untuk disulut. "Ya, mungkin saja to. Kan tidak harus tepat hari lahirnya" ucap kakek sastro bijak. Wongso manggut-manggut, kemudian meninggalkan kakeknya untuk membuat kopi. Rokok tanpa kopi rasanya kurang pas menurut wongso. "Kluntang...klunting..." suara sendok beradu dengan gelas. Gubuk yang ditinggali wongso dan kakeknya tidaklah luas, karena itulah suara sekecil apapun dapat mudah di dengar. Aroma kopi panas mulai memenuhi seluruh ruangan gubuk. "ahh, nikmat rasanya jika ada tambahan pisang goreng" batin wongso. Pasangan kakek dan cucu itu kini tengah asik menyesap pahit bercampur manisnya kopi sembari menerbangkan asap dari hidung dan mulut. lalu memulai pembicaraan ringan seputar hidup dan kehidupan di desanya. "hmm..kenikmatan yang hakiki" author mewakili keduanya hehe. Mengobrol ringan seperti malam ini membuat tak terasa waktu mengalir seolah lebih cepat. Hingga Kakek Sastro dan Wongso memutuskan untuk sama-sama istirahat. Dalam tidurnya, wongso seperti berjalan menyusuri Hutan gelap. Lembab nya udara bercampur sunyi membuat bulu kuduknya merinding naik. Ia terus berjalan mengikuti kata hati, hatinya mengatakan untuk terus maju. sampai pada Ia melihat titik kecil terang dari dalam Hutan. Langkahnya semakin Ia mantapkan dan bergerak perlahan namun pasti. Ia mencari jawaban dan terus mendekati titik cahaya itu. Cahaya yang didatanginya ternyata adalah sebuah gubuk dengan anyaman welit sebagai atapnya. ( Welit = ............. ) Langkahnya Ia hentikan sejenak, Ia sembunyi di balik pohon dan sedikit menyembulkan kepalanya untuk mengintip. Tampak di pandangannya seorang wanita cantik keluar dari gubuk, mengenakan pakaian seperti wanita-wanita zaman kerajaan. "Hah ? Bagaimana mungkin seorang wanita secantik itu di dalam hutan sendirian !" Wongso bermonolog. Wongso masih memperhatikan kala sosok samar-samar berjalan ke belakang gubuk kecilnya dan tiba-tiba.., Ada yang menjawil bahu kanannya. wongso yang seolah tak ingat berada dimana, menganggap itu adalah kakeknya. "ssstt..Kek ! Jangan colek-colek..." ucap wongso lirih menegur "Hm ? Tadi....!" gumamnya dalam hati, alisnya dinaikkan sebelah. Tangannya diangkat sebelah mengusap dagunya seolah sedang berpikir. Satu Jawilan agak kasar kini dirasakan. Wongso bersiap menoleh hendak menegur supaya yang disangka kakeknya itu menghentikan perbuatannya. "Ihh...kakek apa sih toal toel terus ?" "suutt" Wongso menoleh dan .... "Astaghfirullahaladzim" wongso reflek mengucap. Ternyata wanita yang Ia lihat tadi lah pelakunya.Bagaimana bisa ? Dan kapan tepatnya wanita itu sudah berada di belakangku ? batin wongso. Wongso memundurkan tubuhnya kebelakang pelan-pelan sekali, menetralkan rasa kagetnya lalu hendak bertanya. Namun belum sempat bertanya, dirinya terlebih dulu dikagetkan dengan perubahan tubuh wanita itu. Separuh tubuhnya berubah bersisik dan menyerupai ular, mulut wanita itu berdesis dan Sesekali menjulurkan lidah yang bercabang. Wongso bersyahadat dan tak lama kemudian bangun dari tidurnya. Tubuhnya bersimbah peluh, seperti orang sehabis lari pagi atau mencangkul di sawah. "huff...ternyata mimpi !" Wongso sedikit lega. Wongso bangkit dari posisi berbaringnya kemudian berniat menunaikan sholat malam. Jam kini menunjukkan pukul 02:35 wib, waktu yang biasa Ia gunakan untuk bermunajat kepada Sang Tunggal. Setelah selesai bermunajat wongso tidak langsung tidur, Ia memilih melantunkan ayat-ayat Al-Qur'an dalam keremangan lentera. Kejadian aneh Ia alami saat membaca salah satu surat. Sebuah bisikan di telinga kanannya "Aku menunggumu !" Wongso terkejut dan menutup Al Qur'an lalu beristighfar. "Siapa yang berbisik tadi ? Suaranya seperti wanita" Wongso membatin. Ia tak ingin ambil pusing, segera bangkit untuk meletakkan mushaf yang di genggamannya itu di tempatnya dan terlebih dulu menciumnya. "Ya Allah, Berikanlah jalan terang" Wongso Berdo'a dalam hati. Wongso kemudian merebahkan dirinya, bermaksud untuk melanjutkan tidur yang sempat terganggu karena mimpi buruk tadi. Tak terasa hari mulai pagi, suara kokok Ayam hutan bersahutan. Burung-burung mulai memainkan melodi alam, gemericik air sungai menambah suasana nyaman. "Gubuk itu bahkan terasa lapang seperti hati yang terisi namanya, mencintai kekasihnya dan mengharap ridho darinya. Terimakasih atas nikmat mu hari ini ya tuhan, oksigen yang tak habis ku hirup walau berkali-kali, denyut jantung yang memompa darahku tanpa permisi, lidahku yang lunak yang masih diberikan kesempatan mengucap kata taubat. Terimakasih kakek, jika bukan izin Tuhanku dan Tuhanmu. Aku sudah menjadi jasad kosong yang tak mengenali kebaikan dan luasnya berkah yang dicurahkannya". Engkau membantuku menyadarinya kakek ! Wongso bersyukur atas pagi ini, pagi yang selalu membawakan angin baru. senyum cerah terukir di wajah tampannya. "Ah, iya ! Aku sebaiknya kerumah Dodi nanti" Ucap wongso, Kemudian menyalakan sebatang Rokok andalan. Rokok yang namanya seperti surya pagi ini, entah ! mungkin saja kebetulan. Habis sudah satu batang di hisapnya, wongso pergi ke dapur untuk menyiapkan amunisi mengisi energi di pagi hari di bumi Pertiwi. "Pagi ini akan ku buatkan tumis kingkong spesial , resep dari teman di prindapan" Pasti kakek langsung syok dan minta ampun. "la...la...la" Wongso menikmati memasak dengan iringan musik dari suara panci beradu dengan spatula. Entah apa yang membuatnya terlihat senang sekali pagi ini, apa karena mimpi wanita cantik ? Yah mungkin saja, oh author tau itu karena uang untuk membeli minyak tidak diminta kembali kakeknya...hehe. Lumayan beli cendol dawet ! batin wongso sambil bersiul. Duh pantas saja seperti anak SD baru dapat uang jajan. Wongso memang tak pernah meminta uang kepada kakeknya, Ia biarkan kakeknya memegang semua uang hasil kebun dan Lain-lain. Ia tak menginginkan uang tak seberapa itu, dibandingkan kesehatan kakeknya yang mulai sepuh. Alhasil Wongso kini bergelar Joker (Jomblo Ker). Biarlah, wanita urusan nomer sekian. Yang penting sore nanti Ia siap-siap adu mekanik dengan penunggu Hutan Larangan. Fisik hasil tempaan selama bertahun-tahun memang membuatnya tangguh, bahkan bisa dihitung dengan jari berapa kali Ia sakit. Cucu pendekar gitu loh !
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN