Esok harinya aku benar-benar menepati janjiku dengan Zayn, pergi bersamanya untuk membeli sepatu, dan mentraktirnya untuk melunasi hutangku. Aku tak mengatakan padanya tentang kebohongan Tristan yang kenakanan, aku bahkan tak memberikannya kabar jika aku akan pergi dengan Zayn sepulangku bekerja. Membalas perbuatan konyolnya yang sangat menyebalkan dan kekanakan. Zayn bercerita padaku tentang hal-hal lucu, dia bisa membuat lelucon, bukan tipe pria kaku yang tak memiliki selera humor seperti Tristan. Aku menatap Zayn ketika di berbicara namun anehnya aku akan membandingkan sikapnya dengan Tristan. Sepertinya Tristan meracuni otakku, aku pulang berpikir dia sudah mencuci otakku untuk terus mengingatnya dimana aku berada. Kami masuk ke salah satu toko sepatu merek Buccheri, melihat-lihat se

