"Maaf persidangan atas nama Eliana dan Satria jam berapa,Pak?" tanya Satria cemas. "Maaf, Pak, persidangannya sudah satu jam yang lalu." "Apa ... ?" "Benar, Pak." "Astaga ... apa ini. Ini terjadi padaku." Lirih Satria kesal. Satria berjalan tanpa tenaga tubunya lunglai ke lantai. Geram, rasanya ingin sekali menumpahkan rasa panas yang menggelegak di dalam hati. Akan tetapi Satria bisa apa? Semuanya sudah terlambat. Jantung Satria berdegub lebih kencang dari sebelumnya. Satria tahu jika ia salah ini salah. Namun, ia terlanjur terjebak semakin dalam. Dalam rasa yang tak ia mengerti apa namanya. Entah kini cintanya telah menghilang, hal sepele yang dia lakukan Satria kadang membuat jiwa memanas. Rasanya mengenaskan sekali nasib Satria ini. Ia tertawa dalam hati. Permainan hidup ini su

