Aku dan Mas Yudi membantu Ibu mengemas pakaian yang akan dibawa. Tidak lupa hadir juga duo sosialita abal-abal. Mereka bertindak sebagai komentator tanpa ada niat sedikitpun untuk membantu kami. Mulut keduanya terus saja mengoceh tiada henti. Sampai berbusa-busa kayaknya meski aku dan Ibu diam saja. Aku memang diam, tapi jangan ditanya kesalnya seperti apa jika terus menerus mendengar ocehan mereka. Untung telinga ini sudah kebal. Anggap saja itu radio. "Tik, apalagi yang perlu kita bawa selain pakaian?" tanya Ibu seraya memasukkan pakaian yang sudah dilipat. "Pakaian saja, Bu. Itupun nggak usah semuanya, insyaAllah nanti aku belikan yang baru." Mas Yudi yang baru selesai mengelap mobil tiba-tiba masuk dan menjawab pertanyaan Ibu. "Yang benar saja, Yud. Masak kamu mau belikan baju bua

