"Ibu mau, kan seandainya kuboyong ke kota untuk tinggal di gubuk kami?" tanyaku sekali lagi. Ibu masih diam saja. Pandangannya kembali menerawang, namun tidak juga melepaskan genggaman tangannya. Sedetik kemudian tangan keriput itu mengusap puncak kepalaku. Duh, Ibu, aku terharu. "Ibu takut kalau tempat tinggal kami tidak layak? Ibu tidak usah khawatir, walaupun seadanya, tapi rumah sendiri dan insyaallah nyaman," ucapku karena Ibu masih belum mengeluarkan sepatah kata pun. "Tik, Ibu sudah bilang merasa nyaman tinggal bersama kalian. Sesungguhnya yang membuat kita nyaman atau tidak itu bukan tempat tinggal kita. Tapi, ini, Tik." Ibu kembali mengambil tanganku dan meletakkan di dadanya. "Hati dan pikiran waras yang akan membuat hidup kita tentram. Aku melihat hidup kalian begitu bahagi

