Kutarik tangan Mbak Wiwid. Ia yang tengah memegang tangan Ibu yang terus meronta meminta agar dilepaskan. Semakin Ibu meronta, semakin kuat juga mereka memegangnya. Mbak Ranti memegang kepala Ibu. Ya Allah, setan apa yang sudah merasuki dua anak kesayangan itu. Dua lawan satu, tentu saja aku kalah. Saat aku hendak menolong Ibu, Mbak Ranti mendorongku hingga jatuh terjengkang. Ibu terus menggelengkan kepalanya pertanda ia tidak mau minum air yang yang diberikan paksa oleh Mbak Ranti dan Mbak Wiwid. Ibu kalah tenaga dengan keduanya, hingga akhirnya cairan dalam botol itu berhasil masuk ke dalam mulut Ibu. Mbak Ranti dan Mbak Wiwid tertawa puas melihatnya. "Sebenarnya kalian memberi ibu minuman apa? Kok rasanya aneh?" Tanya Ibu masih dengan napas tersengal. Ibu berusaha memuntahkan kembali

