The Girl That Got Away - 12

1076 Kata
            I don't want a prefect boyfriend. I just want someone who acts silly with, someone who treats me well and loves being with me                                                                                     - loadtve.com -   Mia tidak berani menatap ke arah Nathan, jadi ia memalingkan wajahnya keluar jendela. Mereka pergi satu mobil, padahal Zack dan Rino membawa motor sendiri, tapi karena hujan akhirnya mereka ikut mobil Nathan. "Di luar ada cowok lebih ganteng dari aku  ya?" tanya Nathan sambil melihat ke arah Mia memandang di saat mereka berhenti di lampu merah. Rino dan Zack mulai terbatuk-batuk mendengar Nathan. "Gue baru tahu kalau si Mas Bro tukang gombal" tukas Zack. Mia menoleh ke arah Nathan dan menjawab, "Banyak!" "Tapi yang sayang dan cinta kamu kan di sini..." lanjut Nathan membuat Rino dan Zack terjungkal ke belakang sambil berteriak, "AAAA, mampus lo!" jerit Zack histeris sambil memukul jidat Rino. "s****n!" Rino membalas memukul Zack dan heboh berdua. "Eh bisa diem enggak lo berdua? Kalo berisik turun aja!" cetus Nathan. "Jangan Mas Bro, hujan gede di luar, nanti kita masuk angin gimana?" sahut Zack. "Mati juga gue enggak perduli" balas Nathan s***s. Mia tertawa ringan setelah di belakang tidak terdengar lagi jawaban dari mulut Rino dan Zack. Nathan menatap Mia yang tengah tertawa, "Cantik" gumamnya. "Baru sadar?" sahut Mia yang mendengar gumaman Nathan. Nathan mengangguk sambil tersenyum. "Iya..." "Kemana aja selama ini?" sindir Mia. Kepala Zack tiba-tiba muncul di tengah-tengah mereka berdua, "Dia nimba di gunung kidul, Mia. Makanya baru sadar sekarang kalo lo itu cantik pake banget!" cetus Zack. "Belok kiri Bro!" info Rino mendadak. Nathan dengan sigap membanting setirnya ke kiri dan sempat berbelok memasuki jalan yang lebih kecil dari sebelumnya. "Besok aja bilangnya, Bre!" sembur Zack melotot ke arah Rino. "Tadinya mau besok aja, tapi gue kebelet be'ol!" "Setan! Pantesan dari tadi bau lo!" Mobil Nathan memasuki sebuah bangunan cukup mewah, gedung bertingkat tiga dengan bentuk modern dan asri. Lingkungannya seperti berada di dalam rumah, hanya memiliki banyak kamar. Rino bilang rumah jompo ini adalah punya keluarga besarnya, Pamannya yang mengelola. Rino berada di depan dan membawa teman-temannya ke sebuah ruangan, katanya di sanalah ia kan menemui pamannya. Ternyata paman Rino tidak di tempat, namum ia sudah menitipkan pesan bahwa Rino dan teman-temannya akan datang dan bekerja pruh waktu di tempat ini. Seorang wanita paruh baya mengajak mereka melihat-lihat ruangan tempat para jompo beraktivitas. Mia sempat berhenti melangkah ketika menemukan seorang wanita tua yang menangis tersedu-sedu. Menurut wanita yang mengajaknya tour the house, wanita itu baru saja masuk beberapa hari yang lalu. Mata Mia berkaca-kaca mendengar cerita tentang wanita tua itu. Nathan menggenggam tangan Mia dan tidak melepaskannya sampai acara tour-nya selesai. . . . Tiga jam berlalu, setelah melakukan lapor diri dan mendapatkan surat keterangan bahwa Nathan dan Mia bekerja paruh waktu sebagai relawan di panti ini, mereka pun pulang. Hari sudah mulai gelap. Nathan harus mengembalikan kedua sahabatnya ke sekolah untuk mengambil motor mereka. "Aku lapar..." suara Mia memecah kesunyian di dalam mobil Nathan. Kedua teman Nathan menyambut suka cita keluhan Mia. "Ah! Ternyata kita banyak kesamaan, Mia" cetus Zack. "Baru juga sama-sama laper! Banyak dari mana?!" sahut Rino gemas. Terdengar Zack berdecak, "Ah elo enggak perhatian, tadi waktu Mia hampir mewek karena lihat nenek-nenek tua yang nangis, sebenernya gue juga mau nangis. Nah sekarang pas gue laper, eh Mia juga laper...sama kan?" terang Zack enggak nyambung. Nathan membelokkan mobilnya ke sebuah restoran cepat saji yang sudah terkenal dengan nama Mac Donald. Ya ini adalah tempat favoritnya. Zack dan Rino membuka pintunya dengan riang. "Kok lo berdua girang banget sih?" tanya Nathan. "Ya, gimana enggak girang, temen gue kan lagi happy karena baru jadian. Nempeeeelll aja kayak upil ama bakpau, terus sekarang mau ditraktir makan..." sahut Rino. "Emang gue bilang mau traktir?" "Lo enggak perlu bilang, kita tahu kok Bro" sambar Zack menepuk pundak Nathan. Nathan meraih tangan Mia dan menggandengnya masuk ke dalam restoran. "Issh enggak dilepas-lepas daritadi!" seru Rino sambil meihat ke arah tangan Nathan dan Mia. Mia ikut melihat ke arah tangannya yang digandeng Nathan, "Tahu nih...belum juga jadian perasaan deh" "Huh? Belum jadian tapi udah gandeng-gandeng begini?" Zack geleng-geleng kepala, "ck--ck--ck--parah lo Bro!" katanya. Nathan menatap Mia tajam, "Enggak perlu kata-kata, yang penting action!" sahutnya. "Tuh denger Mia..." ujar Rino. "Percuma nanya gue dong ya? Gue jawab atau enggak jawab, tetep aja dia anggapnya gue udah jadi ceweknya" cetus Mia sambil mencibir ke arah Nathan yang manggut-manggut. Mereka masuk ke dalam antrian order dan memesan makanannya masing-masing ketika sudah sampai di depan. Nathan membayar semua pesanannya dan membuat Rino dan Zack melonjak kegirangan lagi. "Mas, nanti kentang gorengnya di antar ya..." ujar wanita yang menjadi petugas restoran itu sambil memberikan nomor meja pada Nathan. Matanya mencuri-curi pandang menatap Nathan setiap ada kesempatan. Menghitung uang kembalian menjadi kesempatan untuk memperlambat atau menahan Nathan berdiri lebih lama di depannya. Ini membuat Mia gemas. "Aku aja yang nungguin uang kembaliannya, kamu ke meja duluan..." ujar Mia. Nathan memandang Mia yang jutek dengan ekpsresi heran, namun ia sering menangkap raut wajah Mia yang seperti ini sebelumnya, "Kamu cemburu ya?" bisiknya mendekati telinga Mia. Mulut Mia mengatup dengan keras, ia menatap Nathan. Masih susah ia percaya kalau sekarang Nathan yang menginginkan dirinya, memintanya berulang kali menjadi pacarnya. Yang daritadi tidak mau melepaskan pegangan tangannya dan yang tidak berhenti menatapnya. Ia sempat berpikir untuk membalas Nathan karena sudah mensia-siakan dirinya bertahun-tahun. Tapi dengan kenyataan seperti yang terjadi di depan matanya sekarang, apa ia rela bila Nathan mengalihkan pandangan darinya lagi? "Banget! Rasanya aku pengin jambak mulutnya yang sok senyum-senyum itu" Mia balas berbisik di telinga Nathan dan Nathan tertawa ringan. "Ini Mas uang kembaliannya..." ujar wanita itu dengan senyuman termanisnya. "Terima kasih Mbak cantik" sahut Nathan dan membuat pipi si Embaknya memerah kegirangan, tapi sebaliknya dengan Mia. Matanya melotot melihat tingkah Nathan. Nathan membawa baki yang penuh orderannya menuju ke mejanya, di mana Zack dan Rino sudah lebih dulu menempati meja dengan membawa sebagian pesanannya. Dahi mereka berkerut melihat Mia yang bersungut-sungut kesal duduk di sebelah Nathan. "Kenapa dia?" tanya Rino ke Nathan. Nathan menatap Mia-nya, "Cemburu katanya..." ujarnya. "Huh? Cemburu sama siapa?" tanya Zack kepo. "Katanya enggak jadian tadi?" sindirnya ke Mia. Mia menghela napasnya kesal.  Ia menatap Nathan dengan sorot mata tajam. "Ck! Ya udah! Kita pacaran! Tapi awas ya kalau kayak tadi ke cewek lain! Bukan cuma mulut si cewek yang aku acak-acak! Mulut kamu juga! Dasar genit..." tukasnya sambil dengan kesal menggigit ayam pesanannya. "Acak-acaknya pakai mulut kamu ya..." sahut Nathan. "HUEKZ!" sahut teman-temannya kompak dan mata Mia yang membesar.  
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN