Tiga hari telah berlalu sejak insiden bersejarah yang menggetarkan fondasi SMK Astapura 1. Tiga hari sejak tragedi kecepirit berjamaah yang membubarkan aula wisuda dengan aroma yang tidak akan dilupakan sejarah, dan tentu saja, tiga hari sejak meledaknya gairah purba di bawah meja server Lab Multimedia yang melibatkan Samuel "Sam" Wijaya, Seli Maharani, dan si hijab manipulatif, Sari Rahayu. Selama tujuh puluh dua jam itu, Sam memilih mengurung diri di dalam kamarnya yang pengap, memulihkan trauma fisik dari benturan tiang podium sekaligus trauma psikologis dari "pemberkatan" dua lubang surga yang menguras habis stok kalsium dan harga dirinya.
Matahari di Kampung Astapura baru saja menyembul malu-malu di balik rimbunnya pohon pisang milik tetangga, memanggang atap seng rumah keluarga Wijaya hingga suhu udara di dalam kamar Sam mencapai level operasional mesin jet yang overheat. Sam masih terkapar tak berdaya di atas kasur tipis beralaskan sprei gambar karakter kartun yang sudah pudar warnanya. Mulutnya mangap lebar, mengeluarkan bunyi ngorok yang mirip knalpot bobokan motor matic yang dipaksa nanjak. Posisinya benar-benar memalukan kasta pria dewasa: ia tidur telentang, kaos kutang putihnya melar parah di bagian ketiak, dan tanpa celana sama sekali.
Sam sengaja membiarkan bagian bawahnya polos karena "Si Joni"—aset berharganya yang sering dibilang tidak masuk akal ukurannya—masih membutuhkan sirkulasi udara maksimal setelah mengalami lebam ungu akibat hantaman tiang mic tempo hari. Namun, pagi itu, efek hormon remaja usia 19 tahun kembali berulah. Di balik selimut tebal bermotif bunga matahari yang menutupi separuh tubuh bawahnya, sebuah "tenda pramuka" berdiri tegak menantang langit-langit. Joni mengaceng sempurna, urat-uratnya menegang kaku dan berdenyut sombong, membuat selimut itu menjulang tinggi ke atas seperti gunungan wayang kulit.
BRAAAAKKK!
Pintu kamar ditendang terbuka dengan kekuatan penuh hingga engsel karatan itu menjerit pilu. Ibu Siti Aminah, sang penguasa dapur yang suaranya lebih tajam dari silet, berdiri berkacak pinggang di ambang pintu. Di tangan kanannya, sebuah sapu lidi yang diikat karet gelang tampak siap digunakan sebagai senjata pemusnah massal.
"SAMUEL WIJAYA! Bangun lu, kebo d***o! Udah jam delapan lu masih molor aja! Lu kira ini hotel berbintang?! Anak bujang bukannya bantuin bapak lu di bengkel malah bikin pulau iler!" omel Ibu Siti dengan volume maksimal.
Sam hanya melenguh dalam tidurnya, "Hnggg... bentar Sel... dikit lagi... lubangnya rapet... aduh Sari, jangan digilir dulu..." Sam membalikkan badannya, sama sekali tidak menyadari maut sedang mengintai di depannya.
Ibu Siti melangkah masuk dengan emosi mendidih. Namun, langkahnya terhenti seketika. Mata tajam mak-mak tukang sayur itu menangkap sebuah kejanggalan anatomis yang luar biasa di balik selimut Sam. Ada tonjolan raksasa, lurus, dan sangat keras yang mengangkat kain selimut itu tinggi-tinggi.
"Bujug buneng... astagfirullahaladzim, itu apaan yang bediri di balik selimut? Kaki keseleo apa gimana? Kok mumbulnya tinggi bener?" gumam Ibu Siti pelan. Rasa marahnya mendadak berganti menjadi rasa penasaran yang mematikan.
Dengan perlahan, seperti ahli penjinak bom, Ibu Siti menjulurkan tangannya dan menjepit ujung selimut itu. Dalam satu tarikan pelan namun pasti... SREEEET! Selimut itu meluncur jatuh ke lantai. Ibu Siti mematung. Matanya melotot hampir keluar, mulutnya menganga lebar. Di depan matanya, tanpa penghalang sehelai benang pun, Joni milik Sam terpampang nyata. Posisinya tegak lurus mengarah ke perut, dengan ukuran yang sangat tidak masuk akal—panjang, tebal, dengan kepala yang mengkilap menantang udara pagi.
"Ya Allah Gusti Pangeran! Ini anak makan apaan dari orok?! Kok bisa segede batang singkong begini?!" batin Ibu Siti menjerit histeris. Ia teringat milik suaminya, Suparman, yang kalau kedinginan menyiut seperti sosis ayam kedaluwarsa. Rasa penasaran mengalahkan akal sehat. Tangannya yang kasar perlahan-lahan terulur ke depan, gemetar ragu-ragu. "Astagfirullah Siti, ini anak lu sendiri! Dosa! Tapi... ya ampun penasaran banget, ini beneran daging apa kayu jati?"
Dalam momen d***o yang luar biasa, telapak tangan Ibu Siti turun dan menggenggam batang Joni Sam. "Buset! Anget, kaku, berdenyut! Nyata ini mah!" batinnya menjerit kaget. Secara refleks mekanik, tangan Ibu Siti melakukan gerakan ritmis naik-turun yang pelan. Srok... srok... srok... Sentuhan itu menembus alam bawah sadar Sam. Di tidurnya, otak d***o Sam sedang memutar ulang adegan panas di bawah meja Lab Multimedia.
"Aaaahh... iya Sel... jepit Sel... rapet banget m***k lu... mmmmh, enak banget Sari, isep lagi..." Sam mendesah keras, pinggulnya terangkat mencari gesekan. Mendengar desahan m***m itu, kewarasan Ibu Siti kembali bak disambar petir.
"ASTAGFIRULLAHALADZIM! BANGUN ANAK BIADAB! OTAK LU ISINYA s**********n DOANG YA!"
PLAAAAAAAKKKK!!!
Sapu lidi itu menghantam tepat ke arah Joni yang sedang tegang-tegangnya.
"AAAAAAAAAAAARRRRRGGGHHHH!!! ANJING SAKIT!!!"
Sam terbangun dengan lolongan histeris. Matanya terbuka lebar, rasa perih dan ngilu menjalar dari ujung Joni hingga ke ulu hati. Joni yang tadinya gagah langsung layu seketika, mengkerut panik. Sam langsung meringkuk seperti janin, memegangi selangkangannya sambil berguling-guling.
"Ibu!!! Apa-apaan sih, Bu?! Patah ini Bu! Patah!" teriak Sam panik.
"Aset negara mata lu peyang! Mandi lu sekarang! Boker yang bersih, jangan sampe lu kecepirit lagi kayak di sekolah! Habis itu ke bengkel, bantuin Bapak lu!" ancam Ibu Siti sebelum membanting pintu.
Sam meratap d***o. Ia melangkah menuju kamar mandi belakang dengan gaya jalan pinguin cacat. Di bawah guyuran air dingin, bukannya kapok, Sam malah teringat wajah Seli yang merah padam. Ia mulai menggerakkan tangannya secara manual lagi. "Ayo dikit lagi... mau crot..." Karena terlalu semangat, kaki Sam yang licin menginjak sabun batangan.
SREETTT! BRUK! Sam terpeleset menghantam tembok, dan tepat pada saat itu... CROOOTTTTT! s****a Sam meluncur deras bukan ke lantai, tapi melesat ke atas mengenai mukanya sendiri dan nempel di dinding seng kamar mandi membentuk pola menyerupai peta kepulauan nusantara. "Aduh... mampus... perih banget mata gua!" umpat Sam sambil mengucek matanya yang kena tembakan sendiri.
Setelah perjuangan membersihkan diri, Sam keluar dengan kaos oblong dekil dan celana pendek kargo yang ditarik tinggi-tinggi. Ia menuju bengkel motor kecil milik bapaknya. Di sana, Bapak Suparman Wijaya sedang asyik membongkar blok mesin motor bebek jadul.
"Baru bangun lu, Bos? Gua kira lu udah mati suri!" tegur Suparman tanpa menoleh. "Sini lu, pegangin karburatornya!"
Sam berjongkok dengan sangat hati-hati, memposisikan paha terbuka lebar (ngangkang).
"Pelan-pelan napa, Yah. Ini lagi masa pemulihan kritis. Otot-otot Sam lagi tegang," keluh Sam.
Suparman mendengus, "Otot tegang apaan?! Lu dari tiga hari lalu jalannya ngangkang mulu. Lu abis disodomi siluman rawa di sekolah hah?!"
"Sembarangan lu, Yah! Ini bisul, Yah! Gede banget segede bakpao daging di pangkal paha! Nyeri bener nih!" Sam beralasan.
"Bisul pala lu peyang! Sini lu, pegangin kunci busi!" bentak Suparman. "Pak RT Dudung kemaren cerita, katanya lu boker di celana pas naik panggung wisuda! Bikin malu silsilah keluarga aja lu! Pantesan celana abu-abu lu kaga dibawa pulang, lu buang ke mana hah?!"
Sam mendadak mati kutu. Ia menunduk, pura-pura fokus membersihkan pelampung karburator. Namun, tangannya yang masih licin karena sisa sabun mandi membuat botol oli baru tergelincir. Oli hitam itu tumpah tepat di area s**********n celana Sam.
"Waduh! Basah semua ini!" seru Sam panik.
"g****k! Dasar anak i***t! Oli mahal lu tumpahin ke s**********n! Lu mau gaya-gayaan biar k****l lu licin?!" Suparman makin emosi, ia menjitak kepala Sam berkali-kali dengan kunci inggris.
"Aduh Pak! Sakit! Ini tuh kecelakaan kerja! Lagian celana Sam jadi kelihatan kayak habis kencing di celana!" keluh Sam.
Tiba-tiba, suara motor matic berhenti dengan rem yang berdecit kencang. CIIIIEEEEEETTTTT! Seorang gadis turun dengan gerakan kasar. Itu Seli Maharani. Penampilannya pagi itu benar-benar menguji iman. Seli hanya mengenakan daster rumahan berbahan spandek tipis berwarna kuning cerah yang sangat ketat di bagian d**a. Dari jiplakannya, jelas sekali ia tidak memakai bra. Dua "p****l" yang tiga hari lalu Sam lumati dengan beringas kini menonjol keras menantang udara pagi.
"Pagi, Bapak Suparman..." sapa Seli dengan senyum sopan namun matanya melirik tajam ke arah Sam yang masih jongkok ngangkang dengan celana basah oli di s**********n.
"Eh, neng Seli. Pagi-pagi udah seger bener dasteran aja. Nyariin siapa neng?" sapa Suparman ramah.
"Iya nih Pak, nyariin Sam. Ada urusan penting soal... soal ijazah kemarin," jawab Seli.
"Oh, tuh bocahnya ada di ujung. Bapak ke warung Bu Rina bentar ya, mau beli kopi sama rokok eceran. Sam, beresin tuh blok mesin jangan sampe ada baut sisa! Tuh, temenin neng Seli ngobrol."
Suparman melenggang pergi. Begitu punggung bapaknya menghilang, raut wajah Seli langsung berubah beringas. Ia melangkah maju mendekati Sam. Aroma parfum stroberinya menusuk hidung Sam, membuat Joni yang tadi trauma sapu lidi perlahan mulai berdenyut bangkit lagi.
"Heh Pinguin d***o! Lu pura-pura budek ya?!" bisik Seli mendesis emosi.
Sam berbisik panik, "Ssttt! Sel! Lu ngapain ke mari pake daster murahan begini?! Tuh p****l lu nyetak banget, anjing! Gua colok kunci pas juga lu!"
"Biarin! Biar mata lu melek! Lu kemana aja 3 hari ini hah?! Lu mau lari dari tanggung jawab abis jebol gua?!" seru Seli sambil menunjuk d**a Sam.
"Lari gimana, betina d***o! Joni gua lebam parah! Terus tadi pagi ditabok sapu lidi sama emak gua! Patah ini lama-lama burung gua!" Sam membela diri.
"Bodo amat! Gua telat dapet, Sam! Gimana kalo ada bibit d***o tumbuh di perut gua?! Kan p**u lu yang muncrat di dalem, d***o! Anget-anget lu semburin semua ke rahim gua!" Seli makin emosi.
"Ya elah Sel, baru juga tiga hari masa udah telat dapet! Lu aja yang panikan lebay! Lagian kan lu sendiri yang genjotnya kenceng banget kemaren di bawah meja! Gua udah bilang pelan-pelan!"
"b*****t lu! Jadi lu nyalahin gua?! Pokoknya lu harus perhatiin gua! Jangan lu malah asik chattingan sama si betina hijab c***l itu! Kalau ketauan, gua potong Jono lu kasih makan lele!" ancam Seli.
"Sumpah kaga Sel! Gua trauma liat muka Sari. Lu doang di hati gua sekarang, percaya deh."
Seli mendengus, "Awas aja lu bohong! Liat nih, daster gua sengaja gak pake daleman k****t sama beha biar lu inget terus sama yang kemaren."
"Aduh Sel, jangan digoda dong... Ini lagi di bengkel, oli di mana-mana... Joni gua lagi senut-senut pengen bangun nih," Sam mulai salah tingkah.
Bukannya mundur, Seli malah berjongkok tepat di sebelah Sam. Ia mencondongkan tubuhnya ke depan, membiarkan belahan dadanya yang bebas terekspos jelas. "Biar lu nggak lupa rasanya punya gua, Sam d***o," bisik Seli dengan senyum binal.
Tangan kiri Seli yang mungil menyelinap mulus ke balik celana pendek kargo Sam yang basah oli dan tanpa celana dalam.
"Seli! Gila lu ya!" bisik Sam panik, matanya melotot. Tangannya refleks memegang blok karburator kuat-kuat agar terlihat sibuk.
"Diem lu, nikmatin aja sebelum bapak lu balik," ancam Seli pelan. Tangannya langsung menemukan dan menggenggam batang Joni yang ternyata sangat reaktif. Seli mulai mengocoknya pelan namun pasti, meremas batangnya di tengah-tengah bengkel yang terbuka.
"Aah... Sel... gila lu di bengkel... pelan... mmmh," Sam merintih tertahan. Keringat dinginnya menetes jatuh ke atas blok mesin Yamaha tua itu. Panik, nikmat, dan ketakutan terciduk warga bercampur menjadi satu sensasi yang membuat mata Sam merem-melek.
"Enak kan lu, anjing? Sini biar cepet crot lagi," bisik Seli sambil memasukkan jarinya untuk memainkan ujung kepala Joni.
"Mmmhhh... ahh gila Sel... gua bisa crot beneran ini di blok mesin bapak gua... aah..." Sam megap-megap menahan suara desahannya. Tangannya yang memegang obeng gemetar hebat, tanpa sadar melakukan gerakan maju-mundur mengikuti irama kocokan tangan Seli di bawah sana.
Tiba-tiba, sebuah bayangan besar muncul di ambang pintu bengkel diikuti suara melengking yang paling ditakuti Sam seumur hidupnya.
"Sam... Samuel!"
Itu suara Ibu Siti!
Seli tersentak kaget dan langsung menarik tangannya dari dalam celana Sam secepat kilat. Sam yang sedang berada di puncak kenikmatan terlonjak berdiri karena serangan jantung mendadak, sampai-sampai kepalanya membentur keras stang motor di atasnya—DUUUUKK!
"Aduh!" Sam mengaduh sambil memegangi kepalanya, sementara selangkangannya masih berdenyut kencang karena 'interupsi' mendadak itu.
Sam dan Seli langsung menengok ke arah pintu. Mereka berdua mematung dengan wajah pucat pasi, napas memburu. Ibu Siti berdiri di sana sambil memicingkan mata, memegang sapu lidi yang sama.
"Lu ngapain jongkok deket-deketan gitu sama Seli?! Terus itu... Sam! Kenapa celana lu basah lagi di bagian depan?! Lu kecepirit lagi ya di depan Seli?!" teriak Ibu Siti penuh kecurigaan.
"Enggak Mak! Ini oli! Tadi botolnya tumpah!" jawab Sam dengan suara cempreng karena panik.
Seli hanya bisa menunduk, wajahnya yang merah padam disembunyikan di balik rambutnya, sementara tangannya yang tadi 'bekerja' diam-diam dilap ke kain dasternya sendiri. Ibu Siti melangkah maju, auranya terasa seperti malaikat maut yang membawa sapu lidi keadilan.
Bersambung...