“Hah...” desah lega Nando saat punggungnya menyentuh ranjang apartemen. Hari yang sangat melelahkan. “Nan, menurut kamu permintaan Mami gimana?” Rindy tengah duduk di depan cermin rias sembari melepas anting. “Kalo aku pribadi aku setuju sama Mami. Lagian aku, kan bulan depan udah mulai kerja di kantor Papi. Takutnya kamu ada apa-apa malah gak ada orang. Kalo di rumah ada Mami, ada bibi sama pekerja yang lain juga. Aku lebih tenang nanti kerjanya.” Rindy berbalik menatap suaminya. “Ya udah aku nurut aja. Jadi kapan kita pindahannya?” Nando bangkit menghampiri Rindy. Membawa perempuan itu berdiri dan dipeluknya dari belakang. “Hari Minggu. Kitakan butuh quality time juga. Apalagi semalem aku, kan belum dapet jatah.” “Bukannya waktu itu udah? Lagian aku hamil Nando.” “Apaan sih, Yang

