Ivory terbangun kala merasakan goncangan pelan di bahunya. Camelia membangunkannya dan mengajaknya agar lekas turun. Ia merenggangkan kedua tangannya yang terasa sangat kaku. Ivory pikir dengan tertidur sejenak, maka ia akan lebih bisa menetralkan rasa gugupnya.
Nyatanya salah. Ia semakin merasa jantung nakalnya mencoba untuk keluar dan kabur dari tubuhnya. Ia benar-benar gugup, hingga sampai di tingkat di mana kedua lututnya bergetar hebat, nyaris terjatuh.
“Ayolah, jangan berlebihan. Ini kan hanya pertemuan pertama,” ucap Ivory menyemangati dirinya sendiri.
Camelia sudah menghilang entah kemana, dibawa oleh seorang Guardian, sementara Guardian yang berjalan bersisian dengannya menggiringnya untuk masuk ke dalam Istana Dewan Tertinggi. Ya, bisa dibilang tempat itu adalah istana saking megahnya rumah tersebut.
Dua buah pilar tinggi berukir tulisan-tulisan yang tak dapat dimengerti olehnya, menyapa indera pengelihatannya. Ivory memperhatikan sekeliling. Pemilihan warna cat yang elegan, karpet biru tua yang membentang dari ujung kakinya hingga ke depan pintu, semuanya terasa mencolok di mata Ivory. Kerlap-kerlip lampu yang menyelimuti tanaman-tanaman kaktus yang dipasang berjejeran seakan membangkitkan suka cita bagi siapapun yang mendekatinya.
Alunan-alunan violin yang berpadu dengan piano memanjakan telinga siapapun yang mendengarnya. Orang-orang yang berlalu lalang mengenakan jas dan dress terbaik yang pernah Ivory lihat memanjakan matanya yang terasa panas. Benar-benar seperti di negeri dongeng.
“Kau duduklah di kursi putih itu.”
Guardian yang sedari tadi membimbingnya berjalan menunjuk sebuah kursi kosong yang di bagian senderannya terlah terukir indah nama Ivory Kelana. Ia menelan ludahnya dan duduk di sana. Sebagian besar orang-orang yang berada satu bis dengannya telah masuk ke ruangan itu, tak terkecuali sahabatnya, Jelita. Ia dengan senyum lebar melambaikan tangannya pada Ivory, yang disambut dengan senyuman simpul. Mata Ivory mencari-cari keberadaan Camelia namun tak menemukan orang itu.
Mungkin bagian ini diperuntukkan bagi para peserta Copulation yang pertama, batinnya.
Pandangan Ivory beralih ke bagian atas. Di sana, telah berdiri beberapa orang yang tertawa-tawa seraya mendentingkan gelas mereka satu sama lain. Sepatu mengkilap, rambut di-wax, gelungan yang indah, parfum yang memabukkan, semuanya berpadu menjadi satu dalam istilah Primer. Mendengus kesal, ia menolehkan kepalanya ke bagian kanannya.
Di sisi kanan, terdapat banyak orang yang mengenakan pakaian waiters dengan make up mencolok dan tatanan rambut yang berbeda. Para waiters itu membawa berbagai macam nampan minuman yang Ivory yakini sebagai alkohol dan kawanannya. Ivory belum pernah minum sebelumnya. Ia begitu ingin menyicipi barang seteguk minuman yang dibilang sebagai air surga itu.
Perut Ivory berbunyi keras. Dia kelaparan. Dia belum makan sama sekali semenjak 16 jam yang lalu. Makanan terakhir yang ia makan hanyalah buah aprikot kesayangannya dan segelas s**u segar pemberian tetangga. Liurnya nyaris menetes melihat deretan makanan yang dikeluarkan oleh para waiters di depannya.
Ayam, lobster, babi panggang, udang ...
Bisakah ia memakan itu semua?
“Tuan-Tuan dan Nyonya-Nyonya—“
Lamunan Ivory dipecahkan oleh suara pembawa acara yang menggelegar.
“Selamat datang di Malam Perjamuan Peserta Copulation!”
Sambutan riuh membawa Ivory untuk ikut bertepuk tangan seadanya. Ia menemukan seseorang yang berdiri di atas podium dengan tatanan rambut yang luar biasa keren. Giginya yang putih bersinar kala ia tersenyum lebar. Ia memperkenalkan dirinya sebagai Hadid.
“Bagi para peserta Copulation yang pertama kali mengikuti acara ini, saya ucapkan selamat datang! Dan para peserta Copulation yang sudah pernah mengikuti acara luar biasa ini, selamat datang kembali! Nikmati malam perjamuan dari tuan rumah yang luar biasa baik hatinya ini, dan kenali pasangan kalian sebelum acara resmi dibuka!”
Riuh suara orang-orang di sekitarnya semakin membuat Ivory frustasi. Ia menggigit bibirnya dan mencubit pahanya kuat-kuat agar tidak lari dari ruangan itu.
“Sekarang, saya akan memanggil masing-masing pasangan untuk saling bertemu dan mengenal—“
Ivory melirik dengan gusar. Berada tak jauh dari atas podium, berdiri beberapa pria dan wanita yang tersenyum congkak ke arahnya. Ralat, ke arah para peserta Copulation. Mereka adalah Gen E, Kaum Primer, yang mendaftar Copulation tahun ini. Beberapa dari mereka mengangguk bak menyetujui perkataan sang pembawa acara.
Mata Ivory menatap barisan para pria tua berbadan buncit yang merokok dari cerutu mahal mereka. Pria tua itu terlihat mengerikan. Ia tak henti berdoa supaya Aaron Magnifico bukanlah salah satu dari pria berbuncit itu.
“Hiro, Lee!”
Nama peserta Copulation yang pertama kali disebutkan adalah seorang laki-laki. Lelaki bernama Hiro Lee itu lantas berdiri dari duduknya. Terlihat jelas jika ia cukup ketakutan kala dipertemukan dengan pasangan Copulation-nya, seorang wanita dewasa dengan dandanan yang bisa dibilang menor.
“Jelita, Kara!”
Kini Jelita sahabatnya berdiri dan menghampiri pasangan yang disebutkan oleh Hadid. Tak disangka, pasangan Jelita adalah seorang lelaki berparas tampan yang Ivory perkirakan berusia pertengahan tiga puluhan. Ivory menelan ludahnya. Cukup beruntung juga si Jelita.
“Kelana, Ivory!”
Namanya dipanggil.
Ivory berdiri dengan takut-takut mendekati Hadid. Ia melirik ke si pembawa acara yang memanggil nama Aaron Magnifico dengan lantang.
“Magnifico, Aaron!”
Salah seorang dari kerumunan pria tua itu perlahan menampakkan dirinya. Ia berjalan turun dari tempatnya berdiri bersama koloninya. Ivory menahan napas saat melihat sosok itu berjalan ke arahnya.
Tidak. Ia tak memiliki perut buncit seperti pria lain. Tubuhnya begitu ... proporsional.
Pria itu jauh lebih tinggi darinya. Ia mengenakan setelan kemeja hitam bermotif polkadot samar yang dipadupadankan dengan jas bermotif garis-garis abu sederhana. Celana hitamnya selaras dengan sepatu hitam mengkilatnya yang Ivory yakin pasti harganya setara dengan gajinya bekerja selama 2 tahun penuh.
Ia berwajah tampan.
Ivory harus mengakui jika pria itu sangat tampan. Rambut dark brown-nya yang dibiarkan tertiup oleh angin yang entah datangnya dari mana sungguh membuat Ivory terpana. Pria itu memiliki sepasang hazel yang indah, dengan bulu mata lentik dan alis tebal yang semakin mempertegas bingkai wajahnya.
Ivory memperhatikan pasangannya dengan saksama. Aaron Magnifico memakai masing-masing 3 buah piercing di telinga kanan-kirinya. Sebagai sentuhan akhir, pria itu tak lupa menyematkan sunglasses trendy dan jam tangan bermerk yang sudah pasti harganya selangit.
Singkat kata, ia sungguh memesona.
Pria itu melemparkan smirk ringan pada Ivory, yang sukses membuat gadis berumur 20 tahun itu cengo untuk beberapa saat.
“Sekarang, selamat bertemu dengan calon pasangan kalian!”
Sedetik setelah sang pembawa acara mengucapkan kalimat itu, Aaron berjalan dengan santai mendekatinya. Ia tersenyum simpul sembari mengangguk pelan.
“Ivory Kelana?”
Sungguh, Ivory begitu ingin menjawab iya dengan tegas, namun lidahnya terasa sangat kaku. Bibirnya membeku. Ia bahkan kesusahan bernapas hanya karena tatapan tajam dari sosok di depannya.
“Hey, benar kau Ivory Kelana?”
Ivory mencubit pahanya sendiri sebelum menjawabnya dengan anggukkan pelan.
“Ku rasa kau sudah tahu namaku. Aku Aaron Magnifico.” Ia membunggukkan tubuhnya pada Ivory.
Mata Ivory membola lebar. Kaum Primer yang bersikap sopan pada Kaum Sekunder saja sudah bisa dibilang langka. Apalagi yang mau membungkuk pada manusia rendah sepertinya...
“Ku mohon jangan membungkuk,” ucap Ivory secepat mungkin. Ia menarik bahu Aaron agar kembali tegak seperti semula. Di detik itu pula ia menyadari kesalahannya.
“Astaga, maafkan aku!”
Aaron terkekeh pelan. Ia menepuk bahu pasangannya selembut mungkin. “Jangan meminta maaf. Menyentuhku bukan suatu kejahatan.”
Ucapan dengan nada santai itu semakin membuat Ivory rikuh. Tidak biasanya Kaum Primer bersikap ramah terhadapnya. Hampir tidak ada kecuali Roger.
“Jangan merasa tidak enak padaku. Sopan santun sudah diajarkan turun temurun dalam keluargaku.”
Ia tertawa lagi.
Ivory menyukainya.
Ia menyukai tawa renyah yang keluar dari bibir Aaron Magnifico.
Ia menyukai deep voice Aaron.
Ia terpesona pada lelaki itu.
“Ku rasa kita harus duduk,” ucap Aaron. “Bagaimana kalau di sana?” Ia menunjuk ke arah dua buah kursi di ujung ruangan. Ivory mengangguk setuju dan berjalan mengikuti Aaron. Calon pasangannya itu menarikkan sebuah kursi untuk Ivory sebelum memesan minuman.
“Bourbon whiskey, please.”
Ia melemparkan senyumnya pada salah satu bartender cantik. Ivory yang duduk di sebelahnya bahkan sampai memiringkan kepalanya demi bisa melihat senyuman dari seorang Aaron Magnifico.
“Kau minum apa?”
Ivory menimang-nimang sesaat. Tak lama kemudian ia memutuskan, “Banana Milk, boleh?”
Aaron tertawa lagi. Kali ini ia bahkan sampai menutup mulutnya dengan kepalan tangannya agar tidak terlalu mengganggu sekitar. Kaca matanya saja nyaris jatuh saking hebohnya dia tertawa. Ivory menatapnya bingung.
“Banana Milk? Seriously? Tak pernahkah kau mencoba alkohol sebelumnya?”
Ivory menggeleng lemah. Ia memang berniat mencoba alkohol suatu saat, tapi tidak saat ini...
“Itu minuman terenak yang pernah ku minum dan aku sudah tak meminumnya dalam waktu yang lama. Jadi umm... bolehkah aku meminta Banana Milk?”
Aaron terkikik. Tangannya terulur tanpa aba-aba dan mengusap lembut surai hitam Ivory. Ivory terpaku. Tubuhnya menegang kala sentuhan 3 detik itu membuyarkan konsentrasinya.
“Ya ampun, lucunya…”
Lucu.
Aaron-tampan-wangi-dan-super-sopan-Magnifico itu menyebutnya lucu...
Ivory tersipu.
“Banana Milk, please.” Pada akhirnya Aaron memesan apa yang Ivory inginkan.
Setelahnya Aaron memutar kursinya dan menghadap tepat di depan Ivory. Ia mencoba memandang wajah Ivory yang menunduk secara otomatis.
“Jangan menunduk, Ivory.” Aaron Magnifico menyentuh dagu Ivory dan mendongakkannya perlahan-lahan. Sial bagi Ivory karena sungguh, saat ini jantungnya terasa akan copot saking gugupnya. Ivory tersenyum simpul atas perlakuan calon pasangannya. Gugup dan sipu berpadu menjadi satu.
“Kau punya gigi kelinci.”
Ivory buru-buru mengatupkan mulutnya. Ia bahkan tak sadar jika membuka mulutnya saat tersenyum. “Ah, iya. Dua gigi depanku ini memang besar, jadi—“
“Kau manis.”
Pipinya terasa panas. Ivory yakin saat ini wajahnya sudah semerah apel. Napasnya sedikit tersengal meskipun ia tidak berlari. Detak jantungnya meninggi, tangannya terasa dingin namun anehnya, ia merasa terbakar.
Dua kata yang membakar tubuhnya. Calon pasangannya menganggapnya manis. Ditambah senyumnya yang lebar saat menatap wajahnya. Ivory tak pernah menyangka jika orang seperti Aaron Magnifico lah yang akan menjadi calon pasangannya. Bukan pria tua yang kasar, melainkan pria tampan yang sopan dengan senyum menawan.
Bolehkah Ivory merasa bahagia?
“Mengingatkanku pada seseorang.”
Ivory mengernyitkan keningnya. Pandangan Aaron menerawang menembus matanya.
“Siapa itu?” tanya Ivory.
Bahkan saat melamun pun ia terlihat seperti pangeran.
Aaron menjawab pertanyaan Ivory dengan senyum yang lebih terkembang dari sebelumnya.
“Kekasihku. Namanya Joy. Ku rasa setelah Copulation ini selesai, aku akan menikahinya.”
Senyum di bibir Ivory perlahan pudar, berbanding terbalik dengan Aaron yang tersenyum lebar.