MENDAKI Gunung Ciremai membutuhkan keberanian, tenaga ekstra dan perhitungan yang cukup matang. Karena, tidak sedikit kisah para pendaki tersesat di Gunung Ciremai, mengalami peristiwa mistis, dan meregang nyawa karena kecelakaan. Gunung Ciremai berada diketinggian 3.078 di atas permukaan laut. Gunung yang berada di wilayah taman nasional ini, merupakan atap Jawa Barat. Gunung ini menyimpan banyak kekayaan alam dan pemandangan yang sangat indah. Dari puncak gunung ini, para pendaki dapat menyaksikan golden sunrise saat matahari terbit, dan silver sunset jika matahari terbenam. Maka itu, puncak Gunung Ciremai merupakan tujuan dari banyak pendaki di Indonesia. Baca juga: 4 Elang Langka dan 3 Kucing Hutan Tambah Koleksi Taman Nasional Gunung Ciremai Namun, bagi yang ingin mempelajari aneka tanaman, hutan Gunung Ciremai menyimpan pohon saninten, pasang, jenitri, mara, kareumbi, aneka jirak, jenis-jenis ara, ki sapu, medang, mareme, bingbin, pandan gunung, dan jamuju. Begitupun dengan hewan, di Gunung Ciremai kita masih bisa menemukan bangkong bertanduk, percil Jawa, kongkang jangkrik, katak pohon emas, kucing hutan, macan tutul, kancil, kijang, jelarang hitam, landak Jawa dan hewan lainnya. Ilmuan asal Belanda, Junghuhn pernah mendaki Gunung Ciremai dan meneliti aneka tanaman dan binatang itu.
Saat itu, dia menemukan cekungan berbentuk liang yang banyak burung walet. Tempat itu lalu diberi nama Gua Walet.pendaki bisa memanfaatkan gua ini untuk beristirahat. Pemandangan di sini juga sangat menyenangkan mata. Jarak dari Gua Walet ke puncak Gunung Ciremai hanya 30 menit. Sedang dari kaki gunung, bisa 9-10 jam. Untuk mencapai puncak Gunung Ciremai atau Puncak Sunan Cirebon, ada empat jalur yang bisa kita tempuh. Tiap jalur mewakili nama desa, seperti jalur Desa Palutungan, Linggarjati, Apuy, dan Padabeunghar. Tiap jalur beda tantangan. Seperti di Jalur Palutungan.
Jalur ini paling populer dan sangat disenangi pendaki. Dari Kuningan, pendaki bisa naik angkot ke Resort Cigugur atau Kantor Taman Nasional Gunung Ciremai (TNGC). Dari sini, masih ada beberapa pos lagi. Baca: Libur Paskah, Gunung Ciremai Kuningan Diserbu Pendaki dari Berbagai Daerah Pertama Pos Cigowong. Pos ini biasa digunakan pendaki mendirikan tenda. Lalu perjalanan bisa dilanjutkan ke Pos Kuta, Pos Pangguyangan Badak, Arban, Tanjakan Asoy, Pasanggarahan, Sanghyang Ropoh, Gua Walet dan puncak. Dari pos pertama ini, perjalanan mencapai puncak bisa memakan waktu 1-2 hari. Selanjutnya Pos Linggarjati. Pos ini punya nilai sejarah Perundingan Linggarjatui. Jalur pos ini dikenal ekstrem, dengan jalan yang terus menanjak. Jika mendaki lewat pos ini, pertama dari Desa Linggarjati, lalu naik ke Pos Linggasana, Pos Cibunar, Pos Leuweung Datar, Kondang Amis, Kuburan Kuda, Pangalap dan Tanjakan Seruni. Setelah itu, melewati tanjakan Bapa Tere. Baca: Nyi Pelet, Siluman Pemuja Kecantikan Penguasa Gunung Ciremai Setelah melewati tanjakan Bapa Tere, pendaki bisa mendirikan tenda di Pos Batu Lingga, lalu ke Pos Sanggabuana. Masih ada satu pos lagi sebelum kepuncak, yakni Pos Pengasinan. Jarak tempuh dari jalur ini bisa 2-3 hari. Jalur ketiga adalah Desa Apuy. Jalur ini bisa ditempuh dari Majalengka, lalu ke Desa Apuy. Pos Pertama adalah Berod, lalu Pos Arban, Pos Tegal Masawa, Pos Tegal Jamuju, Pos Sanghyang Rangkah, Gua Walet dan puncak Ciremai.
Jalur ini jarang dipakai. Dari semua pos itu, ada beberapa pos yang terkenal angker karena aura mistisnya kental. Seperti pada Pos Kuburan Kuda misalnya. Di pos ini, konon ada kuburan kuda jaman Jepang yang sangat dikeramatkan warga sekitar.
Sedang di Pos Batu Lingga, konon tempat ini pernah menjadi tempat Wali Singo berkhutbah kepada para pengikutnya. Menurut cerita warga sekitar, Pos Batu Lingga ini dijaga dua makhluk halus bernama Aki dan Nini Serentet Buntet. Terakhir di Pos Pengsungan. Di sini, ada bunga yang tidak penah layu atau edelweiss. Pada malam tertentu, di pos ini terdengar suara lengkingan dan derap kaki serdadu Jepang. Tidak sedikit pendaki yang pernah mendengarnya. Namun, yang paling sering menjadi perbincangan warga sekitar terkait misteri Gunung Ciremai adalah Misteri Nyi Linggi, dan dua macan kumbang, serta jalak hitam dan tawon hitam yang selalu mengiringi perjalanan para pendaki
Banyak para pendaki tersesat di Gunung Ciremai saat menuruni lembah. Rata-rata mereka melewati jalur setapak yang membawanya ke suatu tempat. Seperti yang dialami empat sekawan asal Bekasi, Utis Sutrisna, Encam, Naning, dan Peking. Pada awalnya, mereka mendaki dengan lancar dari Jalur Palutungan. Bahkan, mereka sempat menginap semalam di Gua Walet. Setelah sampai puncak, mereka turun melalui Jalur Linggarjati. Dari sinilah petualangan mereka dimulai. Dari puncak, mereka mengikuti petunjuk batu nisan pendaki yang tewas kecelakaan, lalu turun melalui Jalur Linggarjati. Namun, saat turun mengikuti jalan setapak, mereka bukan turun ke Jalur Linggarjati. Tetapi ke hutan yang membawanya tersesat hingga tiga hari lamanya. Kisah ini diceritakan oleh Utis dalam blognya, kemudian dibukukan. Kisah bertahan hidup para pendaki tersesat ini sangat menarik diikuti dan dijadikan pelajaran. Seperti cerita fiksi, perjalanan ini penuh petualangan dan marabahaya.
Tidak hanya itu, mereka juga kerap mengalami peristiwa gaib yang menyeramkan selama menginap di dalam tenda. Tidak sedikit, mereka yang tertidur didatangi makhluk halus dalam mimpi. Namun, ada juga yang diperlihatkan langsung dan menghantuinya sepanjang perjalanan. Semua pengalaman mistis selama tersesat ini bahkandiikuti dengan peristiwa-peristiwa mistis setelahnya. Seperti yang dialami Utis dan kawan-kawannya, setelah selamat dari Gunung Ciremai, mereka masih tetap dihantui kemudian hari
Cerita mistis Gunung Cermai
Nyi Pelet, Siluman Pemuja Kecantikan Penguasa Gunung Ciremai
Dari cerita yang beredar di kalangan masyarakat sekitar Gunung Ciremai, Nyi Pelet digambarkan sebagai siluman penguasa dan penghuni Gunung Ciremai. Menurut Masruri dalam bukunya berjudul Rahasia Pelet, Nyi Pelet adalah sosok yang sakti, khususnya dalam percintaan. Kepercayaan masyarakat sekitar terhadap keberadaan Nyi Pelet di Gunung Ciremai dibuktikan dengan masih adanya sejumlah pantangan bagi siapapun yang hendak mendaki Gunung Ciremai jika tak ingin terjadi hal-hal yang tak diinginkan selama pendakian, mulai larangan kencing sembarangan, mengucapkan salam, hingga menginjakan kaki ke tanah sebanyak tiga kali. Lalu, siapakah sebenarnya Nyi Pelet? Mengacu pada cerita turun menurun di masyarakat, Nyi Pelet mulanya sebenarnya perempuan biasa yang menguasai ilmu aliran hitam. Namun, ambisinya yang kuat untuk tetap awet muda dan terlihat cantik, Nyi Pelet nekat mencuri Kitab Mantra Asmara yang diciptakan oleh Ki Buyut Mangun Tapa yang memiliki ilmu aliran putih. Kitab Mantra Asmara berisi berbagai ajaran tentang asmara dan cara memikat lawan jenis. Salah satu ajian dari Kitab Mantra Asmara yang sangat terkenal, yakni Jaran Goyang. Ajian ini mengajarkan ilmu menaklukkan hati seseorang yang diincar atau yang lebih dikenal dengan sebutan pelet.
Terbukti, setelah berhasil mendapatkan Kitab Mantra Asmara, Nyi Pelet memanfaatkan ujian Jaran Goyang untuk menggaet pria-pria muda, agar tertarik kepada dirinya. Meskipun Nyi Pelet sudah berusia ratusan tahun, namun berkat ajian tersebut dia terlihat masih sangat muda dan menarik hingga membuat banyak lelaki kepincut. Padahal, pria-pria incarannya itu hanya sebagai tumbal, agar kecantikannya tetap terjaga. Setelah puas mempermainkan lelaki yang diincarnya, Nyi Pelet menghabisi mereka. Para lelaki hanyalah sebagai sarana, agar dirinya tetap terlihat cantik dan awet muda. Mengetahui Kitab Mantra Asmara ciptaannya disalahgunakan oleh Nya Pelet, Ki Buyut Mangun Tapa lalu mengutus salah seorang muridnya, Restu Singgih untuk merebut kembali kitab pusaka itu dari tangan Nyi Pelet. Singkat kata, Nyi Pelet bisa dikalahkan dam Kitab Mantra Asmara berhasil direbut kembali. Namun, kesaktian Nyi Pelet dengan ajian Jaran Goyang tetap melekat pada dirinya. Hingga saat ini, masih banyak masyarakat yang juga percaya terhadap keberadaan Ki Buyut Mangun Tapa yang dikenal sebagai sosok pendekar tangguh berbudi luhur. Setelah meninggal, Ki Buyut Mangun Tapa dimakamkan di Desa Mangun Jaya, Blok Karang Jaya, Indramayu, Jabar. Dikenal sebagai pencipta ilmu pelet Jaran Goyang, makam Ki Buyut Mangun Tapa hingga kini tak pernah sepi dari pengunjung yang ingin mempelajari ilmu pelet maha dahsyat itu. Selain Nyi Pelet,
masyarakat sekitar Gunung Ciremai juga percaya terhadap keberadaan siluman lainnya yang kerap mengganggu para pendaki gunung jika mereka tidak menaati pantangan-pantangan. Petilasan Nyi Pelet sendiri diyakini masyarakat berada di puncak Gunung Ciremai. Puncak Gunung Ciremai juga diyakini sebagai tempat bersemayamnya arwah Ki Rempah Mayit yang tak lain adalah suami Nyi Pelet.
Bersambung...