"Jadi, kapan nak Devan akan pindah?" "Mungkin setelah selesai makan malam, pak. Tadi pak RT bilang, untuk sementara saya akan tinggal di rumah beliau yang kebetulan masih memiliki ruang kosong buat menginap. Untuk memudahkan saya agar tidak terlalu jauh, juga tidak terlalu memakan banyak waktu ketika harus bolak balik untuk survei tambak." "Syukurlah. Bapak jadi ndak bingung kalau mau mengunjungi nak Devan." Perasaan Devan membuncah. Kalimat pak Muji barusan terdengar seperti ajakan kencan dari seseorang yang Devan taksir. Benar benar membuat hatinya berbunga. Keduanya kini tengah berjalan beriringan sepulang dari mushola. Di depannya, Bayu sudah lebih dulu berjalan. Seperti kata pak Muji, Bayu sangatlah pendiam. Devan bahkan belum sempat ngobrol barang satu kalimat pun pada Bayu.

