Imagine there’s no countries, it isn’t hard to do... Nothing to kill or die for And no religion too... Imagine all the people, living life in peace...
You may say I dreamer, but I’m not the only one.... I hope some day you’ll join us... And the world will be as one...
Imagine no possesions, I wonder if you can... No need for greed or hunger... A brotherhood of man...
Imagine all the people... Sharing all the world...
Burung-burung di senja hari ikut bernyanyi, mengikuti alunan gitar yang dimainkan Gilang. Bayangkan, bayangkan dan bayangkan. Bercengkrama sore dengan sahabat, ditemani secangkir kopi, bernyanyi sambil berimajinasi situasi dunia seperti yang digambarkan John Lennon melalui syair lagu Imagine.
Imagine adalah salah satu masterpiece dari karya John Lennon, tidak seperti tema lagu-lagu pada umumnya, Imagine adalah gambaran utuh tentang tatanan dunia yang ideal. Dunia tanpa negara, tanpa agama, hingga tiada alasan untuk membunuh dan terbunuh. Dunia tanpa keinginan menumpuk harta benda, tanpa cerita kelaparan, tanpa kisah penderitaan. Bayangkan, dunia yang hanya berbendera kemanusiaan, bersimbol kedamaian, bersama dalam tujuan menggapai kebahagiaan. Bayangkan!!
Lagu yang memiliki makna mendalam seperti itu bukan merupakan kebiasaan mantan vocalis The Beatles tersebut dalam menggubahnya. Ia sebelumnya terbiasa menuliskan lagu cinta seperti Hey Jude, atau lagu yang bertemakan kehidupan seperti Yellow Submarine. Jika seorang musisi kemudian menuliskan lagu mengenai perdamaian dunia, bisa jadi ia ingin meninggalkan karya abadi yang tak lekang termakan zaman.
Denis pun kali ini tidak mengganggu Andra dan Gilang saat menyanyikan lagu Imagine. Karena ia juga ikut larut dalam lagu itu. Sesekali memejamkan mata, membayangkan proses penciptaan yang dilakukan John Lennon bersama Yoko Ono, istrinya. Usai lagu ini dinyanyikan, mereka bertiga saling berpandangan, lalu melempar senyum satu sama lain.
“Kenapa John Lennon bisa bikin lagu sebagus ini sihh??” tanya Andra kepada teman-temannya, penasaran.
“Lagu ajaib buat gue. Lirik dan nadanya saling menyempurnakan,” Gilang menimpali.
Denis yang sedari tadi mendengar pembicaraan mereka berdua hanya bisa menggeser bola matanya bergantian, kadang melihat Andra, kadang melihat Gilang, sesekali memberi anggukan. Ia tak menyela berbicara sama sekali, takut salah dan memang sebenarnya tidak mengerti apa yang dibicarakan.
Ketika obrolan masih berlangsung, terdengar ada suara klakson motor dan orang memanggil nama Andra dari luar pagar rumah. Mereka bertiga yang berada di balkon serentak melongok ke lantai bawah luar pagar. Gery menunggu di sana, ia menepati janjinya untuk mengunjungi rumah Andra.
“Sebentar Ger!!!” teriak Andra memberitahu Gery dari balkon.
Sebelum berdiri membukakan pintu pagar, Andra teringat jika ia dan teman-temannya akan meminta Gery bergabung ke dalam band yang baru saja mereka bentuk. Andra agak sungkan jika harus bicara sendiri, ia merasa belum terlalu akrab dengan Gery.
Denis yang seringkali mencandai Gery atau lebih sering berbicara mengenai musik dengannya, bisa jadi memiliki tautan batin lebih kuat. Begitupun Gilang, orang yang pertama kali bertemu dengan Gery dan pernah ditolong lolos dari hukuman, bisa jadi juga memiliki kedekatan yang lebih spesial.
“Eh ingat ya, kita bertiga yang harus ngomong soal rencana bikin band dan melibatkan Gery. Gue masih agak sungkan kalau ngomong ke dia,” Andra mengingatkan kedua temannya.
“Beres, Ndra!” jawab kedua temannya kompak.
***
Gery sudah bergabung dengan teman-temannya. Tetapi ada yang berbeda dari dirinya. Nafasnya agak tersengal tak beraturan, keringat terlihat membasahi bajunya dan sedikit peluh masih menetes dari dahinya. Andra, Denis dan Gilang keheranan melihat Gery. Apalagi ia belum berganti seragam sekolah. Matanya juga terlihat kemerahan, tak fokus melihat wajah teman-temannya. Kulitnya pun sayu, cenderung pucat. Gilang dan Andra hanya saling bertatap mata melihat kondisi Gery.
Gery sempat minta maaf pada teman-temannya karena terlalu sore ia baru bisa berkunjung ke rumah Andra, sebelum kesadarannya terbenam lagi. “Sorry ya, gue kesorean,” singkatnya meminta maaf tanpa melihat ke arah teman-temannya.
“Ga apa-apa Ger. Lo mau minum apa?” balas Andra.
“Apa aja Ndra. Tapi yang panas atau hangat kalau bisa ya.”
Gilang kembali melihat mata Andra, Andra pun membalas mata Gilang. Mata mereka saling berbicara, seolah menanyakan apakah momennya tepat untuk membahas soal band. Sedangkan Gery dalam kondisi yang kurang baik sepertinya.
Namun tanpa diminta, Denis mendahului melemparkan pertanyaan. Mungkin khawatir Gery sakit. “Ger, lo ga apa-apa? Pucat banget muka lo. Udah makan lo?”
Dalam keadaan semakin gelisah mempertahankan kesadaran yang berlarian, dan terkadang menjambaki rambutnya perlahan, Gery berteriak, “Berisikkk lo!!!”
Reaksi Gery itu mengagetkan Andra, Gilang apalagi Denis. Mereka sontak kaku tak berbicara apapun lagi. Gery yang menyadari jika perlakuannya tadi sangat tidak bersahabat spontan meminta maaf dengan tergesa. “Den, sorry den. Maaf ya, ga maksud gue bentak lo.”
Denis tak berkata apapun, baru kali ini ia melihat Gery kalap. Meski pada awalnya mereka memang menjaga jarak dari Gery karena wajahnya terlihat tidak bersahabat, tetapi ketika banyak melakukan interaksi pertemanan, sebetulnya Gery adalah pribadi yang ramah. Sore ini, Denis merasa bahwa Gery bukanlah teman yang mereka kenal, begitupun dengan perasaan Gilang.
Gery menelungkupkan kaki yang sebelumnya bersila lalu memeluk erat kedua kakinya. Ia sebisa mungkin mengendalikan gerak tubuhnya, meski dingin kini mulai menyengat, Gery masih sangat sadar tentang apapun yang dilihat, didengar juga dibicarakannya. “Ndra, gue pinjam kamar mandi lo ya,” ujar Gery kembali.
“Pakai aja Ger, di situ ya!,” singkat Andra dengan telunjuk menunjukkan letak kamar mandi.
Gery pun melangkah gontai menuju kamar mandi, kakinya terasa seperti menginjak paku. Di sepanjang jalan, ia berpapah dinding. Limbung rasanya, takut jatuh dan tak bangun lagi. Andra menyusul, membantu Gery berjalan menuju kamar mandi, sambil lalu ke lantai bawah membawakan air hangat untuk Gery. Di kamar mandi, Gery berkali-kali menyiram kepalanya, bahkan sampai merendam. Sakit di sekujur tubuhnya berpusat di kepala. Dan jika hal itu terjadi ia selalu melakukan kebiasaan yang sama, merendam kepala.
Di balkon, Andra telah selesai mengambil minum, Gilang hanya memainkan senar dengan denting nada yang tak beraturan, sementara Denis memandang ke arah luar rumah, pada langit-langit yang semakin menjingga karena senja. Sepuluh menit mereka terdiam, menunggu Gery keluar dari kamar mandi. Tak ada yang berani menebak ada apa dengan Gery.