Arga Smith #4

1073 Kata
"Ah!!" Sialan. Iya. Itu erangan kesakitan yang keluar dari mulutku. Erangan yang entah untuk ke berapa kalinya. Sungguh memalukan memang mengerang di depan seorang perempuan seperti Sara. Aku bahkan tidak tau sebanyak apa tenaga yang ia gunakan untuk duel kali ini. Aku tadinya berencana hanya untuk bermain- main dengannya agar dia tidak merasa sendirian. Tidak seserius ini. Tapi dia menanggapinya dengan serius dan menjadikanku seperti boneka duelnya. Di tonjok, tendang dan di  banting. Ya. Beberapa kali aku terjatuh dan sudah di banting juga terlentang akibat perbuatannya. Keringatku bercucuran. Kaos dalamanku juga basah. Seperti mandi keringat. Aku rasa dia juga cukup lelah. Tapi dia masih bisa berdiri dan tidak terlihat lelah. Terbuat dari apa dia sebenarnya? Atau makan apa dia sehingga bisa sekuat ini? "Kau menyerah?" Katanya masih berdiri di samping aku yang terlentang Sial! Umpatku dalam hati Aku bisa saja menyerah jika sudah dengan keadaan seperti ini jika berduel dengan laki- laki yang lebih baik dalam urusan bertarung. Tapi memalukan. Dia seorang perempuan baru yang aku ajak berduel sekali. Teknik dalam berduelnya cukup lihai dan seperti sudah bisa berduel sejak lama. Padahal dia baru lima belas tahun. Dan enam belas pada Desember akhir tahun ini. Lihat dia masih kuat berdiri tegak dengan sedikit nafas yang satu- satu tapi masih berbicara tanpa terlihat lelah. Walaupun pelipis dan sudut bibirnya sedikit luka akibat perbuatanku yang tidak sepenuhnya di sengaja. Awalnya memang tidak tega membuatnya seperti itu. Tapi, dia sendiri yang menantangku. Dia berkata seolah aku takut padanya. Dia memperlakukanku seperti aku lemah dan tidak bisa bertarung. Bukan aku takut. Aku hanya.. hanya. Ah sudahlah. Pada saat pertama melihat Sara yang hanya duduk diam memperhatikan sekelilingnya yang sibuk menghias aula, aku berencana berkeliling sekolah dengannya. Ada beberapa bagian sekolah yang belum sempat aku tunjukkan. Tapi masalahnya, aku ingat ketika berkeliling pertama kali dengan Sara saat dia baru menjadi siswa disini, Sara terlihat sangat ingin naik ke ring duel. Oleh karena itulah, aku berniat untuk mengajaknya berduel untuk membuatnya ada kerjaan. Dan aku tidak mengira dia akan menanggapinya dengan serius. Seperti sekarang. "Cukup untuk kali ini Ra." Kataku yang masih terlentang "Oh okayy." Cih. Hanya itu? Dia benar-benar tidak bisa dan sulit untuk di tebak. Dan lihat? Dia mengambil rompi yang tadi ia lepas sebelum berduel lalu pergi keluar ruang latihan. Padahal aku yang mengajaknya kesini. Tidak bisakah dia menolongku? Hanya sekedar tangan yang membantuku berdiri? Argggh. Sialan. Aku lebih sering mengumpat akhir-akhir ini. Oke- oke. Aku baik- baik saja. Aku memakai bajuku yang sempat aku lepas tadi sebelum berduel. Lalu berjalan cepat untuk mengikutinya keluar ruang latihan ini. Dia menuju kantin rupanya. Aku memperhatikannya. Masih memperhatikan dia yang juga berjalan cepat. Dia berjalan ke arahku setelah mengambil air mineral. Dia mengambil dua botol air minum. Dan memberi satu untukku ketika dia sampai di depanku. Aku tidak mengira dia akan sebaik ini. "Tadinya aku mau mengantarkannya kesana," katanya menunjuk ruang latihan tadi kemudian dia diam sebentar. "Tapi kau mengikutiku." Aku hanya tersenyum membalas perkataannya dan mengajaknya untuk duduk di tepi lapangan latihan panahan. Aku meminum air mineral yang tadi ia beri padaku. Aku sudah salah sangka rupanya. Dia bukan meninggalkanku sendiri tadi. Dia hanya ingin membelikanku minuman ini dan mengantarkannya padaku. Ah. Junior yang baik. Aku tersenyum. Masih. Tersenyum. Dia memandangku dengan tatapan sedikit aneh. Ah jangan sampai dia membaca pikiranku. Cepat-cepat aku menggeleng- gelengkan kepalaku. "Kau..." Belum sempat dia melanjutkan kata- katanya aku memotongnya cepat. "Jangan membaca pikiranku," kataku masih dengan menggeleng- gelengkan kepalaku Dia tersenyum tipis. Sangat. Tipis "Kau tersenyum," itu kataku Dia hanya mengangguk kecil. "Menggelengkan kepalamu seperti itu tidak berpengaruh." Katanya lalu terkekeh pelan "Apa maksudmu?" Aku tidak mengerti dan bingung Satu lagi dia membuatku terkejut ketika dia sempat terkekeh baru saja. Tidak berpengaruh? Untuk apa? "Aku masih bisa mendengarnya." Aku ingin mati rasanya setelah aku mengerti apa maksudnya. Jadi menggelengkan kepalaku seperti tadi dia masih bisa tau apa yang ada di dalam pikiranku. Jadi semua itu percuma. Sialan. "Kau tak apa?" Itu suara dia lagi Aku menggeleng. Lalu aku menunjuk sudut bibirku lalu pelipisku dan dirinya. Dia mengerutkan kening lalu tidak lama kemudian dia tersenyum. Lagi. Sangat. Tipis "Ah ini," katanya menunjuk luka yang aku buat secara tidak sengaja. Aku mengangguk saat dia mulai mengerti apa yang aku maksud "Tak apa," lanjutnya dengan suara pelan dan hampir tidak terdengar Aku hanya mengangguk lagi. "Bagaimana jika kapan-kapan kita duel lagi?" Dia melirikku. Lalu mengangguk "Kau belum kapok?" Tanyanya Sial! Lagi- lagi aku mengumpat. Dia tersenyum. Kali ini lebih lebar dari yang tadi. "Jadi apa maksudmu membantu perayaan natal?" Tanyanya "Emm sebenarnya tidak ada hubungannya dengan itu." Aku terkekeh dan menggaruk tekukku yang sama sekali tidak gatal "Apa?" Dia berbalik melihat wajahku "Kau berbohong?" Aku menggeleng. "Aku hanya merasa kasian melihatmu yang cuma duduk dan diam di aula, jadi aku mengajakmu duel," jeda sebentar "Agar tentu saja kau bisa melakukan sesuatu," lanjutku Bersamaku batinku Dia mengangguk. Lalu memandang ke arah tempat panahan. "Kenapa tidak mencoba itu?" Tanyanya Dia menujuk ke arah lapangan panahan. Tidak ada yang menggunakannya kali ini. Tempat itu sangat kosong. Karena mungkin memang orang- orang sedang berada di aula tengah untuk dekorasi natal.Dan tentu saja siapa yang mau ke sana ditengah salju yang turun. Aku berdiri dan menggenggam tangannya. Dia menatapku mencari alasan. "Aku mengajakmu kesana, bermain denganku," lagi. Lanjutku dalam hati Dia mengangguk dan mengikutiku menuju ruang penyimpanan. Kami menghabiskan waktu bersama. Dan ya kurasa aku mulai menyukainya. "Ini salju pertamamu di sini?" Dia mengangguki pertanyaanku. Tentu saja ini yang pertama. Dia angkatan tahun ini. Arga. Itu pertanyaan paling bodoh. Aku membantunya menyiapkan alat panahan. Mengambil busur dan beberapa anak panah. "Kau benar- benar akan bermain dengan ini?" tanyaku lagi Dia mengangguk, "aku ingin mencobanya saat salju turun." "Kenapa?" aku bertanya lagi karena dia menjawab hal yang cukup unik untukku Dia menaikkan bahunya, "hanya ingin tau rasanya." "Bisakah kau melihat papan itu saat turun salju?" Aku menunjuk pada papan untuk panahan. Lingkaran itu sudah tertutup salju meski belum semua. Kini aku dan dia sudah ada di tengah- tengah lapangan. "Untuk itu, aku ingin mengukur penglihatanku." Aku benar- benar terus di buat tertarik padanya. Pemikiran dan tindakannya seolah menarikku untuk benar- benar harus aku perhatikan. "Aku akan mencobanya sekarang." Dia sudah memakai alat panahan yang lengkap. Rambutnya sudah dijatuhi beberapa butiran salju. Dia mengarahkan anak panah dan mengangkat busurnya. Aku bersumpah akan membahagiakannya jika anak panah itu mendarat di lingkaran tengah papan itu. Dia menarik nafas dan melepaskan anak panah itu. Lututku lemas. Anak panah itu tepat ada di lingkaran merah.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN