Karenina baru sadar jika bukan hanya Alfa, laki-laki yang pernah mengisi masa lalunya. Laki-laki yang menginginkan untuk sekadar menjadi ‘teman’. Namun, dari sekian banyak pemuda yang mengantre untuk bisa menyandang gelar 'pacar Karenina', mungkin hanya Alfa yang mampu berbuat nekat, bahkan menebalkan muka setelah ditolak berkali-kali. Dan tidak heran jika pada akhirnya kali ini, giliran Alfa yang memainkan hatinya. Bukankah semuanya telah impas? “Apa kabar kamu, Ren?” Pertanyaan itu menyentak pemikiran Karenina yang terus saja dipenuhi oleh nama Alfa. Sampai sekarang laki-laki itu belum menampakkan batang hidungnya, dan bayangan di mana Alfa tengah menikmati masa awal pernikahan bersama wanita lain sungguh membuat sesak itu makin bertambah nyata. Karenina mencoba menghapus bayangan Al

