Alfa memejamkan matanya seraya meringis, menahan perih yang kini terasa di pipinya. Namun, ia tahu apa yang Karenina rasakan jauh lebih perih dari rasa panas tamparan ini. Tidak, Alfa tidak akan marah. Bahkan jika wanita yang kini masih menatapnya penuh dengan emosi ini mau menamparnya lagi, ia akan terima. “Jangan mentang-mentang kamu punya uang dan kuasa, kamu semena-mena seperti ini!” jerit Karenina tertahan. Tidak peduli jika bisa saja mereka menjadi tontonan umum, karena posisi mereka berdiri memang lah di pinggir jalan. “Belum puas? Apalagi yang bisa bikin hati kamu puas untuk ngebalas semua yang pernah aku lakukan di masa lalu?” Kali ini nada suara yang Karenina tunjukkan tidak keras, tapi dari sorot mata yang wanita itu pancarkan kini, ada luka menganga di sana. “Aku u

