H-3 menjelang pernikahan Keenan dan sejak hari itu, Allegra semakin uringa-uringan tidak jelas. Kontrol emosi yang dimiliknya sejak dulu seolah hilang tanpa bekas. Moodnya benar-benar naik turun seperti roller coaster, ditunjang lagi dengan dirinya yang tengah memasuki periode bulanannya.
Dan perubahan itu ternyata dirasakan oleh semua orang, tak terkecuali adik kesayangannya yang kini tengah berada di depan pintu Allegra dengan kepala yang menyembul di antara celah pintu.
"Kak Allegra mah kayak orang galau yang ditinggal mati pacarnya," ucapnya melihat saudara perempuannya hanya duduk melamun di depan kaca. Tanpa permisi, dia langsung menyelonong masuk ke kamar kakaknya, "Kenapa sih kak? Galauin siapa sebenarnya? Pacar aja kagak punya."
Allegra melirik adiknya yang kini sudah goleran di ranjang king size miliknya. Bahkan sekarang dia mulai menggerakkan tubuhnya, berguling layaknya daging giling panggang, hingga membuat kasur yang awalnya bersih dan rapi menjadi berantakan dengan seprai yang mencuat kemana-mana. Allegra yang melihat semuanya dari pantulan kaca hanya berdecak, tapi enggan menegur tingkah absurd Aska.
"Kalau ada masalah mah jangan dipendem sendiri. Nanti stroke aku dan papi juga yang repot," celetuknya lagi sembari melirik wajah
kakaknya yang bermuram durja.
Aska sebenarnya heran. Di saat semua orang tengah berbahagia menanti hari pernikahan Keenan dan Raina, hanya Allegra saja yang terlihat galau tak jelas. Menurut Aska, di sini yang seharusnya galau adalah Keenan, karena harus menikah dengan seseorang yang tidak dikenal. Bukan Allegra yang jelas tidak ada hubungan apa-apa.
"Kenapa kamu ke kamar kakak?" tanya Allegra mengabaikan ucapan Aska. Dia yang sejak tadi hanya duduk di depan cermin, kini memutar kursi menghadap adiknya.
"Mau ngajakin kakak jalan-jalan, tapi pakai duitnya kak All," sahut Aska sembari merubah posisinya menjadi duduk bersandar, "Daripada galau-galau nggak jelas, mending ke Starbucks kuy mumpung lagi promo."
Allegra menggeleng, "Nggak. Kamu kalau ditraktir suka nggak tau diri."
"Kak All kan kaya. Banyak duit, bahkan saking banyaknya sampai bingung mau disimpan di mana," kata Aska bukan tanpa sebab. Dia melirik ke arah setumpuk uang berwarna merah yang ada di samping kirinya.
"Nggak minat."
"Yah Kak Alle mah," desahnya dengan wajah pura-pura kecewa, "yaudah kalau gitu. Pumpung kakak libur, gimana kalau kita belajar masak?" ajaknya tak menyerah. Dia melakukan ini agar Allegra tak semakin larut dalam kesedihannya. Dia juga kena imbas dari sikap Allegra, karena sejak Allegra murung, tak ada lagi seseorang yang bisa diajaknya bertengkar, "Kalau lagi badmood, aku suka masak-masak. Nyiptain menu baru yang pastinya nggak ada di dunia ini."
"Bad moodmu jelek."
"Jelek dari mananya sih?" tanya Aska tak habis pikir, "Bad moodku bagus. Masak, hasilin makanan, nambah kreativitas. Nggak kayak kakak yang diem-diem kayak orang sakit gigi."
"Kakak nggak bisa masak," jawabnya terdengar acuh tak acuh. Seperti tak memiliki semangat hidup sama sekali.
Aska mengerut lalu berdecak, "Lah gimana sih? Kemarin-kemarin siapa yang minta ajarin masak? Setan?" sinis Aska menatap kakaknya sebal, "kalau dari awal nggak niat les masak, harusnya nggak usah minta ajarin Aska. Pake acara nawarin mau kasih duit segala lagi. Dasar kang PHP!"
Allegra menatap adiknya aneh. Bukannya dia yang minta bayaran? Sejak awal Allegra sama sekali tidak pernah menjanjikan apapun pada Aska. Bocah itu saja yang pamrih. Dan sekarang malah menyalahkan dirinya. Dasar playing victim!
Allegra menghela nafas lalu memutuskan untuk mengiyakan ajakan adiknya. Dia terlalu malas untuk berdebat dengan Aska yang memiliki mulut rombengan yang bisa membuat kepalanya tambah pusing.
"Ya udah ayo, sekarang kita ke dapur," putus Allegra yang membuat senyum kemenangan perlahan muncul di bibir tipis itu.
'Money, I'm coming!' Aska terpekik senang, tanpa tahu sebuah musibah bertubi-tubi tengah menantinya di depan sana.
--oOo--
"Kak All, tolong ambilkan pala."
"Ini."
"Bukan, ini kemiri."
"Kak, ambilkan temulawak."
"Ini."
"Bukan, ini kunyit."
"Kak, ambilkan merica."
"Ini."
"Bukan, ini ketumbar"
"Kak, ambilkan adas."
"Ini."
Aska menoleh dan lagi-lagi dia harus memejamkan mata sembari menghembuskan nafas untuk meredakan emosinya yang hampir terpancing keluar. Dia tersenyum lebar guna menyamarkan kekesalannya, "ini jinten, Kak. Ingat. Jinten," ucapnya penuh penekanan. Dia masih sedikit-ingat sedikit- memaklumi ketidaktahuan Allegra mengenai bumbu dapur yang ia minta.
"Hmm ... adas sama jinten beda ya?" Allegra bertanya sembari melirik Aska yang membawa rempah-rempah yang hampir serupa dengan yang ia bawa tadi, "Kakak lihat sama aja tuh."
"Ya beda atuh, Kak," balasnya mencoba sabar, "Sini lihat."
Allegra mendekat lalu memperhatikan dua rempah-rempah yang ada di tangan adiknya, "dari segi warnanya aja udah jelas beda. Yang ini agak gelap, kalau ini lebih terang. Lihat kan?" Allegra mengangguk. "Terus baunya juga beda. Coba cium," Aska mengambil dua bahan itu dan mendekatkan ke hidung kakaknya. Gimana beda nggak?" Lagi-lagi Allegra hanya mengangguk sebagai jawaban.
"Pinter," puji Aska tersenyum puas. Mengabaikan sopan santun, tangannya bergerak menepuk kepala kakaknya. Dan itu membuat Allegra melotot tak terima. Dia hendak menyemburkan protesnya, sebelum akhirnya melihat senyum menyebalkan di wajah adiknya.
"Inget perjanjian pada poin 2," ujarnya semakin melebarkan senyumnya, "Nggak boleh marah-marah sama tutor."
Allegra yang mendengar itu hanya mendengus. Iya. Sebelum memulai acara masak-memasaknya, bocah itu sempat menyodorkan surat perjanjian bermaterai berisi poin-poin yang tentu saja sangat menguntungkan Aska dan memberatkan Allegra. Salahnya juga sih yang langsung menandatangani tanpa membacanya terlebih dahulu. Dan inilah konsekuen yang harus dia terima. Ck! Adiknya itu memang ahlinya memanfaatkan situasi.
"Nah, sekarang ambilkan jahe," titah Aska kembali melanjutkan pekerjaannya yang tertunda.
Walaupun jengkel dengan tindakan semena-mena Aska, Allegra tetap menuruti perintah itu. Ia mengambil rempah-rempah yang ia yakini bernama Jahe. "Ini," katanya sembari menyerahkan seonggok benda tersebut.
"Mana?" Aska menyodorkan tangan tanpa mengalihkan fokus dari pekerjaan di depannya. Saat hendak mencampurkan jahe dengan bumbu lain, gerakannya seketika terhenti. Aska menoleh, menatap kakaknya penuh arti. Dia tersenyum, bukan jenis senyum bahagia, tapi lebih ke senyum yang seperti tengah menanggung berton-ton beban, "Kak Allegra?" desis Aska masih dengan senyum anehnya. Allegra bergumam sebagai jawaban.
"INI LENGKUAS, ANJRIT, BUKAN JAHE. LO NGERTI KAGAK SIH!" sentak Aska yang membuat Allegra terperanjat. Tampaknya kesabaran Aska sudah mulai menipis menghadapi Allegra, bahkan dia sampai kelepasan berbicara kasar pada perempuan itu.
Allegra mengerjap polos dan itu membuat Aska semakin ingin melempar kakaknya dari puncak Burja Khalifah, "Bukannya sama aja?"
"SAMA AJA MATAMU!" gas Aska lagi. Sepertinya kesabaran yang dia miliki benar-benar sudah di ambang batas, "ASKA UDAH NGAJARIN KAKAK DI AWAL KAN? JAHE ITU YANG INI. KALAU INI NAMANYA LENGKUAS. LENG-KU-AS," Aska mengatur nafasnya yang memburu.
Allegra menatap syok adiknya. Dan itu membuat Aska sadar. Dia menutup mata sejenak lalu membukanya dan memandang Allegra menyesal, "Maaf, Kak."
Alih-alih memarahi Aska karena ucapan kasarnya, perempuan
itu justru terkekeh melihat wajah frustasi dan putus asa itu. Allegra tak menyalahkan Aska. Ini kesalahannya karena melupakan apa yang telah diajarkan oleh adiknya. Padahal di awal, Aska dengan sabarnya sudah bersedia memperkenalkan rempah-rempah itu pada dirinya.
"Sekarang kakak potong daun bawang ini. Ingat! Harus sama kayak yang aku contohi. Jangan terlalu panjang," kata Aska setelah berhasil mengontrol dirinya.
Allegra mengangguk paham lalu mulai mengambil alih pekerjaan Aska. Memotong daun bawang dengan ukuran kecil untuk dimasukkan ke dadar sayur.
"Cookies-nya udah di masukin ke oven kan?" tanya Aska yang dibalas anggukan Allegra, "Bagus! 10 menit lagi nanti keluarkan."
"Aw ...," Allegra spontan menjatuhkan pisau saat merasakan sesuatu menggores jarinya.
"Kenapa kak?" tanya Aska mendekati Allegra. Dia melotot saat melihat jari kakaknya yang mengeluarkan darah, "Ya ampun ceroboh banget sih! Kenapa jarinya bisa keiris?! Kakak pikir ini sosis?" hardiknya dengan nada khawatir. Sesegera mungkin dia membawa Allegra ke wastafel. Membasuh luka itu menggunakan alir mengalir.
"Kakak kayak gini dulu, aku mau ambil P3K," ujar Aska, "Itu nanti dadar sayurnya sesekali dibalik, bisa kan?"
Allegra bergumam acuh tak acuh. Dia masih fokus pada jarinya yang masih mengeluarkan darah. Allegra mendesis. Terasa sakit, tentu saja karena dia tak pernah terluka, apalagi sampai teriris pisau. Hingga
dia melupakan pesan yang diucapkan Aska.
Beberapa menit kemudian ...
"AAA ... YA TUHAN KEBAKARAN! KEBAKARAN! ASKA KEBAKARAN! TOLONG KAKAK. ASTAGA! ASTAGA! DAPUR KITA KEBAKARAN, TOLONG!"
Aska yang tengah mencari kotak P3K, tapi tidak menemukannya langsung bergegas kembali ke dapur setelah mendengar teriakan Allegra. Dia melotot panik ketika melihat asap yang mengepul dengan api yang mulai menjalar ke wajan. Secepat mungkin dia bergerak mematikan kompor, bahkan sampai melupakan alat penting untuk memadamkan api yang terlanjur membakar permukaan.
Allegra yang melihat itu semakin panik. Dia berlari meraih APAR yang tak jauh dari tempatnya dan menyerahkan pada Aska. Setelah api mulai padam. Aska langsung menyandarkan tubuhnya yang lemas ke pantry dapur. Dia mengusap wajahnya kasar, "1 menit aja aku telat datang, kakak udah habis jadi daging panggang!" desis Aska menatap kakaknya tajam, "Lagian kenapa bisa hampir kebakaran sih? Kan kakak ada di dapur."
"Kamu kok nyalahin Kakak? Kakak aja nggak tau apa-apa."
Tadi bilang apa? Nggak tau apa-apa?
"WHAT THE –?!" Aska memejamkan mata, menahan diri untuk tidak mengumpati Allegra. Ia berjalan gontai ke arah kompor.
Dia berdecak melihat dadar sayurnya yang sudah tidak terbentuk lagi, "Ya Tuhan, ini mah nggak bisa dimakan. Jangankan manusia, kucing aja mungkin langsung bablas kalau makan ini." Aska menggeleng miris.
"Maafin, Kakak," sesal Allegra. Sumpah! Dia benar-benar tidak mendengar ucapan Aska tadi.
"Udahlah. Mau ditangisi sampai keluar darah juga nggak akan balik. Paling setelah ini kita bakal di gantung sama Papi di depan rumah." Aska kembali berjalan, lalu matanya tak sengaja menangkap sesuatu yang janggal.
"Loh kok nggak ada kuahnya?" tanya Aska beralih menatap Allegra. Dalam hati, dia sudah merasakan perasaan tak enak yang membuatnya was-was.
"Udah kakak buang ke wastafel."
"Kenapa dibuang, Kak?" tanya Aska menggertakkan giginya, geram.
"Bukannya harus dibuang ya?"
"Kata siapa, Anjrit?!"
"Bibi kan sering masak makanan yang sama. Dan setiap kakak lihat, kuahnya nggak sebanyak masakanmu tuh."
'GUOBLOK!!' makinya yang tentu hanya berani dia ucapkan dalam hati. Dia memandang kakaknya prihatin.
Demi Tuhan! Aska benar-benar geram. Dia sudah sangat frustasi menghadapi kakaknya. Ingin sekali dia menggantung dirinya sendiri ke pohon toge dan melempar Allegra ke dasar Palung Mariana.
Tapi Aska tidak bisa melakukannya. Dia juga tidak bisa marah
pada Allegra, karena rasa sayangnya pada perempuan itu. Dan sekarang yang dia lakukan hanya tersenyum lebar seperti Pennywise, walaupun hatinya di dalam sana tengah meraung dan menangis darah.
"Kak dengar baik-baik ya. Itu semur ayam, Kak, bukan ayam kecap. Lagian kalau masak ayam kecap airnya nggak dibuang, tapi dibiarkan sampai meresap." Aska berucap lirih, lemas nan putus asa.
Kacau! Semua kacau! Ini masih satu hari dan kekacauan yang ditimbulkan Allegra sudah bejibun. Gimana kalau berbulan-bulan? Bisa menyamai Makarov Dreyar dirinya. Dia menghembuskan nafas penuh beban. Dan berjalan gontai ke tempat panggangan ketika menyadari sudah saatnya dia mengeluarkan cookies dari oven.
Tapi setelah oven terbuka lebar. Keterkejutan Aska semakin berlipat ganda. Dia bahkan hampir terhuyung, jika tidak berpegang pada pantry dapur. Aska menatap syok pemandangan di depannya. Wajahnya memerah.
"ASTAGA, KAK!! ITU TUPPERWARE PUNYA KAK MAURA!" teriak Aska menggelegar. Matanya memandang tak berdaya sebuah wadah ungu yang sudah meleleh ke mana-mana.
Allegra yang melihat itu juga tak kalah terkejut. Astaga! Dia lupa! Bagaimana bisa dia memasukkan wadah plastik ke dalam oven? Bodoh!
"Kakak kan tau gimana terobsesinya dia buat nggoleksi merk itu," wajah Aska benar-benar terlihat sangat tertekan, tatapannya nanar. "Ya ampun kak. Orang tua aja rela ngusir anaknya karena hilangin Tupperware. Gimana sama kak Maura yang galaknya kayak macan hamil yang dilempar permen karet? Bisa dibantai aku sama dia kak. Ya Tuhan."
Sumpah! Saat ini rasanya Aska betul-betul ingin menangis. Cukup! Kesabarannya benar-benar sudah menerobos batas maksimal. Kamera mana kamera? Dia ingin melambaikan tangan. Aska nyerah!! Aska udah nggak kuat!!
"GUE NYESEL, ANJIR!!" teriaknya, karena sudah tak tahan menghadapi kebodohan kakaknya yang menyerupai tan 90.
"Gue pengen log out dari dunia ini. Mana tombolnya. Gue udah nggak kuat tolong!" pekik Aska lagi. Dia menjambak rambutnya frustasi. Kalau boleh memilih, dia lebih baik mengerjakan 30 soal kalkulus integral ataupun 30 soal Trigonometri daripada mengajari Allegra memasak.
Aska berdiri tegak lalu membentuk jarinya menyerupai pistol kemudian meletakkan ke pelipis kanannya. Dia menggerakkan jari seolah tengah menembak sasaran.
"Say goodbye to the world ... Dor," ucapnya lalu jatuh dan terlentang di lantai dengan mata yang pura-pura terpejam.
Jika kalian bertanya, apakah dia menyesal mengajari Allegra, maka jawabannya. Ya! ASKA MENYESAL, BAHKAN AMAT-SANGAT-SANGAT MENYESAL.
Allegra dan dapur benar-benar perpaduan yang sempurna untuk menghasilkan bencana yang luar biasa mengerikan.
Namun dengan kejadian ini, setidaknya ada satu hikmah yang dapat Aska ambil. Dan harus diingat-ingat sampai mati; Jangan biarkan Allegra berkeliaran di dapur apalagi sampai menyentuh peralatan dapur.
Oke ... sepertinya setelah ini dia harus menambah daftar list larangan yang sangat haram untuk dilakukan.
1. Jangan membanyol pada opa Ganendra kalau tidak ingin di coret dari ahli waris.
2. Jangan simpan gula donat di saku celana kalau tidak ingin disidang dan dituduh pakai narkoba lagi.
3. Jangan kasih izin Papi naik motor kalau tidak ingin jadi anak yatim.
4. Jangan hilangkan atau merusak Tupperware milik kak Maura kalau masih sayang nyawa.
5. Dan yang terakhir. Jangan biarkan kak Allegra pergi ke dapur kalau tidak ingin darah tinggi, tekanan batin, rumah terbakar dan jatuh miskin.
Sedangkan si tersangka hanya melongo menatap tingkah absurd adiknya. "Kamu kenapa, Dek?"