Chapter 2

1865 Kata
"Gue nggak salah lihat kan?" tanya seorang pemuda tampan dan mempesona, "Itu model yang lagi naik daun. Gue sering liat dia di sampul majalah fashion nyokap. Dan barusan tadi gue disenyumin, anjir!" ujarnya heboh membuat teman-temanya menatap heran dan ada juga yang mencibirnya. "Halu lo! Jelas-jelas dia senyum dan dadah ke gue," sahut pemuda lainnya berkulit eksotis yang tampak sangat menawan dengan balutan kaos polo shirt berwarna hitam dengan celana denim sebagai pelengkapnya. Sedangkan dua pemuda lainnya hanya menggeleng menanggapi ujaran kedua temannya. Jelas-jelas mereka lihat, kalau model cantik itu tengah tersenyum ke arah teman mereka yang berkacamata. "Lo berdua yang halu!" celetuk laki-laki bergigi kelinci menimpali, "Model itu senyum ke arah Saka, bukan ke lo berdua. Ya nggak Val?"tanyanya yang diangguki oleh lelaki pemilik dimple di pipi. "Elsaka kita udah besar kayaknya," jawabnya tersenyum hingga memperlihatkan lesung yang dapat membuat kaum hawa mimisan, bahkan pingsan di tempat. Untung sudah taken. Kalau belum, mungkin daftar antrian untuk gadis yang ingin menjadi pacarnya bisa mengalahkan panjangnya Tembok Besar China. "Gue kira lo cuma tertarik sama buku dan seni. Nggak nyangkanya lo doyan yang bening-bening kayak Five Flower Lake," lanjutnya dengan tawa menderai. Dia tahu kalau dari tadi temannya itu tak pernah berhenti mengamati model cantik itu, "bagus! Ternyata dugaan gue selama ini salah, tentang lo yang bakal nikah sama buku dan sketsa gambar di masa depan." Dengan kesal, pemuda yang dipanggil Elsaka itu meninju lengan sahabatnya yang lahir tepat di hari kasih sayang, "Gila lo!" ujarnya, "Gue liatin dia bukan karna tertarik, tapi heran aja. Apa dia nggak malu pakai baju kayak gitu di tempat rame?" jelasnya yang entah kebenaran atau cuma alasan. Hanya Tuhan dan lelaki itu yang tahu. Sejatinya tak ada yang salah dengan ucapan Elsaka. Karena saat ini Allegra memang tengah mengenakan ootd yang akan mengundang tatapan lapar dari para pengunjung, khususnya para pria. Tank top dua tali spaghetti yang dipadukan dengan hot mini skirt berwarna kuning yang panjangnya hanya 41 cm. Cukup seksi, tapi terlihat classy dan stylish apabila Allegra yang mengenakannya. "Ya urusan dialah. Julid banget lo, sumpah!" timpal lelaki eksotis tadi. "Ya nggak papa bro. Berkah ini namanya. Hal yang indah itu harus dibagi-bagi nggak boleh disimpen sendiri," ucap pemuda pertama yang langsung mendapatkan geplakan di kepalanya. "Nggak gitu konsepnya, Supri! Kalau yang kayak gini mah jatuhnya bikin nambah dosa," tutur lelaki berparas imut menatap sengit sahabatnya. "Tapi lo suka kan?" tanyanya sambil menarik turunkan kedua alisnya. "I-i-Iya juga sih. Soalnya cantik banget gila! Yang kayak gini mah emang nggak boleh dilewatin." Ucapan bernada semangat itu, sontak lansung mendapatkan bual-bualan dari teman-temannya. Dan ketiga pemuda tersebut lagi-lagi mendominasi percakapan kali ini. Membuat suasana cafe semakin rame oleh gelak tawa mereka. Sedangkan dua lainnya; pemuda berkacamata dan sang pemilik dimple hanya sesekali menimpali terlebihnya hanya ber-hahahihi ketika candaan kembali terlontar. "Badas!! Kita memang nggak pernah rugi bangun kafe di tempat ini. Selain banyak pengunjung karena letaknya yang strategis, kita juga bisa ngacengin model-model cantik dari agensi depan. Setelah sepet seharian penuh lihatin tumpukan tugas yang nggak ada habisnya. " --oOo-- Dengan gerakan tergesa, Allegra membuka pintu berwarna silver di depannya. Kemudian melangkah masuk lebih dalam guna mencari benda pipih miliknya yang tertinggal. Matanya dengan jeli memindai setiap sudut, hingga pandanganya jatuh pada meja rias yang berada di sebelah lemari kaca. Di sana, ponselnya tergeletak seperti saat terakhir dia menaruhnya. "Untung nggak hilang," helaan nafas lega terdengar dari mulut Allegra ketika ponselnya sudah berada di tangan. Dia tidak bisa membayangkan seandainya benda ini sampai jatuh ke tangan orang lain. Tidak! Dia tidak mengkhawatirkan uangnya yang akan terbuang apabila ponselnya sampai hilang, tapi dia lebih mengkhawatirkan isi di dalamnya. Ponsel ini menyimpan semua rahasia tentang hubungannya dengan Keenan. Dan jika ada satu orang pun yang melihatnya, maka tamatlah sudah riwayat Allegra. Namun, kelegaan itu harus sirna kala mengetahui ponselnya mati total. Allegra mendesah. Bagaimana bisa dia lupa untuk mengecasnya saat di mobil tadi? Astaga dirinya memang sangat ceroboh! Allegra berjalan keluar dari ruang ganti untuk kembali ke kafe, namun sebelum itu, dia menyempatkan diri untuk mengisi daya ponselnya lewat power bank yang selalu dia bawa. Ketika melewati depan kamar mandi, tiba-tiba tangannya ditarik paksa oleh seseorang hingga tubuhnya ikut terseret masuk ke dalam. Belum sempat Allegra berteriak, mulutnya lebih dulu dibungkam oleh benda kenyal nan hangat milik seseorang. Allegra membulatkan mata terkejut karena mendapatkan serangan mendadak. Dan setelah mengetahui siapa pelaku yang berani mencium bibirnya, Allegra semakin memberontak, mencoba melepaskan diri. Namun bukannya melepaskan, tangan pria itu semakin menekan tengkuk Allegra guna memperdalam ciuman sepihak yang sekarang berubah menjadi dua pihak. Lidah panas itu menerobos masuk dan menginvasi setiap sudut di rongga mulut Allegra. Menyalurkan kemarahan yang selama ini dia pendam melalui ciuman yang menggebu dan menuntut. Tubuh Allegra meremang, tanpa sadar, erangan kecil lolos dari mulutnya ketika tangan nakal itu mulai menelusup ke balik tank top dan mengelus perut ratanya dengan gerakan seduktif. Menyadari nafas Allegra yang terengah-engah, dengan berat hati pria itu menjauhkan bibirnya tanpa mengubah posisinya yang sekarang. Tangannya bergerak menghapus jejak ciuman di bibir Allegra yang basah oleh perpaduan saliva mereka. Namun hal itu tidak bertahan lama, karena Allegra segera menepis tangannya. Iya, akhirnya kewarasan Allegra kembali setelah beberapa menit ikut terhanyut dalam permainan yang pria itu berikan. Sialan memang! Dia benar-benar sangat pandai dalam memainkan perasaan Allegra! "Menyingkir, Keenan!" Allegra mencoba mendorong tubuh pria bernama Keenan Alterio Danawangsa itu dengan kuat. Namun nyatanya Keenan sama sekali tidak terpengaruh oleh dorongan Allegra. Pria itu justru semakin mempersempit jarak diantara mereka. Menghiraukan pemberontakan yang terus dilakukan gadis di depannya. posisi mereka saat ini benar-benar sangat intim. Keenan berdiri di depan Allegra dengan kedua tangan yang mengurung tubuh langsing nan tinggi itu. "Kenapa kamu nggak pernah mengangkat telepon dariku?" tanyanya serak dengan mata yang menatap intens paras cantik Allegra, "Aku khawatir sama kamu, All." Perempuan itu membuang muka ke arah lain. Enggan bersitatap dengan pria yang membuat perasaannya kacau akhir-akhir ini. Keenan meraih dagu Allegra, mengarahkan wajah bahari itu agar mau menatap dirinya. "Kamu masih marah?" "Lepas!" Bukannya menuruti perintah sepupunya, wajah Keenan justru semakin mendekat ke wajah Allegra "Kenapa kamu menerima lamaran itu?" tanyanya menyerupai sebuah bisikan dengan sorot mata yang menatap dalam manik Allegra. "Bukan urusanmu!" Allegra berusaha menyingkirkan tubuh Keenan yang masih mengungkungnya. Berada di posisi intim seperti ini, membuat jantung Allegra terasa ingin keluar. Sebisa mungkin dia menghindari kontak mata dengan Keenan demi menjaga dirinya agar tetap waras. "Tatap aku dan jawab dengan jujur, Allegra!" tekannya tidak membiarkan Allegra lepas begitu saja, "Kenapa kamu menerima lamaran itu?" Allegra mengepalkan tangan di samping kanan-kiri tubuhnya. Kini dengan berani ia menentang Keenan dengan sorot mata yang tajam, "Aku ingin membalas kamu, puas?!!" bentaknya lepas kendali. Dadanya bergemuruh hebat, membuat nafasnya naik-turun tak beraturan. Mata Allegra terlihat nyalang oleh api kemarahan yang selama ini ia tutupi. Dia lepas kendali. Padahal selama ini Allegra dikenal sebagai pribadi yang memiliki kontrol diri yang begitu apik. Dia selalu menutupi perasaannya, bersikap seolah tak memiliki masalah apapun. Namun akhirnya hari seperti ini pun tiba, saat dimana dia tidak mampu lagi menyembunyikan kekalutannya. Alhasil, bom kefrustasian itu akhirnya meledak bersama unek-unek yang selama ini ia pendam. "Gimana perasaan kamu? Rasanya kamu ingin menghancurkan semua benda disekitarmu kan?" tanya Allegra dengan mata yang memburam oleh air mata, "Itu juga yang aku rasakan saat dengar kamu menerima perjodohan yang direncanakan Om Tama!" Melihat itu, Keenan segera menarik Allegra dalam dekapannya. Mengelus punggung gadis yang dicintainya dengan lembut. "Maafin aku. Aku nggak bermaksud menerima perjodohan itu. Kamu tau kan, Sayang seberapa besar cintaku ke kamu? Aku nggak mungkin mengkhianatimu." Allegra tidak ingin menangis, tapi dia tidak bisa. Pertahan yang dibangun akhirnya roboh karena satu tetes air yang menyeruak keluar dari pelupuk mata. Allegra semakin mengeratkan pelukan. Menenggelamkan wajahnya di d**a bidang Keenan yang masih sama, selalu membuatnya nyaman. Dia tidak ingin munafik. Ia benar-benar rindu pada pria itu. Setelah hampir 2 minggu tidak pernah bertegur sapa, karena pertemuan bisnis yang dihadiri Keenan di luar negeri juga karena dirinya yang terus saja menolak panggilan telepon darinya. "Kamu jahat! Kamu hampir bikin aku gila," desis Allegra setelah mengurai pelukannya. "Maafin aku, Sayang," ucap Keenan. Tangannya bergerak membelai lembut wajah Allegra, "aku melakukan ini demi kebaikan kita. Kamu tau? Papa sudah mulai curiga dengan hubungan kita yang nggak seperti saudara sepupu pada umumnya," desahnya ketika mengingat percakapan dengan sang papa 2,5 bulan lalu. "Dengan aku menerima perjodohan itu, mungkin saja Papa akan berhenti mencurigai kita." Allegra tersenyum miris. Sampai kapan dirinya dan Keenan akan bermain kucing-kucingan seperti ini? Kenapa semuanya terasa semakin berat dan menyiksa batinnya dari hari ke hari? Jika mereka bukan sepasang sepupu, keadaannya jelas tidak akan serumit ini. Mereka pasti sudah hidup bahagia dalam mengarungi bahtera rumah tangga yang dipenuh cinta. Ditambah lagi kehadiran malaikat kecil ditengah-tengah mereka. Demi Tuhan, Allegra rela melepas karirnya sebagai model seandainya hal itu sampai terjadi. Mereka tahu, tak ada hukum yang melarang pernikahan antar sepupu. Tapi akan ada banyak kontra yang menentang hubungan mereka, jikalau dia dan Keenan nekat mengatakan hal yang sejujurnya pada keluarga besar Danawangsa. Ditambah lagi gunjingan-gunjingan yang akan mereka dapatkan. Sebenarnya Keenan tidak peduli, tapi bagaimana dengan Allegra? Dia tidak ingin menempatkan gadis yang dicintainya itu ke dalam masalah yang besar. Memang secinta itu Keenan dengan Allegra, begitupun sebaliknya. Entah ini benar-benar cinta atau hanya obsesi yang mengatasnamakan cinta. "Allegra," panggil Keenan lirih, "bisakah kamu membatalkan lamaran itu? Kamu berhasil buat aku hilang akal, Sayang. Aku benar-benar nggak tahan buat nggak menghancurkan laki-laki yang sudah berani melamarmu itu." "Aku nggak bisa. Papi udah nerima lamaran itu bahkan sebelum aku menyetujuinya," jelas Allegra sembari menggenggam tangan Keenan yang mengepal kuat. "b******k!" Bersamaan umpatan yang keluar dari mulut Keenan, pintu lorong kamar mandi terbuka. Pria itu segera mendorong Allegra memasuki salah satu bilik kamar mandi lalu menguncinya. Keenan menutup mulut Allegra mengisyaratkan agar perempuan itu tidak menimbulkan suara yang mencurigakan. "Sial! Kenapa lagi-lagi Allegra yang harus dapetin kontrak itu sih?" samar-samar Allegra dapat mendengar umpatan seseorang yang membawa namanya. "Apa hebatnya dia? Cih! Gue yakin Allegra pasti manfaatin tubuhnya buat dapetin setiap kontrak yang melibatkan namanya. Benar-benar murahan!" Suara itu terdengar sangat familiar di telinga Allegra. Dan pemiliknya adalah Jesslyn, salah satu rekan modelnya yang entah mengapa selalu menatap Allegra penuh permusuhan sejak pertama kali dirinya menginjakkan kaki di Loveliness Models. Selama ini Allegra selalu mengabaikannya. Karena menurut dia, selagi Jesslyn tidak mengusik hidupnya atau melakukan tindakan yang merugikan dirinya. Allegra akan membiarkan perempuan itu hidup tenang. Tapi, jika Jesslyn sudah melewati batas, Allegra tidak segan untuk menghancurkan hidup perempuan itu. Bahkan hidup keluarganya sekalipun. Memang kejam, tapi itulah sisi tersembunyi dari seorang Allegra. Hingga terdengar bunyi ketapan sepatu yang menjauh lalu disusul suara pintu yang tertutup membuat Allegra dapat menghela nafas lega. "Apa aku perlu membasmi hama seperti dia?" bisik Keenan tepat di telinga Allegra. Dengan sengaja, dia menghembuskan nafas hangat yang membuat tengkuk Allegra meremang. Allegra menahan nafas kuat ketika baru menyadari posisnya yang sekarang jauh lebih berbahaya dan intim dari yang tadi. Tubuhnya dan Keenan saling menempel satu sama lain, tak ada sekat maupun jarak diantara mereka. Bahkan saat ini, dia bisa merasakan sesuatu yang keras menekan pangkal pahanya. Dan itu cukup membuat tubuhnya panas dingin. Allegra spontan menatap mata Keenan yang sudah dipenuhi kabut tipis. "Ayo, ke ruanganku. Di sini nggak aman untuk kita."
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN