"Sena."
Aku terbangun dari lamunan setelah mendengar panggilan dari Akira
"Apakah tadi kamu sedang mengatakan sesuatu?"
Akira mendekati wajahnya ke daun telingaku.
"Air liur mu menetes keluar."
Wajahku seketika memerah karena malu. Segera aku meraih sapu tangan di dalam saku kemudian menghapus air liurku.
"Maaf."
Akira mencoba menahan tertawa. Aku menundukkan kepala. Hanya diam dan tidak berani mengatakan apapun.
"Sudah waktunya kita berangkat ke sekolah. Aku pergi dulu ya?"
"Selamat jalan."
Aku kemudian menjawabnya. Akira berangkat lebih awal. Sebelum berangkat aku mencuci peralatan makan. Ayah dan ibu akan pulang. Ini lebih lama dari yang mereka berdua janjikan. Aku mengunci pintu rumah. Mengambil sepeda kemudian mengendarainya. Akira berangkat ke sekolah dengan menaiki motor sport miliknya. Padahal dia bisa saja memakai mobil. Tetapi Akira lebih mencintai motornya.
Karena kompetisi akan di laksanakan dan hari ini tidak ada jam pelajaran. Kelas menjadi ramai. Kate merobek kertas. Dia kemudian melipatnya. Kertas itu berubah menjadi pesawat. Bagian tubuh pesawat di gambar dengan lambang negara. Sayapnya penuh dengan warna hijau. Berbentuk seperti pesawat angkatan darat. Kate menerbangkan pesawat miliknya. Aku melihat Akira yang sedang membaca buku. Tanpa di sadari aku kemudian mengalihkan pandangan menatap Louis. Dia menyandarkan kursinya dan mendengarkan lagu. Gaya yang seperti seorang aktor ternama.
"Sial! Aku kalah telak."
Steven marah karena kalah dari permainan game di handphonenya. Saat aku melihat ke depan lalu ada seorang pria yang melempar penghapus papan tulis. Segera aku menghindar dengan menundukkan kepala. Penghapus papan mengenai tepat di kepala teman yang duduk di belakangku. Para siswa yang melihatnya seketika tertawa. Aku juga ikut tertawa seperti mereka.
"Coba lihatlah!"
Ternyata sebelum ada suara tawa, Steven juga mengetahui jika teman sekelasnya ingin melempar penghapus papan. Dia memegang tangan Louis. Kemudian Louis menatap ke arah yang ditunjukkan oleh Steven. Kejadian itu terjadi.
"Keren!"
Untuk kedua kalinya Steven memuji Sena. Sedangkan Louis menganggukkan kepala dan menyetujui. Antara kebencian maupun kekaguman yang menjadi satu.
"Ayo lempar?"
Suasana yang ramai sekarang menjadi lebih ramai. Para siswa wanita membuat pesawat.
"Bagaimana kalau kita bertanding pesawat mana yang terbang lebih jauh?"
Kate memberikan tantangannya.
"Boleh juga."
"Iya."
Mereka yang membuat pesawat menerima tantangan dari Kate.
"Baiklah kalau begitu kita mulai."
Akira melihat ke arahku. Dia kemudian berjalan mendekati.
"Boleh aku duduk di sini?"
Aku menganggukkan kepala dengan perlahan. Akira duduk di sampingku. Louis melihat Sena tersenyum kepada rivalnya. Tidak tahu kenapa suasana hatinya menjadi berubah.
"Bruk!"
Terdengar suara meja. Steven menghentikan game di handphonenya. Dia lalu mengalihkan pandangan ke arah Louis yang telah memukul meja dengan keras. Louis berdiri dari tempat duduknya.
"Kamu mau pergi kemana?"
Steven bertanya kepada Louis.
"Aku ingin pergi ke atap gedung sekolah."
Louis berjalan pergi. Steven melihat temannya yang sesekali menatap Akira dan Sena.
"Apakah dia sedang cemburu?"
Steven berbicara dengan diri sendiri. Louis menaiki tangga menuju ke atap gedung sekolah. Wajahnya terlihat menyeramkan. Bahkan siswa pria yang bertemu dengannya ketika di tangga menjadi ketakutan. Sekarang Louis tiba di atap gedung sekolah. Dia menghirup udara segar. Berusaha menenangkan hatinya. Suasana hatinya yang buruk perlahan menghilang.
"Sebenarnya ada apa denganku?"
Setelah mulai tenang dan Louis merasa dirinya tadi seperti orang bodoh. Hal itu bukan dirinya. Dia selama ini selalu bersikap dingin dan tidak marah. Tetapi saat melihat rivalnya dan Sena suasana hatinya menjadi buruk. Apakah karena mereka berdua rival dan musuh? Louis tidak menyukai mereka berdua yang sedang tersenyum bahagia di depannya. Melihat semua orang dan pepohonan dari ketinggian terlihat sangat indah. Di dalam kelas aku sedang merapikan data laporan yang ingin aku berikan kepada ketua OSIS.
"Aku ingin pergi ke ruangan OSIS."
Akira memegang tanganku.
"Apakah aku boleh ikut?"
"Maaf Akira. Sepertinya tidak bisa. Akan ada rapat penting. Hanya ketua kelas dan anggota OSIS yang boleh masuk ke dalam ruangan rapat."
Akira kemudian melepaskan genggamannya. Aku berjalan menuju ke ruangan OSIS. Ada suara langkah kaki menuju atap gedung sekolah.
"Ternyata kamu ada di sini."
Sai yang merupakan sekertaris dari ketua OSIS berkata kepada Louis.
"Ada apa kamu mencariku?"
"Kamu selalu saja dingin. Ketua OSIS memintaku menyampaikan kepadamu untuk mengikuti rapat penting."
"Katakan kepadanya jika aku tidak dapat ikut karena harus latihan bertanding."
"Ketua OSIS juga menyampaikan jika kamu tidak dapat ikut untuk rapat maka acara kompetisi mendatang akan di tugaskan kepadamu."
Mendengar mengerjakan acara kompetisi membuat telinganya sakit. Apalagi dia harus menjadi pengurus acara. Itu sangat merepotkan.
"Baiklah. Aku akan kesana."
"Kalau begitu kami semua menunggumu."
Sai meninggalkan tempat. Louis menghela nafas. Sejak awal dia tidak ingin menjadi wakil dari OSIS. Tetapi kepala sekolah yang telah merekomendasikannya. Sebagai siswa yang dapat masuk ke sekolah elite karena mendapatkan beasiswa dirinya tidak dapat menolak permintaan. Hukum sekolah elite berbeda dengan sekolah umum biasa. Karena kepandaian dan ketampanan serta pertemanannya dengan Steven sehingga dia tidak mendapatkan bully di sekolah. Bahkan tidak ada yang tahu jika dirinya masuk ke sekolah karena beasiswa. Louis berjalan dengan malas menuju ke ruangan OSIS. Semua anggota telah berkumpul. Ada beberapa wajah yang asing.
"Siapa mereka?"
"Kenalkan mereka adalah ketua kelas di setiap kelas."
"Terus. Kenapa kamu memanggilku dengan sebuah ancaman."
Ketua OSIS tersenyum.
"Jika aku tidak melakukannya pasti kamu pasti akan menolak untuk ikut rapat penting."
"Itu tentu saja. Karena bagiku sangat merepotkan."
Tidak lama kemudian ada seseorang yang mengetuk pintu.
"Masuklah!"
Ketua OSIS mempersilakan untuk masuk. Wanita yang tidak asing merupakan musuhnya masuk kedalam ruangan OSIS.
"Kamu?"
Aku melihat Louis kemudian menunjuknya.
"Apakah kalian saling mengenal?"
"Kami hanya teman satu kelas."
Segera Louis menjawabnya. Aku menggigit bawah bibir. Kenapa aku bertemu dengannya lagi? Tidak hanya satu kelas dengannya. Tetapi kami selalu bertemu.
"Karena semua telah datang. Rapat akan di lakukan."
Ketua OSIS memulai rapat. Di atas meja ada papan nama anggota OSIS dan juga jabatannya. Louis duduk di kursi. Aku baru mengetahui jika dia merupakan anggota OSIS. Lebih terkejutnya lagi ternyata dia menduduki jabatan wakil dari anggota OSIS. Bukankah dia baru kelas satu? Menjadi ketua kelas adalah kebanggaan tersendiri. Tetapi aku kalah dengannya. Louis telah menjadi wakil ketua OSIS. Aku merasa iri. Dia di kelilingi oleh siswa wanita. Mendapatkan peringkat pertama. Ketua team basket. Dia juga menduduki jabatan di OSIS. Louis merupakan seorang siswa yang berbakat. Semua dapat diraih olehnya. Sekertaris OSIS menulis sesuatu di papan tulis.