Rara membuka pintu kamar Fany mengintip dari celah pintu untuk melihat apa yang sedang Fany lakukan malam ini. Menangis. Rara menghela napas, dengan begitu hati-hati ia menutup pintu kamar Fany dan berjalan menuju kamarnya. "Kita harus ngomong sama Reagan." Ardhan menatap Rara sekilas lalu kembali menatap buku yang ada di tangannya. "Fany nangis, bukan setiap hari, setiap saat. Kamu tega ngeliat Fany terus-terusan nangis? Fany kayak gitu gara-gara kita, jadi aku mohon, ayo kita ngomong sama Reagan." "Gak ada yang perlu diomongin lagi. Udah jelas, Reagan jauhin Fany. Soal Fany nangis, gak mungkin selamanya Fany terus-terusan nangis, cepat atau lambat Fany pasti bisa nerima semuanya, nerima kalo hubungan nya sama Reagan emang gak bisa dilanjutin lagi." Balas Ardhan tanpa menatap Rara.

