Jemari lentik itu kini menelusuri lekuk wajah lelaki yang sangat dicintainya. Rahang tegas, mata sipitnya yang khas bagaikan mata elang, bibir tipis, dan juga alis kesukaan Meechella. Semua yang ada pada diri lelaki itu adalah candu bagi Meechella. Meechella memeluk erat tubuh Damian, seakan mereka tak ingin dipisahkan lagi apapun yang terjadi. Sudah cukup apa yang mereka alami, bisakah kali ini keadaan yang bergantian mendukung mereka? Tidak bisakah dunia kini berbalik arah untuk mendukung mereka satu kali saja. “Aku merindukanmu ... sangat merindu,“ lirih Meechella mengeluarkan sesak yang selama ini ia tahan. “Maafkan aku, kita terlalu banyak berselisih karenaku,“ ucap Damian menyesal. Dia menyesal, telah menyesal membuat wanita sangat menderita karenanya. Diapun sangat menyesal, men

