Kekuasaan

1561 Kata
Marsha duduk dengan gugup sembari sesekali mencuri pandang pada wanita yang kini sudah berpakaian, tengah menuangkan jus pada gelas. Satu gelas diberikan pada Marsha. “Minum dulu, jangan gugup begitu, jangan takut juga.” “Gak normal kalau dia gak takut,” sahut Kalandra yang berdiri disamping kulkas, sembari meneguk minuman kalengnya. “Lagipula bisa-bisanya dia masuk rumah orang lain sembarangan.” “Kalandra…” “Kan saya sudah jelaskan, Pak. Kalau saya gak sengaja nabrak asisten rumahnya bapak, makannya saya gantiin kesini sekalian mau minta maaf,” ucap Marsha dengan sisa keberanian. Kalandra tampak hendak menyahut, tapi ponselnya berdering membuat pria itu melangkah ke balkon untuk mengangkatnya. Meninggalkan Marsha dengan wanita cantik tersebut, sebenarnya Marsha tahu siapa wanita itu, namanya Indila, seorang model majalah kecantikan dan fashion, dulu kakak Tingkat di kampus memiliki koleksi majalahnya. “Minum dulu biar kamu gak gugup.” “Sekali lagi saya minta maaf, Bu. Saya tidak tahu ini rumah Pak Kalandra, dan saya tidak tahu bapak ada dirumah bersama dengan Ibu.” Indila malah tertawa. “Santai aja, manggilnya Kakak aja, jangan Ibu. Serasa tua kalau ada yang manggil aku begitu. Ngobrolnya santai aja ya, Marsha.” “Tap—" “Gak ada tapi, lagian aku bukan pacarnya Kalandra. Kami teman dengan… benefits? Kamu paham lah ya, kan sudah dewasa.” Mata Marsha membulat kaget. Dia tidak aneh dengan istilah itu, hanya saja tidak menyangka hubungan Kalandra dan model cantik ini hanyalah Friends with benefits. Padahal dilihat dari sisi manapun, Indila ini sangat cantik dan sempurna, cocok jika disandingkan dengan Kalandra yang gagah perkasa. “Jangan kaget gitu dong, ini Jakarta loh, udah 2026 juga. Hal kayak gitu udah lumrah kan? Lagian kami sama-sama dewasa, udah tahu baik dan buruknya.” “E —Eh? Aku gak bermaksud apa-apa kok, Kak.” Indila malah kembali tertawa. “Aku ada jadwal pemotretan sih. Ditinggal dulu ya sama Kalandra, harus sabar kalau menghadapi dia, oke?” Belum sempat Marsha menjawab, Indila lebih dulu melangkah menuju ke balkon dimana Kalandra masih menelpon. Perempuan itu mencium pipi Kalandra sebelum akhirnya menuju pintu keluar. Meninggalkan marsha dalam ketakutan. Kali ini, apa yang akan dilakukan Kalandra padanya ya? Banyak sekali kesalahan yang Marsha buat, dia takut sekali. Begitu telepon ditutup, langkah Kalandra terdengar berat tapi tenang, menghampiri meja makan marmer hitam tempat Marsha meletakkan hidangan yang dia bawa. Marsha hanya diam, memeluk tas kosongnya erat-erat sambil menahan napas. Pria itu mengambil sendok, mencicip satu suap ayam panggang lemon-butter. Rahangnya bergerak pelan. Marsha tak tahu apakah itu pertanda bagus atau buruk. Dia menelan saliva, mencoba berani membuka suara. “P—pak… saya mau minta maaf soal Mbok yang saya tabrak. Tulang kakinya patah, jadi saya pikir… saya bisa gantiin dulu sampai dia sembuh. Tapi mulai besok, staff café saya bisa ambil alih. Mereka biasa masak untuk menu harian, jadi—” “Kamu.” Suara itu memotong heran, pelan, namun menggedor jantung Marsha seperti palu godam. “A—apa, Pak?” Kalandra menaruh sendok. Tatapannya naik ke mata Marsha. Dingin. Tegas. Tidak memberi ruang untuk tawar-menawar. “Kamu yang datang ke sini,” ulang Kalandra. “Pagi dan malam. Dua kali sehari.” “L—loh… saya? Tapi… staff saya bisa—” “Saya tidak mengizinkan orang asing masuk unit saya.” Nada itu menurun, tapi tekanannya justru meningkat. “Kamu sudah masuk tanpa diundang sekali. Cukup.” “Tapi Pak, saya—” “Mbok asisten itu bekerja di sini sepuluh tahun.” Kalandra menyandarkan satu tangan di meja, tubuhnya mendekat pelan. “Kamu menabraknya. Kamu yang menggantikannya. Bukan staf café. Bukan orang lain.” Marsha membeku. “Dan,” lanjutnya, “Jika kamu keberatan… saya bisa ajukan langkah hukum soal insiden hari ini. Termasuk soal kamu yang kembali memasuki rumah saya tanpa izin. Dan kalau perlu…” Tatapannya turun sedikit ke bibir Marsha, cukup untuk membuat perempuan itu menegang lagi. “Saya masukkan juga laporan ciuman di rumah sakit itu.” Dunia Marsha seakan berhenti. Tidak ada suara. Tidak ada napas. Hanya tatapan laki-laki dewasa yang bisa menghancurkan masa depan seseorang dengan satu kalimat. “Jadi?” suara Kalandra dalam, menuntut. “Kamu sanggup?” Marsha langsung mengangguk cepat, hampir tersedak kata-katanya sendiri. “S—sanggup, Pak! Sanggup! Saya akan datang. Pagi dan malam. Saya yang masak. Saya… saya janji.” Kalandra mengangguk pelan. Hampir seperti predator yang puas melihat mangsanya menyerah. “Bagus.” Marsha menelan ludah keras-keras, menyadari satu hal yang menampar jantungnya dari dalam. Dia baru saja mengikat dirinya sendiri pada laki-laki ini. Dan dia tidak tahu bagaimana cara melepaskannya. *** “Gak papa, Ma. Biar Marsha aja yang nganterin makanannya ke rumah Eyang. Sekalian pagi ini Marsha harus ke apartemen klien eksklusif.” Marsha mengambil kotak makanan di tangan sang Mama, suara perempuan itu masih diselingi batuk yang pelan tapi jelas membuat d**a Marsha mengencang khawatir. “Sha, kamu yakin? Kamu kalau ke rumah Eyang suka… ya kamu tahu sendiri,” suara Mamanya bergetar, antara cemas dan sungkan. Marsha memeluknya, lembut tapi mantap. “Aku baik-baik aja, Ma. Beneran. Mama istirahat aja, jangan capek. Aku anterin buat Eyang.” Marsha enggan Mamanya kembali mendapatkan perlakuan sinis dari keluarganya sendiri, biar Marsha saja. Marsha takut Mamanya kembali sakit parah. “Pa, aku berangkat dulu! Mama batuk-batuk, kasih air hangat ya!” “Ya!” jawab Papanya dari lantai atas. Pukul enam pagi, langit Jakarta masih biru pucat saat mobilnya melaju menuju rumah Eyang Hadi dan Eyang Andari, rumah tunggal besar warisan generasi tentara, gerbang besi tinggi, halaman luas seperti markas kecil. Marsha menarik napas panjang sebelum parkir. Tidak ada satu pun pelayan tampak di depan. Hening sekali. Dia terpaksa masuk ke dalam, membawa kotak makanan dengan dua tangan. “Halo? Ada orang?” panggilnya, suaranya menggema di lorong yang dingin. Tak ada jawaban. Namun dari belakang, dari ruang keluarga besar terdengar suara orang-orang berbicara. Nada formal, nada tegas… dan satu suara yang membuat bulu kuduk Marsha berdiri. “Masa dia ada dimana-mana sih?” gumam Marsha. Marsha mendekat perlahan, bersembunyi di balik pintu kayu ukir. Lalu… Dia membeku. Benar saja, disana ada Kalandra! Juga ada Eyang Hadi, mantan perwira tinggi dengan sorot mata tajam dan Eyang Andari yang wajahnya selalu kaku dingin setiap melihat Marsha. Di samping mereka, Ayumares… menggenggam tangan Arveno. Arveno. Pria yang dulu dia cintai sampai hampir mati. Pria yang mengkhianatinya bersama sepupunya sendiri. Marsha menahan napas. “Saya minta tolong sama kamu, Kalandra,” suara Eyang Hadi berat. “Bantu Arveno dipromosikan. Pakai caramu, kalau perlu ditugaskan operasi luar kota sedikit supaya dapat poin. Sebelum mereka menikah, kalau bisa selesai semua. Dia juga sama berada di TNI AL, pasti kamu punya koneksi bukan untuk membantu Arveno naik pangkat? Masa ditulis diundangan masih Lettu.” Marsha merasakan hatinya disayat perlahan. Ayumares membenarkan posisi duduknya, tersenyum kecil. “Calon suami saya ini kan hebat. Bapak pasti pernah dengar namanya ‘kan?” Arveno menunduk sopan, seolah tidak pernah memporak-porandakan hidup Marsha. Kalandra hanya diam mendengarkan sebelumnya, tapi tatapannya pada Arveno tampak meremehkan. “Dengan hormat, saya tidak punya kewenangan mengatur kenaikan pangkat orang yang bukan anggota satuan saya, Pak,” jawabnya tenang namun sangat tegas. “Koordinasi lintas matra ada prosedurnya. Saya tidak bisa sekadar ‘mengusahakan.’ Kalau Arveno punya prestasi, dia naik. Kalau tidak, dia harus bangun prestasinya dulu.” Ayumares cemberut. “Emang gak bisa banget, Pak? Saya mohon bantu calon suami saya, sedikit saja.” “Tidak ada ‘sedikit.’ Ini militer,” balas Kalandra tanpa menoleh. “Kami akan menikah, tapi pangkatnya harus naik, tolong bantu.” Marsha terpukul oleh kenyataan itu, Arveno akan menikah. Dengan orang yang mengkhianatinya. Di rumah yang selalu mengusirnya. Di depan dua Eyang yang selalu membencinya. Kotak makanan di tangannya bergetar. Sampai akhirnya jatuh. BRUK! Bunyi cukup keras memecah percakapan. Semua kepala menoleh. Marsha membeku seperti anak kecil yang ketahuan mencuri. Wajah Eyang Andari langsung mengeras. “Marsha?! Kamu ngapain di sana?! Ganggu saja!” Eyang Hadi menambah, “Pelayan! Cepat bawa dia ke luar! Selalu buat masalah!” Ayumares menggumam sinis, cukup keras untuk terdengar, “Astaga, sepupuku satu ini… ceroboh banget sih. Maaf ya, Pak Kalandra. Dia memang suka begini.” Marsha menunduk, wajah panas oleh malu dan luka lama yang kembali ditarik paksa dari kubur. Namun sebelum pelayan sempat datang, ada langkah berat mendekat. Kalandra. Pria itu berjalan melewati Ayumares dan Arveno, menghampiri Marsha yang masih jongkok memunguti kotak makanan yang jatuh. “Tidak usah dibantu, Kalandra. Kemari dan kita bicara lagi,” ucap Eyang Hadi. Ayumares bersuara, bingung, “Pak, gak usah dibantu. Dia itu—” “Dia kekasih saya.” Suara Kalandra pelan, namun meretakkan udara. Semua orang terdiam. Ayumares menegang. Arveno memucat. Eyang Andari nyaris berdiri dari kursi. Marsha menatapnya dengan wajah terkejut, bibirnya terbuka sedikit tanpa suara. Kalandra tidak menatap siapa pun selain Marsha. Pria itu berjongkok di dekat Marsha lalu tangannya terulur… menggenggam tangan Marsha yang gemetar. Genggaman itu kuat hingga mampu menghentikan gementar di tangannya. “Marsha kekasih saya, Pak. Tolong perlakukan dia sebagaimana kalian memperlakukan saya.” Lalu menarik Marsha untuk bangun. “Biarkan pelayan saja yang membersihkannya. Bukankah disini ada pelayan?” Ruangan itu membeku. Marsha merasakan dunia yang selama ini menginjaknya… tiba-tiba berhenti bergerak. Dia tidak mengerti apa yang ada di kepala Kalandra. Bohong atau tidak, ancaman atau bukan, yang jelas untuk pertama kalinya, seseorang berdiri di hadapannya. Bukan memaki. Bukan mengusir. Tapi menggenggam tangannya.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN