Hasrat yang Menegang

1353 Kata
Matahari sudah benar-benar tenggelam ketika mobil Toyota Land Cruiser LC300 GR Sport milik Kalandra memasuki area parkir bawah tanah apartemen penthouse itu. Langit Jakarta berubah ungu tua, lampu-lampu kota berpendar seperti kilau serpihan kaca. Marsha duduk diam di kursi penumpang sambil memeluk tasnya. Rasa pegal bercampur kesal masih bertengger di pipinya akibat tamparan ikan. Sesekali dia menoleh ke belakang, memastikan kotak pendingin besar berisi ikan kuwe gerong, ikan sialan yang menampar pipinya masih di sana. “Pak,” gumam Marsha, memecah hening, “itu ikan mau dimasak apa?” Kalandra tidak langsung menjawab. Tangan besar itu tetap mantap mengendalikan lingkar kemudi, wajahnya hanya diterangi cahaya dashboard. “Pikirkan sendiri,” jawabnya tenang, terlalu tenang. “Saya malas berpikir soal menu.” Marsha memutar bola mata. “Kalau Bapak malas berpikir, kenapa saya yang disuruh mikir? Saya jurnalis lingkungan, bukan juru masak profesional.” “Jurnalis lingkungan harus bisa mengapresiasi hasil laut.” Marsha hanya mendengus panjang. “Iya, Pak… terserah.” Land Cruiser berhenti di parkiran privat. Dua petugas apartemen segera menghampiri. “Ada yang bisa dibantu, Pak?” “Tolong bawa ini ke atas,” ucap Kalandra sambil menunjuk kotak pendingin besar. “Yang satu lagi untuk penjaga di pos, bagi-bagi rezeki.” “Siap, Komandan.” Marsha mengikuti dari belakang, langkahnya pendek. Lift khusus membawa mereka ke lantai tertinggi, langsung menuju pintu penthouse Kalandra. Begitu pintu terbuka, aroma kayu sandalwood langsung menyambut, aroma khas rumah laki-laki militer yang terlalu rapi. “Taruh di meja dapur saja,” ucap Marsha pada petugas. “Terima kasih, ya.” Para petugas pergi. Kalandra langsung naik ke lantai dua tanpa menoleh. Dapur penthouse luas, bersih, dan dingin. Lemari pendingin penuh bahan makanan premium. Marsha membuka kotak ikan dan memandangi tubuh raksasanya. “Masak apa ya…” gumamnya. Dia melihat bahan-bahan lain ada lemon, jahe, bawang putih, sayuran. “Hmm… pepes kuwe gerong? Atau grilled dengan lemon butter?” Marsha menghela napas dan mulai bekerja. Dia menyiangi ikan, memotong sayur, membuat campuran bumbu. Sunyi. Hanya suara potongan pisau menyentuh talenan dan dengung AC. Hingga— CEKLEK! Pintu apartemen terbuka. Marsha menoleh. Matanya langsung membesar. “Marshaaaaaa~ darling!” Suara lembut nan memabukkan itu milik satu-satunya perempuan yang mampu membuat Marsha merasa seperti karung beras jika berdiri di sebelahnya. Indila. Supermodel. Teman tidur Kalandra. Wanita sempurna dengan rambut sepinggang. Perempuan itu masuk, langsung memeluk Marsha. Tubuhnya harum, hangat, wangi parfum mahal yang Marsha tidak berani sebut harganya. “Aku bau, Kak. Jangan deket-deket.” Indila tertawa lembut sambil melepaskan pelukan. “Aku baru selesai sesi foto, dan..... tadaaah!” Ia mengangkat paper bag butik mewah. “Aku dapat banyak sponsor. Yang ini tidak muat di aku… jadi buat kamu.” Marsha berkedip. “Untuk aku?” “Ambillah. Warnanya cocok sama kulit kamu yang hangat. Dan bentuknya… ya, tubuh kamu bisa isi dress ini lebih baik daripada aku.” “Terima kasih, Kak Indila.” “Tidak usah sungkan,” kata Indila sambil tersenyum manis. “Kamu sering dimarahi Kalandra ‘kan? anggap ini buah kesabaran kamu.” Marsha tertawa canggung. “Kak Indila mau makan di sini juga?” “Hmm~ mungkin. Lihat nanti,” jawab Indila sambil menatap sekeliling dengan tatapan familiar terhadap rumah ini. “Aku mau cek dulu Kalandra. Dia di mana?” “Di atas,” jawab Marsha. “Oh?” Indila tersenyum menggoda. “Di kamarnya?” “Kayaknya sih iya,” balas Marsha sambil memotong bawang. Indila melambai manis. “Aku naik dulu ya, sayang.” Lalu dia melangkah anggun menuju tangga naik seperti sudah hafal letak setiap anak tangga. Dan tanpa ragu, Indila langsung membuka pintu kamar Kalandra dan masuk. Marsha berdiri terpaku. Pisau masih di tangannya. Bawang masih setengah terpotong. “…gila,” gumamnya lirih. “Mau-maunya ya model selevel Kak Indila jadi FWB-nya Pak Kalandra. Dan yang bodoh itu siapa? Ya Komandan militer 190 cm itu. Kenapa nggak pacarin saja sekalian? Tuh orang secantik begitu mau kok.” Dia menggeleng pelan, kembali mengiris bawang sambil mendecak. Menit demi menit berlalu ditemani hujan dan petir, makan malam sehat sudah siap. Aroma lemon, jahe, dan merica memenuhi dapur penthouse yang dingin dan bergema. Marsha menuang sup panas ke mangkuk besar, lalu memasukkan satu porsi ke dalam kotak makan untuk dibawa pulang. Semua beres. Semua rapi. Tinggal tunggu… dua makhluk di lantai dua itu. Tapi Kalandra maupun Indila belum turun. Marsha melirik ke arah tangga. Jangan bilang mereka lagi bersetubuh…. ya Tuhan… Marsha langsung memotong pikirannya sendiri. “Positif thinking, Sha. Positif,” gumamnya sambil menutup kotak makan. “Kalau memang mereka sedang… euh… ya sudahlah. Minimal suaranya jauh di lantai atas. Tidak akan bikin trauma permanen.” Dia kembali membereskan dapur. Bunyi hujan menghantam kaca jendela seperti ribuan jarum. Sesekali petir memecah langit, membuat pantulan cahaya memantul di meja marmer. Saat dia sedang mengelap panci terakhir— TAP. TAP. TAP. Suara langkah tumit tinggi menuruni tangga. Indila muncul duluan, rambut hitam panjangnya basah lembap seperti habis mandi kilat, blazer putihnya belum dikancing, wajahnya jelas-jelas kesal. Di belakangnya… Marsha hampir menjatuhkan lap. Kalandra turun… hanya memakai boxer hitam. BOXER. HITAM. d**a TELANJANG. OTOT SEMUA. DAN MASIH BASAH. DAN SESUATU DIBAWAH SANA MENYEMBUL BEGITU BESAR! Marsha spontan memalingkan kepala ke arah wastafel secepat mungkin. “Tuhan… Tuhannn kenapa hidup saya begini amat…” gumamnya lirih sambil menahan napas. Indila memasang ekspresi memohon. “Kal, kamu ngerti dong… job dadakan itu penting. Ini brand besar. Aku nggak bisa bilang ‘tolong tunggu lima menit, aku lagi…’ ya kamu tau lah!” Kalandra mengusap wajah, tampak sangat frustasi. “Saya cuma minta lima menit.” “Dan aku bilang nggak bisa, Kal. Please ngerti.” Indila menyambar tasnya dan menuju pintu. “Aku pulang dulu. Good night, Marsha!” serunya cepat. Marsha mengangguk kaku tanpa menoleh. “Selamat… malam…” Kalandra berjalan sampai ke depan pintu mencoba menahan. “Indila. Lima menit.” “TIDAK!” Pintu tertutup. Indila lenyap. Hening. Yang terdengar hanya petir… dan detak jantung Marsha sendiri yang seolah memukul tulang rusuknya. Marsha tetap fokus cuci piring, mencoba terlihat sibuk seperti pegawai magang yang takut dipecat. Dia menggosok piring padahal piring itu sudah bersih.. Dan ketika dia berbalik, Kalandra sudah berdiri tepat di belakangnya. “A—AAAAAAAA! ya Tuhan! Bapak jangan muncul kayak hantu dong!!” Kalandra mengerutkan alis. “Berisik.” Dia meraih kulkas, membuka pintu, mengambil minuman dingin seperti adegan iklan, otot lengannya tegang, sorot matanya masih kesal. Marsha menelan ludah. Dia tadi… sama Indila… berarti… Ya ampun Sha jangan mikir. Belum beres ya kayaknya? Kalandra meneguk minumannya seteguk, lalu menoleh ke arah Marsha. Tatapannya membuat Marsha mundur setengah langkah. “Kenapa, Pak?” Suara Marsha kecil sekali, seperti anak ayam disiram hujan. Kalandra tidak menjawab. Dia hanya menatap. Lama. Sangat lama. Sampai Marsha gemas sendiri. Lalu— JDER! Petir menyambar. Listrik gedung berkedip. Marsha terlonjak setengah mati dan menciut, belum lagi dibawah tatapan mengerikan Kalandra. Pria mengangkat minuman, menyesap lagi, lalu berkata dengan sangat tenang, “Kamu tidur di sini malam ini.” “…Apa?” “Tidak ada bantahan. Kalau kamu tidak tidur di sini, saya tidak akan ajak kamu ke zona operasi yang lainnya.” “…Apa??!” “Dan saya tidak ulang dua kali.” Pria itu menaruh botol minuman di meja. “Bawa tas kamu. Pilih kamar tamu paling ujung lantai dua.” "Kenapa harus menginap, Pak? apa urgensinya?" "Banyak, kamu haris disini atau pulang kembali ke kantor jurnalismu itu.: Marsha membuka mulut ingin protes, tapi tidak keluar kata. Kalandra berjalan naik tangga sambil mengomel tanpa menoleh: “Saya pakai baju dulu, nanti kita makan bersama.” Marsha berdiri mematung. Gemuruh petir menyala lagi, membuat seluruh ruangan tampak lebih gelap. Dia memeluk dirinya sendiri. “K…kenapa harus nginap?” gumamnya. “Dia nggak akan macam-macam… kan? Atau… oh Tuhan jangan bilang— Sha, stop! STOP! Fokus.” Marsha memukul pipinya senriri. Tapi… tadi saja dirinya melihat milik Kalandra masih berdiri tegak menantang. Dia menatap ke arah lantai atas, tempat Kalandra menghilang. Napasnya naik turun. Gimana kalau.... dia macam-macam dengan miliknya yang besar itu?! Marsha takut teringat bagaimana Indila bahkan menjerit meminta tolong ketika ditiduri oleh Kalandra. "Aaaaa! gak mauuuu!"
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN