"Njir! Kalian ngapain bawa gue ke cafe ini sih? Mana ada Pak Arga, dandanan gue kayak ondel-ondel lagi!" ucap Naura, Naura menarik tangannya dari cengkraman tangan Rahma.
"Udah deh, mending sekarang lo selesaikan masalah lo sama Pak Arga. Gak baik marah-marahan," ucap Rahma.
"Tapi... "
"Udah gak ada tapi-tapian! Sana, kasian Pak Arga udah nunggu!" ucap Rahma sedikit mendorong Naura.
Naura menghela nafas, ia pun berjalan menuju Pak Arga yang sedang duduk dan menyeruput kopinya.
"Hem!" Naura sedikit mengkode Pak Arga.
"Eh, kamu sudah datang?" ujar Arga. "Ayo duduk!"
Naura pun duduk, ia tidak bisa mengkontrol detak jantungnya sekarang.
"Mau pesan apa?" tanya Arga membukakan buku menu di hadapan mereka. Karena tidak menjawab ucapannya, Arga menatap Naura yang diam, dan sedang mengalihkan pandangannya.
"Tumben kamu dandan?" ucap Arga, ia baru menyadari penampilan Naura malam ini.
"Emang gak boleh?" ucap Naura sedikit sensitif. Membuat Arga tersenyum kaku.
"Bukan gitu. Kamu cantik, kok," ucap Arga. Menatap Naura dengan tulus.
Naura kaget, ia tidak menyangka jika Arga akan memujinya. Beberapa detik kemudian Naura sadar, dan menormalkan lagi ekspresi wajahnya.
"Jadi, mau pesan apa?" tanya Arga sekali lagi.
"Terserah, Bapak... " jawab Naura sedikit gugup.
"Bapak?" Arga mengulangi ucapan Naura. "Oke kalau begitu." Arga pun segera memesankan makanannya.
Keduanya kembali diam. Sibuk dengan pikiran mereka masing-masing. Hingga akhirnya Naura memulai pembicaraan.
"Bang Gaga... "
Naura memelankan nada bicaranya. Namun Arga tetap bisa mendengarnya. Bahkan kini lelaki itu berbalik dan menatap Naura.
"Maaf... "
Arga mengerutkan keningnya bingung. Sementara Naura mengigit bibir bawahnya.
"Sikap saya kekanak-kanakan," sambung Naura. Kini Arga paham, dengan arah pembicaraan Naura.
"It s okey, kamu memang masih anak-anak," balas Arga. Naura menunduk memilin jarinya. Entah kenapa jika di tatap Arga seperti itu dia ia menjadi lemah tak berdaya.
"Tangan kamu... " Naura kaget, karena Arga menarik tangannya yang masih terbungkus perban.
"Udah baik-baik aja kok, Bang," jawab Naura. Naura menarik lagi tangannya. Dan menyembunyikan tangannya di bawah meja.
Arga mengangguk. "Jadi, kamu masih mau membantu saya?"
Naura diam sebentar, kemudian gadis itu mengangguk. Membuat Arga tersenyum senang.
"Dan saya pasti akan mengajari kamu, sampai kamu lulus dengan nilai terbaik," balas Arga. Naura hanya tersenyum.
Naura, gadis itu mencoba untuk menurunkan egonya. Meskipun hal ini berat untuk dirinya.
***
"Mereka udah baik kan ya? Ah seneng deh liatnya!" seru Rahma ketika melihat Naura dan Arga.
Airin diam, sembari memutar bola matanya. Rahma pun menatap Airin.
"Lo kenapa Rin?" tanya Rahma sembari meminum jus yang ia pesan.
"Kenapa sih lo malah dukung Naura sama Pak Arga?" ucap Airin.
"Airin Dilla Savira, sekarang lo liat Naura bahagia kan sama Pak Arga?" ucap Rahma. Airin menatap Naura dan Arga yang sedang bercanda. Keduanya tampak bahagia.
"Rin, lo tahu kan gimana perjalana hidup Naura selama ini? " ucap Rahma mengusap bahu Airin. Airin mendongak, menatap Rahma. Seketika ia ingat semuanya, tentang perjalanan hidup Naura.
"Naura tuh jarang banget bahagia. Dan sekarang yang jadi pusat bahagianya itu Pak Arga, jadi kita harus dukung Rin. Gimana pun endingnya nanti," sambung Rahma.
Setelah mengucapkan kalimat itu, Rahma fokus pada makannya. Sementara Airin hanya diam, menatap Naura yang benar-benar nampak bahagia. Dalam hati Airin berkata.
"Semoga lo selalu bahagia, Ra."
*****
Felly masuk kedalam sebuah cafe. Ia melihat siluet yang ia kenal. Sosok itu tengah duduk di kursi sendirian tentunya. Felly melangkah, berjalan mendekat meja orang yang ia kenal.
"Theo?"
Lelaki bernama Theo itu mendongak, menatap Felly kaget.
"Felisha?"
Felly tersenyum, "Aku boleh duduk di sini?"
"Iya boleh. Duduk aja," ujar Theo.
Felly pun duduk di kursi kosong depan Theo.
"Kamu apa kabar?" Secara bersamaan keduanya mengucapkan kalimat itu. Keduanya terdiam, lalu tertawa bersama.
Theo menyeruput kopi yang ia pesan. Sembari menatap Felly.
"Aku baik, kamu gimana?" tanya Theo. Felly menghentikan tawanya, dan menatap Theo.
"Aku juga baik, " jawab Felly sembari tersenyum tipis.
Keduanya kembali diam, merasa canggung satu sama lain. Felly menunduk, sementara Theo terus memperhatikan Felly.
"Kamu masih sama seperti dulu. Tetap cantik," puji Theo. Felly mendongak kearah Theo.
"Makasih. Pujiannya," ujar Felly. "Kamu sekarang tinggal di mana?"
"Di.... "
Belum sempat menjawab, ponsel Theo tiba-tiba berbunyi. Theo melihat ponselnya, dan mengangkat telpon tersebut.
"Hm?"
"........"
"Iya."
Telpon di matikan. Dan Theo menatap Felly. "Maaf Fell, aku harus pergi sekarang. Lain kali kita ngobrol, lagi ya."
"Oke. Hati-hati di jalan," ucap Felly sembari tersenyum tipis. Theo pergi, sementara Felly hanya melihat punggung Theo yang semakin jauh.
Padahal Felly sangat merindukan Theo. Dan Felly berharap, ia bisa ketemu dengan Theo lagi.
****
"Kamu sudah selsai makannya?" tanya Arga kepada Naura. Naura mengangguk, dan menyelsaikan makannya.
"Udah, Bang," ucap Naura.
"Ya udah ayo," ajak Arga.
"Ha? Kemana?"
"Pulang, saya antar kamu pulang," ucap Arga.
"Beneran?"
"Cepat. Sebelum saya berubah pikiran," ucap Arga. Membuat Naura segera berjalan mengikuti langkah Arga.
Naura melirik kearah Rahma dan Airin. Ia mengacungkan jempolnya kepada keduanya. Lalu berjalan di samping Arga.
Arga membuka pintu mobil. Lalu masuk kedalam mobilnya. Begitu juga dengan Naura. Arga diam, belum menghidupkan mesin mobilnya. Sedangkan Naura menatap heran kearah Arga.
"Kok gak jalan, Bang?" tanya Naura.
"Seat belt kamu belum di pasang," ucap Arga. Arga mendekatkan tubuhnya dengan Naura. Ia menarik seat belt dan memasangkannya. Jarak keduanya begitu dekat.
Naura hanya bisa menahan nafasnya. Serta mencoba menormalkan degup jantungnya.
Setelah itu, Arga mulai menjalankan mobilnya. 15 menit kemudian, Arga menghentikan mobilnya. Dan melirik Naura.
"Kamu tinggal di sini, kan?" ujar Arga. Naura melihat kanan dan kiri.
"Loh ini kan gang kostan Airin," batin Naura.
"Naura... "
"Eh iya, Bang. Saya tinggal di daerah sini," jawab Naura. Naura mengambil tasnya. "Makasih, ya Bang. Hati-hati di jalan."
"Oke, sampai ketemu di kampus," balas Arga. Naura keluar dari mobil Arga. Arga pun segera pergi dari hadapan Naura.
"Duh, harus pesen taksi online lagi, dong!" ucap Naura. Naura pun membuka ponselnya untuk memesan taksi online.
****
"Makasih, ya Mas," ucap Naura turun dari taksi online.
Naura berjalan masuk kedalam perkarangan rumah. Ia melihat bagasi mobil. Mobil di rumahnya lengkap.
Berarti semua anggota keluarnya ada di rumah. Termasuk Atmajaya. Naura menghela nafas gusar. Ia pun segera masuk kedalam rumah.
"Assalamualaikum," ucap Naura melangkah masuk kedalam rumah.
"Wa'alaikumsalam, sayang kamu pulang? Mami khawatir kamu gak pulang, kayak semalam," ucap Nayla yang langsung manyambut Naura.
"Mi, Naura ke kamar dulu, ya," ucap Naura.
"Eh tumben kamu pakai dress, dan dandan gini?" ucap Nayla yang mulai menyadari tampilan Naura.
"Iya tadi ada party di rumah temen," alibi Naura.
Nayla mengangguk, "Ya udah kamu mandi, dan segera istirahat."
Naura mengangguk, baru berjalan dua langkah, Naura di kagetkan dengan suara Papinya.
"Naura... "
Langkah Naura berhenti. Ia membalikkan badannya dan menatap Atmajaya.
"Kenapa dengan tangan kamu?" ucap Atmajaya. Baik Naura maupun Nayla melirik kearah tangan Naura.
"Ya ampun Naura itu kenapa? Kok bisa di perban gitu?" ucap Nayla kaget. Tentu saja sebagai seorang ibu ia khawatir melihat tangan Naura di perban seperti itu.
"Papi, udah tahu kan?" jawab Naura singkat. Naura yakin, orang-orang Atmajaya sudah menginformasikan kepada Atmajaya.
Atmajaya diam. Sementara Naura segera berjalan menuju kamarnya. Naura masuk kedalam kamar. Ia duduk di meja rias. Dan mulai menghapus sisa make up yang menempel di wajahnya.
Setelah itu Naura masuk kedalam kamar mandi untuk membersihkan tubuhnya. Keluar kamar, Naura kaget karena melihat ada Maminya dan Dokter Nina, Dokter keluarganya.
"Ra, biar Dokter Nina yang cek keadaan tangan kamu," ucap Nayla.
"Tapi... "
"Udah, sini! Nanti infeksi," ucap Nayla memotong ucapan Naura. Naura hanya menurut. Dokter Nina mulai membersihkan luka Naura. Beliau juga mengganti perban di tangan Naura.
"Luka kamu lumayan parah, usahakan jangan kena air dulu," ucap Dokter Nina.
"Iya Dok, makasih," jawab Naura seadanya.
"Kalau begitu saya permisi dulu, Bu," ucap Dokter Nina.
"Mami antar Dokter Nina dulu, ya," ucap Nayla. Naura mengangguk. Naura di tanggal sendiri di kamarnya. Ia menatap perban di tangannya. Gadis itu diam, sembari merebahkan tubuhnya di ranjang.
Naura mengambil. Ponselnya, ia melihat wallpaper ponselnya. Naura tersenyum, ada foto dirinya dengan Nayla, serta Arman, Papanya.
Naura pun memilih icon telpon dan mencari nomor Arman. Naura mencoba menghubungi Arman. Namun hanya suara operator yang terdengar.
Sudah hampir 5 tahun, ia tidak bertemu dengan Arman. Entah ada di mana ia sekarang, yang jelas Naura sangat merindukan Arman.
"Sayang kamu udah makan?" Naura mendongak melihat Nayla yang sudah duduk di tepi ranjang.
"Udah tadi," jawab Naura.
"Kamu jangan sering pulang malam dong. Mami khawatir."
"Maafin Naura Mi," ucap Naura. Naura memeluk Nayla. Pelukan mereka terlepas. Naura pun menatap Maminya.
"Mi, Naura minta nomor Papa Arman yang baru," ucap Naura.
"Ra... "
"Bagaimana pun juga Papa Arman Papa kandung aku, Mi. Pengen tahu keadaan dia. Aku kangen sama Papa," ucap Naura mula meneteskan air matanya.
"Dia berbahaya, dia... "
"Dia Papa aku... " ucap Naura memotong ucapan Nayla.
Nayla mengatupkan kedua bibirnya. Ia tidak bisa berkata-kata.
"Mami, please..... " ucap Naura benar-benar mohon.
"Mami gak punya nomornya," jawab Nayla.
"Kalau gitu aku bakalan cari Papa sendiri. Mami gak boleh halangi aku," ucap Naura. Nayla hanya diam ia takut kalau Naura sampai kenapa-napa.
"Kamu istirahat," ujar Nayla sembari mengusap kepala Naura. Nayla keluar dari kamar Naura. Ia menutup pintu pelan. Dan tanpa sadar Atmajaya menguping pembicaraan mereka.
"Mas... " ucap Nayla yang kaget dengan keberadaan Atmajaya. Atmajaya menarik Nayla dalam pelukannya. Ia mengusap bahu wanita yang sangat ia cintai.
"Kapan Naura tahu? Kalau aku adalah Ayah kandungnya, bukan b******n itu."