Ketika Ardi sampai emosi ku tiba tiba memuncak. Kulihat di wajahnya tak tampak sama sekali kesedihan dan kehilangan. Segera ku hampiri dia, memukuli dadanya. Aku berteriak dan menangis kencang menyalahkan dia atas kematian Ilham. Sungguh aku sangat membencinya saat ini. Dia yang tak pernah pulang, dia yang tak pernah memberikan kabar atau menanyakan keadaan Ilham, bahkan menghilang tanpa kabar sejak kelahiran Ilham. Ayah macam apa dia, yang ketika aku hamil, dia bilang sangat menunggu nunggu kehadiran bayiku. Dan dia pun hanya diam mematung, akupun terus saja memukulinya dan memarahinya habis habisa. Sampai akhirnya dia menampar pipi kananku dengan keras, dan dia ganti menyalahkan aku atas kematian bayi Ilham. Katanya aku lah yang berandil besar atas cacat lahir yang dialami bayi Ilh

