Sejak kejadian memalukan tersebut, tak pernah lagi Om Justin menghubungiku. Nomernya pun tak dapat lagi kuhubungi. Sedikit kecewa karena ternyata Om Justin lebih memilih keluarganya, dari pada aku dan Koko. Padahal dahulu dia berjanji, jika suatu saat ketahuan istri sah nya, dia akan lebih memilih aku dan Koko, karena dia sungguh ingin anak laki laki. Tapi sekarang dia malah tak ada kabar, dasar laki laki pengecut, gumamku kesal. Aku pun akhirnya kembali ke rumah Ibu, karena kontrakan juga sebentar lagi habis, dan tak mungkin aku memperpanjangnya lagi, uang dari mana. Karena Koko masih kecil, aku jadi tak tega meninggalkannya untuk bekerja, jadi aku berinisiatif untuk membuka sebuah toko kelontong di depan rumah ini. Kujual motor pemberian Om Justin, kugunakan untuk membuat sebuah kio

