Hana terus termenung. Bahunya terangkat sedikit setiap kali ia menarik napas panjang, lalu jatuh kembali dengan lelah seolah seluruh energi hidupnya terkuras habis. Ia menelan ludahnya dengan getir, mencoba menenangkan gejolak di dadanya—tapi yang tersisa hanya nyeri yang menghimpit, nyeri yang tidak bisa ia arahkan pada siapa pun. Ia tidak bisa menyalahkan siapa pun atas hancurnya hatinya. Cinta yang selama ini ia genggam perlahan retak… lalu pecah dalam genggaman. Namun jauh di dalam dadanya, ada denyut perasaan yang tak ingin ia akui. Ada kebencian. Ada iri. 'Apakah salah kalau aku membenci Kinara?' Pertanyaan itu muncul begitu saja. 'Kenapa… kenapa dia harus kembali? Kenapa saat aku hampir memilikinya, dia muncul lagi?' Tapi kemudian Hana menggeleng pelan. Ia sadar. Bukan sa

