KLEK Suara pintu terbuka menghentikan lamunan Vin seketika. Tubuhnya yang tegap seakan tersentak, jantungnya berdetak lebih cepat dari biasanya. Ia menatap dokter yang berdiri di depan, senyumnya hangat namun penuh arti—dan tiba-tiba semua rasa cemas, ketakutan, dan harapan yang menumpuk dalam dadanya meledak. Bodohnya dia baru saja menyadari betapa rapuhnya ia saat menunggu kabar Kinara. “Ketiganya sudah lahir dengan selamat. Kondisi ibu juga baik. Kami akan memindahkannya ke ruang perawatan,” ucap dokter itu, suaranya menenangkan, namun seakan menyalakan api di hati Vin. Kata-kata itu membuatnya merasa seperti jatuh dari ketinggian yang menakutkan, lalu mendarat di permukaan yang lembut—campuran antara lega dan euforia. Senyum yang tertahan selama berjam-jam akhirnya lepas, dan air ma

